Tintasiyasi.id -- Kemerdekaan suatu bangsa bukan sekadar ditandai dengan berkibarnya bendera atau dikumandangkannya lagu kebangsaan setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika rakyatnya terbebas dari segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan kesengsaraan. Namun yang lebih memilukan daripada penjajahan bangsa asing adalah ketika sebuah bangsa dijajah oleh pemimpinnya sendiri.
Kalimat “Cintai rakyat dan bangsamu, jangan malah kau palaki dan rampok atas nama konstitusi. Ini negara merdeka atau masih terjajah oleh negaranya sendiri?” adalah seruan moral dan jeritan nurani yang perlu direnungkan oleh setiap orang yang memegang kekuasaan maupun oleh kita semua sebagai warga negara.
1. Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Hak Istimewa
Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukanlah hak yang bisa diraih demi kehormatan atau keuntungan pribadi. Kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berlaku bukan hanya untuk presiden, gubernur, atau anggota parlemen, tetapi juga untuk pemimpin di level mana pun: kepala desa, kepala keluarga, bahkan pemimpin di sebuah komunitas kecil. Semakin tinggi jabatan, semakin berat amanahnya.
Allah juga mengingatkan:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil..."
(QS. An-Nisa: 58)
Amanat kekuasaan harus diiringi dengan keadilan. Tidak ada ruang bagi pemimpin yang menggunakan jabatannya untuk merampok hak rakyat, apalagi berlindung di balik legalitas konstitusi yang diselewengkan.
2. Negara Merdeka, Tapi Rakyat Masih Terjajah?
Pertanyaan yang tajam perlu kita ajukan: Apakah kita benar-benar merdeka? Jika rakyat masih miskin sementara pejabat hidup berfoya-foya; jika hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas; jika kekayaan alam lebih banyak dinikmati segelintir orang; bukankah itu bentuk lain dari penjajahan?
Rasulullah ﷺ memberi teladan bahwa seorang pemimpin sejati hidup sederhana dan merasakan penderitaan rakyatnya. Umar bin Khattab ra. bahkan pernah menolak makan enak ketika rakyatnya dilanda kelaparan. Beliau berkata:
“Bagaimana mungkin aku merasa kenyang sementara rakyatku kelaparan?”
Bandingkan dengan sebagian pejabat hari ini yang menghamburkan uang untuk kepentingan pribadi atau kelompok, namun rakyatnya dibiarkan terhimpit kemiskinan. Inilah yang disebut penjajahan oleh negara sendiri, ketika kebijakan dan kekuasaan disalahgunakan untuk kepentingan elit, bukan untuk kesejahteraan rakyat.
3. Kekuasaan yang Zalim Akan Menjadi Beban di Akhirat
Pemimpin yang zalim bukan hanya mengkhianati rakyatnya, tetapi juga menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam murka Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah seorang hamba yang Allah jadikan pemimpin atas rakyat, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga atasnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat tegas: pemimpin yang menipu dan menzalimi rakyatnya diancam tidak akan mencium bau surga. Maka, setiap pejabat seharusnya memiliki kesadaran mendalam bahwa kekuasaan bukanlah kemuliaan, melainkan ujian.
4. Membangun Budaya Kepemimpinan yang Melayani
Solusi dari krisis kepemimpinan bukan sekadar mengganti orang, tetapi membangun budaya kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Pemimpin harus menjadi pelayan rakyat, bukan penguasa yang minta dilayani. Prinsip ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:
"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka."
(HR. Abu Dawud)
Kepemimpinan yang melayani memiliki ciri:
1. Dekat dengan rakyat dan mendengar keluhan mereka.
2. Mengambil kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan umum, bukan kepentingan kelompok.
3. Hidup sederhana dan tidak menumpuk kekayaan haram.
4. Menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
5. Tanggung Jawab Kita Sebagai Rakyat
Seruan moral ini tidak hanya untuk pemimpin, tetapi juga untuk kita semua. Rakyat harus berani bersuara menuntut keadilan, namun dengan cara yang beradab. Rakyat juga harus jujur, tidak ikut-ikutan korupsi di level kecil, tidak membenarkan kezaliman hanya karena fanatisme buta kepada pemimpin tertentu.
Al-Ghazali berkata:
"Kerusakan rakyat karena rusaknya penguasa, dan kerusakan penguasa karena rusaknya ulama. Jika ulama dan pemimpin baik, rakyat pun akan baik."
Ini menunjukkan bahwa perbaikan harus dimulai dari semua lapisan: ulama, pemimpin, dan rakyat.
6. Menghadirkan Spirit Ketakwaan dalam Bernegara
Inti dari semua permasalahan ini adalah kurangnya takwa. Jika seorang pemimpin benar-benar yakin bahwa setiap rupiah yang ia salahgunakan akan dihisab, ia pasti takut berbuat zalim. Allah berfirman:
"Dan bertakwalah kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah: 231)
Negara yang dipimpin dengan takwa akan menjadi negara yang aman, adil, dan makmur, sebagaimana janji Allah:
"Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi."
(QS. Al-A'raf: 96)
Penutup: Merdeka Sejati adalah Merdeka dari Kezaliman
Kita semua merindukan pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya. Pemimpin yang menangis ketika rakyatnya kelaparan, bukan tertawa di atas penderitaan mereka. Pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai ladang amal, bukan ladang korupsi.
Dan kita, sebagai rakyat, harus terus mengingatkan, mengawal, dan berdoa agar negeri ini tidak dijajah oleh bangsanya sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian."
(HR. Muslim)
Semoga Allah menganugerahkan kepada negeri ini pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyat dan bangsanya, bukan memalak dan merampok atas nama konstitusi.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)