Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dari Aparat Menjadi Keparat: Ketika Amanah Berubah Jadi Laknat

Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:17 WIB Last Updated 2025-08-29T12:17:32Z
Tintasiyasi.id -- Pendahuluan

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberadaan aparat adalah sebuah keniscayaan. Mereka adalah tangan negara yang diberi kewenangan untuk menjaga ketertiban, melindungi rakyat, dan menegakkan hukum. Namun, sejarah berulang kali menunjukkan bahwa ketika aparat lupa akan hakikat amanah dan berubah menjadi alat penindasan, mereka tidak lagi pantas disebut aparat, melainkan telah menjelma menjadi keparat. Pada titik inilah laknat Allah turun kepada siapa pun yang menzalimi rakyat.

Amanah Kekuasaan dalam Pandangan Islam

Islam memandang kekuasaan sebagai amanah yang sangat berat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kekuasaan adalah amanah, dan pada hari kiamat kekuasaan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya.”
(HR. Muslim)

Ayat Al-Qur’an juga menegaskan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil...”
(QS. An-Nisa: 58)

Dari Aparat Menjadi Keparat

Kata aparat seharusnya bermakna penjaga rakyat. Namun, ketika ia menindas, mengambil hak rakyat, atau menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, ia tidak lagi pantas disebut aparat, melainkan keparat.

Perubahan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah kenyataan sosial:

Aparat hadir untuk melindungi rakyat.

Keparat hadir untuk menindas rakyat.

Laknat Allah atas Kezaliman

Allah sangat keras peringatan-Nya terhadap orang-orang zalim:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka...”
(QS. Hud: 113)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, aparat yang menindas rakyat sejatinya sedang mengundang doa-doa getir dari rakyat kecil.

Kisah Nyata Tokoh Nusantara: Perlawanan Terhadap Aparat Zalim

1. KH. Hasyim Asy’ari – Sang Penggerak Resolusi Jihad
Pada masa penjajahan, aparat kolonial Belanda sering bertindak zalim terhadap rakyat, menindas ekonomi, dan membatasi kebebasan beragama. KH. Hasyim Asy’ari bangkit menyeru rakyat untuk melawan penindasan tersebut. Melalui fatwa dan pengajarannya, beliau mengingatkan bahwa kezaliman tidak boleh dibiarkan, dan membela tanah air adalah bagian dari iman.

Aparat kolonial yang seharusnya menjaga ketertiban malah menjadi keparat yang menindas. Dari sinilah lahir semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menggerakkan rakyat melawan ketidakadilan.

2. Pangeran Diponegoro – Melawan Kesewenang-wenangan Kolonial
Ketika Belanda melanggar adat dan merampas tanah rakyat, Pangeran Diponegoro melihat itu sebagai kezaliman besar. Padahal aparat kolonial kala itu berperan sebagai penegak hukum. Tetapi hukum justru dipelintir menjadi alat penindasan.

Diponegoro pun bangkit dengan Perang Jawa (1825–1830) yang mengguncang kolonialisme Belanda. Ia mengajarkan bahwa rakyat tidak boleh diam ketika aparat berubah menjadi keparat.

3. Sultan Hasanuddin – Ayam Jantan dari Timur
Di Makassar, Sultan Hasanuddin dikenal sebagai sosok yang pantang tunduk pada kesewenang-wenangan VOC. Aparat VOC memonopoli perdagangan rempah, menindas rakyat, dan menguras kekayaan daerah. Hasanuddin melawan dengan gagah berani, hingga dijuluki Belanda sebagai De Haantjes van het Oosten (Ayam Jantan dari Timur).

Baginya, aparat kolonial yang merampas hak rakyat tidak lagi pantas dihormati, melainkan harus dilawan sebagai keparat penjajah.

Refleksi untuk Kita Semua

Kisah-kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa:

Rakyat yang beriman tidak akan diam terhadap kezaliman.

Aparat yang menindas rakyat akan tumbang oleh doa-doa orang kecil.

Kekuasaan hanya mulia bila digunakan untuk melayani, bukan menindas.

Penutup

Ketika aparat melaksanakan amanah dengan jujur, ia menjadi mulia di sisi Allah dan dicintai rakyatnya. Tetapi ketika aparat berubah menjadi keparat, ia telah menyiapkan laknat di dunia dan azab di akhirat.

Sejarah Nusantara membuktikan: kezaliman aparat tidak pernah langgeng, dan keadilan selalu menemukan jalannya.

Oleh. Dr. Nasrul Faqih Syarif H., M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update