Taatlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian
durhaka kepada-Nya.
Ridalah kalian kepada qada-Nya dan janganlah kalian
menentang-Nya.”
— Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh gemerlap namun
hampa makna, nasihat ini datang bagaikan cahaya penunjuk arah bagi jiwa-jiwa
yang haus akan kedamaian sejati. Tiga pesan agung ini sesungguhnya adalah
intisari dari seluruh perjalanan hidup seorang hamba yang menginginkan
keselamatan dunia dan akhirat: mengenal Allah, taat kepada-Nya, dan rida
terhadap segala keputusan-Nya.
1. Kenallah Kalian kepada Allah – Awal dari Segala
Kebaikan
Makrifatullah atau mengenal Allah adalah inti dari
semua ibadah. Seorang hamba tidak akan bisa mencintai, takut, berharap, atau
bergantung sepenuhnya kepada Allah jika ia tidak mengenal-Nya. Makrifat
bukanlah sekadar pengetahuan intelektual tentang sifat-sifat Allah, tetapi
adalah kesadaran spiritual yang mengakar dalam hati bahwa hanya Allah-lah
satu-satunya yang patut disembah, dicintai, dan ditakuti.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku lebih mengenal Allah daripada kalian dan lebih takut kepada-Nya daripada kalian. (HR Bukhari)
Makrifat menumbuhkan rasa takjub dan tunduk kepada
Allah. Ia menyingkap tirai kelalaian, menghidupkan hati yang mati, dan
menyinari jiwa yang gelap. Orang yang mengenal Allah akan melihat dunia dengan
kacamata akhirat. Ia tahu bahwa rezeki bukan dari pekerjaan, tapi dari Allah;
ia tahu bahwa sakit dan sehat adalah ujian, bukan hukuman; dan ia tahu bahwa
setiap napas adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
2. Taat kepada Allah – Buah dari Makrifat yang Benar
Setelah mengenal Allah, langkah berikutnya adalah
ketaatan. Iman yang benar pasti membuahkan amal. Tidak mungkin seseorang
mengaku mengenal dan mencintai Allah tetapi masih meremehkan perintah-Nya dan
melanggar larangan-Nya. Ketaatan adalah wujud cinta. Ia bukan paksaan, tetapi
kelezatan. Hati yang tunduk kepada Allah akan merasakan kenikmatan dalam sujud,
kedamaian dalam zikir, dan kebebasan dalam beribadah.
Al-Qur’an menegaskan:
Wahai orang-orang yang beriman!
Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya, sedang
kalian mendengar (nasihat-Nya). (QS Al-Anfal: 20)
Tetapi bagaimana jika kita merasa berat untuk taat?
Maka kembalilah ke akar: perbaiki makrifat kita kepada Allah. Beratnya ibadah
bukan karena sulitnya aturan, melainkan karena hati belum benar-benar mengenal
dan mencintai Sang Pemilik perintah.
3. Rida kepada Qada-Nya – Kunci Ketenangan Jiwa
Seseorang bisa mengenal Allah, bisa taat dalam amal,
namun masih merasa gelisah, kecewa, dan marah terhadap takdir. Inilah titik
yang sangat penting: rida kepada qada Allah. Rida berarti menerima dengan
lapang dada segala yang Allah tetapkan, baik yang kita sukai maupun yang kita
benci. Rida adalah tanda bahwa iman telah matang.
Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah pernah berdoa:
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka,
masukkan aku ke dalam neraka. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga,
haramkan aku dari surga. Tapi jika aku menyembah-Mu karena cinta-Mu, jangan Kau
jauhkan aku dari-Mu.”
Rida bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima
hasil dari usaha dengan hati yang tenang. Rida mengubah air mata menjadi
cahaya, luka menjadi doa, dan kegagalan menjadi jalan makrifat.
Penutup: Jalan Kembali ke Hakekat Kehambaan
Nasihat Al-Jailani ini adalah ajakan lembut untuk
kembali ke fitrah kita sebagai hamba:
Mengenal Allah, hidup dalam ketaatan kepada-Nya, dan
menerima segala kehendak-Nya dengan lapang dada.
Ini bukanlah jalan mudah, tetapi inilah satu-satunya
jalan keselamatan dan kebahagiaan hakiki.
🌟 Kenali Allah – agar hatimu tidak gelisah.
🌟 Taatlah kepada-Nya – agar hidupmu tak sia-sia.
🌟 Ridalah terhadap qada-Nya – agar jiwamu bebas dari beban.
Di sinilah letak ketenangan. Di sinilah jalan menuju
surga. Di sinilah jalan para kekasih Allah.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen
Pascasarjana UIT Lirboyo