Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Makrifat, Ketaatan, dan Rida: Jalan para Kekasih Allah

Senin, 14 Juli 2025 | 07:15 WIB Last Updated 2025-07-14T00:16:42Z

Tintasiyasi.ID -- “Kenallah kalian kepada Allah dan janganlah kalian tidak mengetahui-Nya.

Taatlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian durhaka kepada-Nya.

Ridalah kalian kepada qada-Nya dan janganlah kalian menentang-Nya.”

— Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani

 

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh gemerlap namun hampa makna, nasihat ini datang bagaikan cahaya penunjuk arah bagi jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian sejati. Tiga pesan agung ini sesungguhnya adalah intisari dari seluruh perjalanan hidup seorang hamba yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat: mengenal Allah, taat kepada-Nya, dan rida terhadap segala keputusan-Nya.

 

1. Kenallah Kalian kepada Allah – Awal dari Segala Kebaikan

 

Makrifatullah atau mengenal Allah adalah inti dari semua ibadah. Seorang hamba tidak akan bisa mencintai, takut, berharap, atau bergantung sepenuhnya kepada Allah jika ia tidak mengenal-Nya. Makrifat bukanlah sekadar pengetahuan intelektual tentang sifat-sifat Allah, tetapi adalah kesadaran spiritual yang mengakar dalam hati bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang patut disembah, dicintai, dan ditakuti.

 

Rasulullah bersabda:

Aku lebih mengenal Allah daripada kalian dan lebih takut kepada-Nya daripada kalian. (HR Bukhari)

 

Makrifat menumbuhkan rasa takjub dan tunduk kepada Allah. Ia menyingkap tirai kelalaian, menghidupkan hati yang mati, dan menyinari jiwa yang gelap. Orang yang mengenal Allah akan melihat dunia dengan kacamata akhirat. Ia tahu bahwa rezeki bukan dari pekerjaan, tapi dari Allah; ia tahu bahwa sakit dan sehat adalah ujian, bukan hukuman; dan ia tahu bahwa setiap napas adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

 

2. Taat kepada Allah – Buah dari Makrifat yang Benar

 

Setelah mengenal Allah, langkah berikutnya adalah ketaatan. Iman yang benar pasti membuahkan amal. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal dan mencintai Allah tetapi masih meremehkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya. Ketaatan adalah wujud cinta. Ia bukan paksaan, tetapi kelezatan. Hati yang tunduk kepada Allah akan merasakan kenikmatan dalam sujud, kedamaian dalam zikir, dan kebebasan dalam beribadah.

 

Al-Qur’an menegaskan:

 

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya, sedang kalian mendengar (nasihat-Nya). (QS Al-Anfal: 20)

 

Tetapi bagaimana jika kita merasa berat untuk taat? Maka kembalilah ke akar: perbaiki makrifat kita kepada Allah. Beratnya ibadah bukan karena sulitnya aturan, melainkan karena hati belum benar-benar mengenal dan mencintai Sang Pemilik perintah.

 

3. Rida kepada Qada-Nya – Kunci Ketenangan Jiwa

 

Seseorang bisa mengenal Allah, bisa taat dalam amal, namun masih merasa gelisah, kecewa, dan marah terhadap takdir. Inilah titik yang sangat penting: rida kepada qada Allah. Rida berarti menerima dengan lapang dada segala yang Allah tetapkan, baik yang kita sukai maupun yang kita benci. Rida adalah tanda bahwa iman telah matang.

 

Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah pernah berdoa:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, masukkan aku ke dalam neraka. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, haramkan aku dari surga. Tapi jika aku menyembah-Mu karena cinta-Mu, jangan Kau jauhkan aku dari-Mu.”

 

Rida bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima hasil dari usaha dengan hati yang tenang. Rida mengubah air mata menjadi cahaya, luka menjadi doa, dan kegagalan menjadi jalan makrifat.

 

Penutup: Jalan Kembali ke Hakekat Kehambaan

 

Nasihat Al-Jailani ini adalah ajakan lembut untuk kembali ke fitrah kita sebagai hamba:

 

Mengenal Allah, hidup dalam ketaatan kepada-Nya, dan menerima segala kehendak-Nya dengan lapang dada.

 

Ini bukanlah jalan mudah, tetapi inilah satu-satunya jalan keselamatan dan kebahagiaan hakiki.

🌟 Kenali Allah – agar hatimu tidak gelisah.

🌟 Taatlah kepada-Nya – agar hidupmu tak sia-sia.

🌟 Ridalah terhadap qada-Nya – agar jiwamu bebas dari beban.

 

Di sinilah letak ketenangan. Di sinilah jalan menuju surga. Di sinilah jalan para kekasih Allah.

 

 

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

 

Opini

×
Berita Terbaru Update