Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Keutamaan Memuji Allah dan Bentuk-Bentuk Pujian kepada-Nya, Jalan Menuju Hati yang Bersyukur dan Dekat dengan Ilahi

Minggu, 13 Juli 2025 | 05:58 WIB Last Updated 2025-07-12T22:58:45Z

Tintasiyasi.ID-- Pendahuluan: Memuji Allah, Zikir Para Nabi dan Jalan Menuju Kedekatan Ilahi.

Dalam setiap detak jantung, dalam hembusan napas yang lembut, dalam denyut kehidupan yang tidak pernah henti—ada satu kewajiban dan kemuliaan yang sering terlupakan oleh manusia: memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memuji Allah bukan sekadar ritual lisan, tetapi cermin dari kedalaman iman. Ia adalah pengakuan tulus bahwa segala kebaikan, nikmat, dan keindahan berasal hanya dari-Nya. Memuji Allah adalah bagian dari syukur, sekaligus inti dari ibadah.
Para nabi, para wali, dan para hamba yang saleh senantiasa memenuhi waktunya dengan memuji-Nya. Bahkan dalam surga kelak, aktivitas utama para penghuni surga adalah memuji Allah (lihat: QS. Yunus: 10).

1. Keutamaan Memuji Allah: Pintu Cahaya dan Kasih-Nya

a. Allah Memuji Diri-Nya Sendiri
Al-Qur'an dibuka dengan kalimat:
"Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin"
(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.)
(QS. Al-Fatihah: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa memuji Allah adalah ibadah paling utama. Bahkan Allah sendiri memuji Diri-Nya dalam kitab-Nya, dan Dia memerintahkan para hamba-Nya untuk mengikuti-Nya.

b. Pujian Mengundang Rahmat
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka Allah akan memberinya tambahan nikmat." (HR. Ahmad)
Dengan memuji Allah, seseorang akan ditambahkan nikmat dan dijaga dari kelalaian. Karena itu, para salafus shalih menyibukkan diri dengan zikir penuh pujian, karena mereka tahu bahwa di dalamnya ada pintu rahmat dan perlindungan.

c. Pujian adalah Zikir Ahli Surga
Allah berfirman:
“Seruan mereka di dalamnya (surga) ialah: 'Subhanakallahumma’ dan salam penghormatan mereka adalah 'Salam'. Dan penutup doa mereka adalah: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.’”
(QS. Yunus: 10)
Inilah bukti bahwa memuji Allah adalah amalan dunia yang berlanjut di akhirat. Ia adalah bahasa para malaikat, bahasa para nabi, dan bahasa jiwa-jiwa yang tenang.

2. Bentuk-Bentuk Pujian kepada Allah SWT

Berikut adalah bentuk-bentuk pujian kepada Allah yang bersumber dari Al-Qur'an, hadits, dan warisan para ulama:

a. Alhamdulillah (ٱلْـحَـمْـدُ للهِ)
Makna: Segala puji hanya milik Allah.
Ini adalah bentuk pujian paling sempurna dan paling utama. Rasulullah SAW bersabda:
“Ucapan ‘Alhamdulillah’ memenuhi timbangan (pahala).” (HR. Muslim)
Ucapan ini tidak hanya diucapkan saat mendapat nikmat, tapi juga saat ditimpa musibah sebagai bentuk pengakuan bahwa Allah Maha Bijaksana.

b. Subhanallah (سُبْحَانَ ٱللَّٰه)
Makna: Mahasuci Allah dari segala kekurangan.
Ini adalah pujian dalam bentuk pensucian, menafikan segala sifat tercela dari Allah. Pujian ini sering digunakan dalam zikir tasbih dan tahlil.

c. Allahu Akbar (الله أكبر)
Makna: Allah Maha Besar.
Bentuk pujian dalam pengagungan. Ini adalah puncak tauhid—mengakui bahwa tiada yang lebih agung, lebih tinggi, lebih berkuasa daripada-Nya.

d. La Ilaha Illallah (لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰه)
Makna: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Meskipun ini adalah kalimat tauhid, namun ia juga termasuk pujian, karena mengandung penegasan keesaan dan kesempurnaan Allah.

e. Ya Hayyu Ya Qayyum
Makna: Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri.
Ini termasuk pujian dengan nama-nama Allah yang agung (Asmaul Husna), yang membuka pintu ijabah doa.

f. Doa Nabi dan Pujian Para Rasul
Contoh: Doa Nabi Yunus:
“Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minaz-zhaalimiin.”
(Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.)
(QS. Al-Anbiya: 87)

Ini adalah pujian yang disertai pengakuan dosa. Di dalamnya ada harapan dan kepasrahan yang sangat dalam kepada Allah.

3. Hakikat Memuji: Membersihkan Hati dan Menemukan Kedekatan

Memuji Allah adalah ibadah hati sebelum menjadi ibadah lisan. Lisan bisa mengucap "Alhamdulillah", tetapi hati yang lalai tidak akan merasakan maknanya.

Hakikat pujian adalah pengakuan dan penyerahan total kepada Allah:
• Bahwa semua nikmat adalah dari-Nya,
• Bahwa semua ujian adalah bentuk kasih-Nya,
• Dan bahwa semua urusan adalah milik-Nya.

Dengan memuji, hati akan terjaga dari keluh kesah, dan jiwa akan dibersihkan dari kesombongan. Memuji Allah adalah latihan ruhani yang menumbuhkan kerendahan hati, ketenangan, dan rasa syukur yang dalam.

4. Kekuatan Spiritualitas dalam Pujian

Ketika seseorang terbiasa memuji Allah, jiwanya menjadi:
• Kuat dalam menerima takdir
• Ringan dalam menjalani kesulitan
• Bahagia meskipun sedikit memiliki dunia
Pujian adalah bentuk ibadah yang tidak butuh tempat dan waktu tertentu. Ia bisa dilakukan saat:
• Sakit: Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
• Dapat rezeki: Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmush-shalihat.
• Sedang sendiri: Subhanallah wabihamdih, Subhanallahil ‘Azhiim.
• Dalam perjalanan: Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Penutup: Jadikan Pujian sebagai Nafas Kehidupan Ruhani

Jangan hanya memuji Allah di saat senang. Pujilah Allah di setiap keadaan. Pujian kepada Allah adalah jalan menuju ridha-Nya, dan kunci pembuka keberkahan hidup.

Mulailah hari dengan pujian. Tutup malam dengan pujian. Di antara aktivitas dan doa, taburilah hidup dengan tasbih dan tahmid.
Karena sejatinya, diri kita adalah milik Allah, hidup ini adalah karunia-Nya, dan segala puji hanyalah layak untuk-Nya.

Doa dan Renungan

“Ya Allah, jadikan lisan kami senantiasa memuji-Mu, hati kami selalu bersyukur kepada-Mu, dan amal kami menjadi bentuk pengagungan kepada-Mu. Terimalah setiap pujian kami sebagai jalan untuk mendekat kepada-Mu, dan jauhkan kami dari kesombongan dan kelalaian.”

Oleh. Dr Nasrul Syarif M.Si.  (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update