TintaSiyasi.id -- Jelang panen buah zaitun Oktober–November mendatang, buldoser militer Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 dunam (31.000 m²) lahan milik petani Palestina di Kota Beit Rima, barat laut Ramallah. Dampaknya, 400 pohon zaitun hancur.
Di Palestina, pohon zaitun merupakan sumber kehidupan dan penghidupan serta melambangkan ikatan antargenerasi. Pohon yang dirawat oleh kakek dan nenek, ditanam, disirami, dan diberi pupuk dapat terus menghasilkan buah bagi anak dan cucu mereka. Ketika pohon-pohon zaitun itu hilang, bahkan dirusak, yang ikut hilang bukan hanya hasil panennya, tetapi juga sejarah, ekonomi, dan harapan banyak keluarga.
Serangan dan aksi penebangan pohon zaitun yang dilakukan oleh pasukan Israel menyebabkan kerugian besar hingga mencapai Rp5 triliun. Sektor ini menyumbang delapan persen dari PDB Palestina. Kezaliman ini bukan kali ini saja. Tahun 1948 adalah awal penderitaan, lebih dari 750.000 warga Palestina diusir, 500 desa dihancurkan, ribuan nyawa melayang, hingga kini lebih dari lima juta warga hidup sebagai pengungsi.
Penderitaan itu bukan sekadar sejarah, melainkan masih terjadi hari ini di depan mata kita. Rakyat Palestina bukan hanya kehilangan tanah, tetapi juga masa depan keluarga dan hak untuk hidup damai.
Miris, saat panen zaitun, warga justru diusir dari lahannya sendiri. Kekerasan dan penindasan oleh pemukim ilegal Israel terus terjadi. Korbannya bukan hanya petani, jurnalis foto asal Amerika Serikat, Heidi Levine, juga menjadi korban. Ia dirobohkan ke tanah, dilaporkan menderita empat patah tulang belakang, patah tulang rusuk, serta luka yang memerlukan jahitan dan operasi. Kamera dan ponselnya juga dirampas. Para penyerang membakar pohon zaitun dan melempari batu ke arah petani dan jurnalis dengan tangan dan ketapel.
Marco Rubio (Sekretaris Luar Negeri AS) dan Mike Huckabee (Duta Besar AS untuk Israel) menyatakan kekhawatiran. Pihak AS dan diplomat Eropa meminta Israel segera menyelidiki. Uni Eropa mengecam keras aksi serangan terhadap diplomatnya dan petani zaitun, namun kecaman itu tidak pernah diikuti tindakan yang membawa solusi; hanya retorika.
Pola yang sama terus berulang karena kecaman internasional tidak pernah disertai sanksi yang menghentikan penjajahan.
Tidak berhenti di situ, pemukim ilegal berusaha agar tindakannya tidak terekspos dunia luar, sehingga para jurnalis pun menjadi sasaran. Ini sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir seluruh rakyat dunia mengecam kekejaman tersebut, namun tidak ada kekuatan institusi yang berani menyelamatkan rakyat Palestina dari penderitaan puluhan tahun.
Para penguasa Muslim yang seharusnya menyelamatkan Palestina hanya bisa berkata manis dengan janji semu yang tidak berdampak. Bahkan, banyak negara malah menjalin kerja sama dengan pemerintah Israel. Pada 11 Oktober 2026, Presiden Prabowo dan Presiden Mesir Al-Sisi menegaskan solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan damai. Padahal solusi itu berarti mengakui entitas penjajah atas tanah yang dirampasnya, lalu meminta korban berdamai dengan ikhlas dengan perampoknya.
Masalah Palestina bukan hanya urusan Muslim Palestina, melainkan urusan Muslim seluruh dunia. Orang-orang mukmin itu bersaudara, seperti satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan merasakan sakit yang serupa.
Di dalam pandangan Islam, solusi penjajahan adalah dengan mengakhirinya, bukan kompromi tak berujung yang melanggengkan kezaliman. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta jangan pula kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian tahu.” (TQS. Al-Anfal [8]: 27).
Stop berkata, ‘Itu kan urusan Palestina, bukan urusan kita.’ Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan mengalami demam.” (Sahih Muslim No. 2586).
Dalam Islam, ketika negeri kaum Muslim diserang, syariat mewajibkan membelanya dengan jihad. Allah berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 190)
Jihad dalam skala negara butuh satu komando yang menyatukan seluruh kekuatan negeri-negeri Muslim, yaitu Khilafah Islamiyah. Harapan satu-satunya kaum Muslim seluruh dunia hanya dengan kembalinya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah yang menerapkan syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah inilah yang akan mampu menyelesaikan segala krisis dunia, termasuk Palestina. Khilafah pula yang akan membebaskan Palestina dengan jihad serta memberikan perlindungan terhadap jiwa, harta, dan kehormatan rakyat Palestina. Hanya Islam yang memberikan rahmatan lil ‘alamin.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Resi Risnawati
Aktivis Muslimah