Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Membentengi Remaja dari Racun Gaya Hidup Digital

Minggu, 08 November 2026 | 19:31 WIB Last Updated 2026-11-08T12:31:50Z

TintaSiyasi.id -- Sebagai dokter umum yang setiap hari melayani pasien di klinik, sekaligus seorang ibu yang sedang membesarkan anak remaja, kecemasan saya akhir-akhir ini terasa berlipat ganda. Di meja praktik, saya tidak lagi sekadar mengobati penyakit fisik, tetapi di balik setiap itu, saya sering menemukan akar masalah yang jauh lebih dalam, yaitu tekanan mental akibat apa yang anak-anak kita lihat di layar ponsel mereka. Hari ini, anak-anak muda kita dikepung oleh berbagai sudut pandang atau Point of View (PoV) asing yang pelan-pelan merusak kesehatan mental dan mengikis iman yang kita tanamkan di rumah.

Darurat Kesehatan Mental Remaja Kita

Realitas di sekitar kita menunjukkan pola yang nyata. Anak-anak muda zaman sekarang sering kali memilih sudut pandang (PoV) mereka sendiri. Pandangan hidup dan sikap mereka ini sering kali berbeda, bahkan bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh orang tua atau guru di sekolah. Bagi generasi muda, mengikuti sebuah tren PoV dianggap sebagai hal yang sangat penting. 

Sayangnya, hal ini berubah menjadi arus gaya hidup (lifestyle) kelompok yang mengikat, mulai dari pilihan kuliner, tren traveling, budaya healing, hingga cara berpakaian di jagat digital.

Krisis ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan, 1 dari 3 remaja mengalami masalah mental. Sekitar 34,9 persen (setara dengan 15,5 juta remaja) memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. (goodstats.id, 30-10-2024).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka gejala depresi dan kecemasan pada remaja ini hampir 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa. Lebih parah lagi, survei tersebut mencatat 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental, di mana sekitar 5,5 persen (setara dengan 2,45 juta remaja) terdiagnosis mengalami gangguan mental berdasarkan kriteria klinis (DSM-5) dalam 12 bulan terakhir (kemkes.go.id, 27-04-2026).

Jerat Bisnis dan Ledakan Krisis Mental

Sebagai orang tua dan dokter, kita harus jeli melihat fenomena ini. Anak muda sangat gampang terbawa arus dan ikut-ikutan tren yang sedang viral. Media sosial memiliki pengaruh yang luar biasa besar dalam menyebarkan gaya hidup sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) ke dalam pikiran anak-anak kita. 

Mayoritas remaja tumbuh di bawah kendali algoritma media sosial. Standar kesuksesan, gaya hidup, hingga pencapaian pribadi didikte oleh apa yang tengah viral dan mendominasi lini masa. Remaja telah dijadikan target pasar utama oleh sistem ekonomi kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa batas.

Gempuran tren komersial yang masif ini memicu krisis kesehatan mental yang nyata di antaranya: Pertama, krisis identitas. Anak-anak kehilangan jati diri sebagai hamba Allah karena mereka mengukur harga diri hanya dari pujian semu di media sosial, seperti jumlah likes, komentar, dan pengikut.

Kedua, FOMO (fear of missing out). Muncul ketakutan ekstrem tertinggal dari tren, gadget terbaru, atau gaya hidup mewah orang lain, sehingga mereka terobsesi untuk terus meniru apa pun yang sedang viral.

Ketiga, anxiety (kecemasan). Ketidakmampuan untuk mengejar standar fisik dan materi yang dipajang di media sosial akhirnya melahirkan kecemasan kronis, rasa tidak percaya diri (insecurity), hingga depresi yang berujung pada penyakit fisik seperti pusing dan susah tidur.

Akidah Sebagai Benteng Kokoh Keluarga

Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan sekadar mengobati gejala fisiknya di klinik atau memarahi anak. Islam memberikan solusi yang menyeluruh (kaffah) dan mendasar untuk menyelamatkan masa depan dan kesehatan jiwa mereka:

Pertama, mengembalikan tujuan hidup Islami. Islam mengajarkan sudut pandang yang jelas, yaitu menjalani hidup semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan mengejar materi atau kebebasan tanpa batas. Hal ini ditegaskan dalam QS al-An'am ayat 163, "Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." 

Ayat ini mendidik remaja bahwa seluruh hidup, mati, dan identitas diri mereka seutuhnya milik Allah, bukan milik validasi lini masa. Kebahagiaan sejati adalah ketenangan jiwa dalam ketaatan yang secara medis terbukti menjaga emosi manusia tetap stabil.

Kedua, membuka pikiran kritis anak. Remaja Muslim harus disadarkan bahwa tren yang mereka ikuti saat ini bukanlah kebutuhan asli mereka, melainkan diciptakan oleh industri global agar mereka rajin berbelanja dan mengonsumsi produk. Sesuatu yang viral di media sosial sama sekali bukan ukuran kebenaran. Anak-anak kita harus diajari untuk selektif dan waspada.

Ketiga, akidah sebagai pelindung di rumah. Di dalam keluarga, orang tua harus menanamkan akidah Islam sebagai pondasi berpikir anak-anak mereka. Landasan pondasi ini bersandar erat pada pesan luhur Rasulullah Saw., dalam sabdanya: "Aku tinggalkan dua perkara untukmu sekalian, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya (Hadis)" (HR Malik). 

Iman dan ketaatan yang dibangun di atas dua perkara inilah yang akan menjadi imun atau kekebalan alami, melindungi kesehatan jiwa dan pikiran remaja dari pengaruh pergaulan bebas serta tren zaman yang merusak.

Keempat, peran negara dalam menjaga generasi. Secara luas, sistem Islam menempatkan negara sebagai pelindung moral masyarakat. Negara sebagai raa’in (pengurus) tidak akan membiarkan media digital merusak akhlak remaja demi keuntungan bisnis. Sistem pendidikan Islam didesain untuk melahirkan generasi yang berkepribadian mulia, berjiwa tangguh, dan siap membangun peradaban yang mulia.

Kesimpulan

Membentengi anak-anak kita hari ini adalah investasi masa depan. Dengan menjadikan akidah sebagai kompas kehidupan, kita tidak hanya menyelamatkan masa depan mereka, tetapi juga melindungi kesehatan mental mereka agar tumbuh menjadi generasi yang merdeka dari budak materi. 

Kita harus menanamkan pemahaman bahwa kompas hidup seorang Muslim harus berbasis hukum syara', di mana tolok ukur utama dalam setiap perbuatan adalah halal dan haram. Kita juga perlu menyadarkan mereka kembali bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah validasi semu di media sosial, melainkan ketenangan batin atas pencapaian ridha Allah Ta'ala. 

Mari bersama-sama kita dorong perubahan pemikiran pada generasi muda kita, dari yang semula selalu mencari penilaian manusia yang fana, menjadi fokus seutuhnya dalam mengejar pencapaian ridha Ilahi.

Oleh: dr. Defti Putri Perdhani
Dokter Umum, Ibu, dan Praktisi Klinik

Opini

×
Berita Terbaru Update