Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Konser Bocelli, Para Kiai, dan Hasbara Isr*el

Selasa, 03 November 2026 | 03:41 WIB Last Updated 2026-11-02T20:41:15Z


TintaSiyasi.id — Di tengah penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan Israel, konser penyanyi tenor Italia Andrea Bocelli di Indonesia justru berlangsung dengan dukungan sejumlah ulama dan pimpinan pesantren. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah secara resmi menolak konser tersebut dan meminta pemerintah membatalkannya.

 

Konser bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour itu berlangsung pada Sabtu malam (31 Oktober 2026) di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

 

Salah satu tokoh yang diberitakan mendukung konser tersebut adalah KH Muhammad Rofik Muallimin, pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah, Bantul. Ia disebut sebagai koordinator alim ulama dan cendekiawan Muslim yang mendukung penyelenggaraan konser.

 

Persoalannya bukan semata-mata soal boleh atau tidaknya menikmati pertunjukan musik. Ada rekam jejak Bocelli yang patut diperhatikan. Pada 2010, ia pernah tampil dalam acara Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles. Organisasi tersebut menghimpun dana dan dukungan bagi militer Israel (IDF). Bocelli juga pernah menggelar konser di Tel Aviv pada 2022.

 

Penampilannya dalam acara FIDF menjadi salah satu alasan MUI menolak konsernya di Indonesia. MUI menilai rekam jejak tersebut menunjukkan simpati dan dukungan terhadap Israel.

 

Sepatu dan Pencitraan

 

Di sisi lain, pihak promotor mengumumkan program donasi 100 ribu pasang sepatu bagi anak-anak Palestina dan anak-anak di wilayah lain yang terdampak perang. Program ini dikemas sebagai bagian dari pesan kemanusiaan dalam rangkaian konser.

 

Lantas mengapa program kemanusiaan untuk Palestina harus dikemas melalui konser penyanyi yang pernah tampil dalam acara penggalangan dana bagi IDF?

 

Apalagi, Palestina bukan sekadar membutuhkan sepatu, makanan, dan obat-obatan. Rakyatnya membutuhkan pembebasan dari penjajahan.

 

Waspada Hasbara

 

Persoalan ini juga perlu dilihat dalam konteks hasbara. Istilah Ibrani ini merujuk pada diplomasi publik Israel untuk membentuk persepsi dan memperbaiki citranya di mata masyarakat internasional.

 

Upaya tersebut memanfaatkan berbagai saluran, termasuk budaya, akademisi, media, komunitas keagamaan, dan organisasi lintas agama. Karena itu, kegiatan budaya dan kemanusiaan juga dapat berdampak pada citra politik suatu negara. Kehadiran tokoh yang memiliki kewibawaan sosial dan keagamaan dapat ikut membentuk persepsi masyarakat.

 

Jangan sampai kewibawaan ulama menjadi modal pencitraan bagi pihak yang rekam jejak keberpihakannya patut dipersoalkan.

 

Tentu, kita tidak sedang menuduh para kiai yang hadir menjalankan agenda Israel atau menjadi bagian dari operasi hasbara. Tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan demikian. Namun, dampak kehadiran mereka terhadap persepsi publik tetap perlu dicermati. Niat baik tidak otomatis menghapus konsekuensi politik suatu tindakan.

 

Sikap Negara

 

Persoalan ini tidak hanya menyangkut sikap para tokoh yang mendukung konser, tetapi juga tanggung jawab pemerintah. MUI telah menyampaikan penolakan dengan alasan yang jelas, termasuk rekam jejak Bocelli terkait acara penggalangan dana bagi militer Israel. Namun, konser tetap berlangsung. Bahkan, pihak promotor menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas dukungan dan arahan selama persiapan acara.

 

Di sinilah pemerintah patut dikritik. Ketika MUI telah menyampaikan keberatan yang berkaitan langsung dengan solidaritas terhadap Palestina, pemerintah semestinya mempertimbangkannya secara serius. Bagaimana mungkin dukungan terhadap Palestina terus digaungkan, tetapi konser yang dipersoalkan MUI tetap difasilitasi?

 

Jangan sampai solidaritas kepada Palestina hanya lantang dalam pidato, tetapi melemah ketika berhadapan dengan kepentingan pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

 

Allah SWT berfirman:

“Dan mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?” (QS An-Nisa [4]: 75).

 

Ayat ini mengingatkan kaum Muslim tentang kewajiban membela orang-orang tertindas. Pembelaan terhadap Palestina tidak cukup diwujudkan melalui simpati dan bantuan kemanusiaan. Kaum Muslim wajib bersungguh-sungguh berjuang (jihad) sesuai tuntunan syariat, termasuk mengerahkan kekuatan politik untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan rakyat Palestina dari kezaliman.

 

Perjuangan itu membutuhkan kekuatan umat yang terhimpun dalam kepemimpinan politik yang menyatukan kaum Muslim.

 

Khilafah (sistem pemerintahan Islam) merupakan thariqah (metode baku) yang ditetapkan syariat untuk menerapkan Islam secara kaffah dan menjalankan kepemimpinan umum bagi kaum Muslim sedunia.

 

Khilafah yang diperjuangkan adalah Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, yakni sistem pemerintahan Islam yang mengikuti metode kenabian. Dengan kepemimpinan politik yang menyatukan kaum Muslim dalam satu negara, persoalan Palestina tidak lagi dipandang sebagai urusan wilayah tertentu, tetapi sebagai persoalan bersama seluruh umat Islam.

 

Inilah pentingnya Islam sebagai mabda’ (ideologi), yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk politik dan hubungan internasional. Kebijakan negara wajib menjadikan syariat sebagai standar, bukan semata-mata kalkulasi ekonomi, pencitraan, atau diplomasi budaya.

 

Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang perdamaian, tetapi abai terhadap keadilan. Jangan sampai kita bersemangat menyambut tokoh dunia, tetapi kurang peka terhadap penderitaan rakyat Palestina.

 

Palestina bukan hanya membutuhkan simpati. Palestina membutuhkan pembebasan dari penjajahan.[]


Depok, 22 Jumadil Awal 1448 H | 2 November 2026 M
— ๐‰๐จ๐ค๐จ ๐๐ซ๐š๐ฌ๐ž๐ญ๐ฒ๐จ | ๐‰๐ฎ๐ซ๐ง๐š๐ฅ๐ข๐ฌ

 

Opini

×
Berita Terbaru Update