TintaSiyasi.id -- Di era sekarang, sudut pandang bukan lagi sekadar cara memandang sesuatu. Bagi kaum muda, sudut pandang atau PoV justru menjadi bagian penting dari identitas. Apa yang kita yakini, bagaimana kita melihat dunia, semua itu perlahan membentuk cara kita hidup.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI (kemenkes). Imran Pambudi, menyoroti dampak penggunaan media sosial terhadap tingkat kecemasan di kalangan anak muda di Indonesia. Imran menyampaikan bahwa kelompok remaja dan dewasa merupakan mayoritas pengguna layanan internet.
Saat menggunakan media sosial, seseorang cenderung membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial tidak mencerminkan kehidupan seseorang secara utuh. Internet memang dapat mendekatkan yang jauh, namun kerap kali juga menjauhkan yang dekat," ujar Imran, dikutip dari DetikHealth, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sistem kapitalisme. Keuntungan menjadi tujuan utama. Media sosial tidak mencerminkan kenyataan, melainkan menampilkan kehidupan sempurna yang sengaja dibangun agar kita merasa kurang, iri, lalu terdorong membeli sesuatu demi terlihat serupa. Bagi anak muda, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang pamer pencapaian.
Kapitalisme digital memanfaatkan ini dengan sangat cerdik. Ketika sudut pandang kita terbentuk dari apa yang kita lihat di layar, tanpa sadar kita sedang diarahkan untuk mengejar gaya hidup yang justru diciptakan untuk menjaga mesin keuntungan terus berjalan. Akibatnya, kecemasan di kalangan anak muda lahir karena membandingkan dirinya dengan kebahagiaan yang terlihat pada orang lain.
Dalam pandangan Islam, Islam melarang kita memandang hidup hanya dari kemewahan yang terlihat di permukaan, Rasulullah SWT bersabda: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang ada padamu." (HR. Bukhari & Muslim). Membandingkan diri dengan orang lain justru akan menumbuhkan rasa tidak bersyukur, padahal setiap orang memiliki ujian dan rezeki yang berbeda sesuai ketentuan Allah.
Islam menawarkan solusi yang menyeluruh untuk mengarahkan dan menyelamatkan sudut pandang generasi muda agar tidak tersesat dalam arus tren negatif, krisis identitas, maupun tekanan mental. Islam menjawab akar masalah krisis identitas dengan memberikan jawaban mendasar atas tiga pertanyaan mendasar: Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Dan ke mana setelah kita mati?
Tujuan hidup yang jelas diarahkan untuk memahami bahwa PoV tertinggi dalam hidup bukanlah mengejar validasi manusia (likes, views, followers) melainkan mengejar ridha Allah. Islam menanamkan sifat qana'ah (merasa cukup) dan syukur. Sudut pandang inilah yang menjadi benteng bagi kaum muda agar terhindar dari gangguan kesehatan mental akibat terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial.
Selain itu, Islam akan menutup cela peredaran konten-konten yang merusak baik yang merusak moral, akal, maupun tatanan masyarakat. Dalam pandangan sistem Islam, hal ini dijalankan melalui tiga pilar utama: preventif (pendidikan dan pencegahan), regulasi (aturan yang jelas), dan kuratif (sanksi hukum). Ketika seseorang mempunya sudut pandang yang berlandaskan iman, itulah benteng yang paling kuat. Sehingga kaum muda tidak akan mudah merasa kurang, tidak mudah cemas, dan tetap tenang menjalani hidup sesuai dengan jalan yang diridhai Allah.[]
Rosita
Aktivis Muslimah