“Masyarakat majemuk tidak perlu
terjebak dalam dikotomi sempit antara menerima pluralisme teologis atau jatuh
ke dalam jurang intoleransi sosial,” sebut HILIMI di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 031 bertajuk Pluralisme dan Paradoks Kebenaran:
Menghormati Perbedaan tanpa Menghapus Kebenaran.
“Masyarakat tidak harus memilih
antara dua ekstrem pluralisme teologis atau intoleransi sosial, sebab ada
posisi ketiga yang sangat kokoh dalam Islam: meyakini kebenaran akidah sendiri
sambil tetap berlaku adil kepada siapa pun yang berbeda keyakinan,” tutur HILMI
kepada TintaSiyasi.ID.
“Penghormatan terhadap martabat
manusia tidak menuntut kesepakatan terhadap seluruh gagasannya, sebagaimana
martabat yang setara tidak otomatis berarti kebenaran yang setara (equal
dignity does not imply equal truth),” tandas HILMI, Senin (19/10/2026).
HILMI mengingatkan agar publik
tidak mencampuradukkan antara kesetaraan hak hukum warga negara dan relativisme
teologi.
“Setiap warga negara berhak
mendapat perlindungan hukum, keadilan muamalah, dan keamanan tanpa
diskriminasi, namun prinsip keadilan politik itu sama sekali tidak menuntut
bahwa semua klaim keagamaan mereka bernilai sama benarnya di hadapan Allah
Swt.,” keluhnya.
Sebaliknya, HILMI menegaskan
bahwa di dalam ideologi Islam, keyakinan bahwa ajaran Islam adalah satu-satunya
kebenaran hakiki wajib berjalan beriringan dengan kewajiban berbuat adil kepada
kalangan non-Muslim.
“Islam membedakan dengan sangat
tegas antara ketegasan epistemik dalam menjaga akidah dan larangan berbuat
zalim dalam interaksi sosial,” lugasnya.
“Menilai suatu keyakinan lain
keliru secara teologis tidak pernah memberi izin bagi seorang Muslim untuk
menindas penganutnya,” tegasnya.
HILMI memaparkan bahwa sejarah
peradaban Islam di bawah naungan syariat telah membuktikan terwujudnya keadilan
bagi seluruh warga tanpa memaksakan peleburan akidah.
“Piagam Madinah dan perlakuan
para khalifah terhadap kafir zimi adalah bukti empiris bahwa toleransi bermakna
justru tegak di atas pengakuan adanya perbedaan mendasar, bukan kepura-puraan
bahwa semua agama sama,” paparnya.
“Ketika semua gagasan dianggap
sama dan setara, konsep toleransi itu sendiri justru kehilangan maknanya yang
paling berharga,” ulasnya.
Oleh karena itu, HILMI mengajak
umat Muslim memegang teguh identitas akidah Islam secara kaffah di tengah
gempuran hegemoni sekularisme global.
“Penghormatan tertinggi kepada
kemanusiaan adalah memperlakukan manusia cukup rasional untuk berbeda paham, tetapi
cukup beradab untuk hidup berdampingan secara damai di bawah hukum yang adil,”
urai HILMI.
“Hanya dengan memadukan keteguhan
tauhid dan keluhuran syariat, keadilan hakiki dapat dirasakan oleh seluruh umat
manusia tanpa mengorbankan secuil pun kebenaran wahyu Ilahi,” pungkasnya.[] Rere
