Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Konsep Negara Bangsa Tidak Memiliki Legitimasi Rasional yang Mengalahkan Keadilan Universal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:48 WIB Last Updated 2026-10-30T03:48:49Z

TintaSiyasi.id — Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan Ketika merilis Letter to Intellectuals No. 031 bertajuk Nasionalisme & Problem Loyalitas Tertinggi: Ketika Bangsa Menjadi Ukuran Moral & Kebenaran bahwa negara bangsa modern pada hakikatnya merupakan fenomena konstruksi historis-politik yang cair, sehingga tidak memiliki legitimasi rasional untuk menuntut loyalitas mutlak yang mengalahkan keadilan universal.

 

“Kajian sosiologi dan sejarah modern membuktikan bahwa bangsa adalah komunitas yang dibayangkan (imagined community), lahir melalui proses modernisasi, standarisasi bahasa, serta birokrasi negara, bukan entitas sakral yang abadi,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Sesuatu yang diciptakan melalui perjumpaan sejarah dan dinamika kekuasaan tidak berhak menuntut pengorbanan moral tertinggi dari manusia,” tandas HILMI pada Senin (26/10/2026).

 

HILMI mengupas bahaya laten partikularisme dalam pembagian sekat 'kita versus mereka'. “Setiap kali identitas kolektif kebangsaan disakralkan secara berlebihan, selalu timbul risiko laten yang melahirkan chauvinisme, xenofobia, sentimen rasisme, hingga pembenaran agresi terhadap kelompok lain,” jelasnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyinggung peran instrumental nasionalisme di masa lalu yang sempat menyatukan perlawanan rakyat nusantara menghadapi penjajahan kolonial.

 

“Keberhasilan instrumental mengusir penjajah tidak otomatis menjadikan nasionalisme sebagai prinsip permanen dan ideologi tertinggi kehidupan,” lugasnya.

 

“Setelah kolonialisme runtuh, bangsa mestinya diposisikan sekadar sebagai sarana menghadirkan kesejahteraan publik, bukan tujuan akhir yang disembah,” tambahnya.

 

HILMI menilai jika doktrin penentuan nasib sendiri (self-determination) berbasis budaya terus dimutlakkan, dunia akan terseret dalam siklus fragmentasi konflik tanpa akhir. “Setiap etnis yang merasa sebagai bangsa akan menuntut pemisahan wilayah, memicu instabilitas geopolitik yang merugikan rakyat kecil,” paparnya.

 

“Kewajiban khusus merawat warga sekitar tidak boleh menghapus simpati kemanusiaan terhadap penderitaan sesama manusia yang kelaparan atau tertindas di belahan bumi lain,” bebernya.

 

Oleh karena itu, HILMI mendorong penataan ulang paradigma politik modern agar tidak terjebak dalam kultus berhala kebangsaan.

 

“Identitas politik kebangsaan tidak pernah boleh mereduksi nilai keluhuran martabat setiap nyawa manusia di muka bumi,” urai HILMI.

 

“Hanya dengan membongkar fanatisme sempit golongan, manusia dapat hidup berdampingan secara damai di bawah naungan kebenaran hakiki,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update