Kemuliaan Ilmu dan Al-Qur’an Harus Dijaga dengan Keikhlasan
Menjadi ahlul Qur’an, mempelajari ilmu agama, menghafal Al-Qur’an, mengajarkannya kepada manusia, berdakwah, atau beramal di jalan Allah merupakan kemuliaan yang sangat besar.
Namun, di balik kemuliaan tersebut terdapat sebuah ujian yang sangat halus: niat.
Semakin mulia sebuah amal, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaganya dari penyakit hati.
Seseorang dapat membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah, tetapi hatinya mengharapkan pujian.
Seseorang dapat menghafal banyak ayat, tetapi ingin disebut sebagai seorang hafizh.
Seseorang dapat menguasai banyak ilmu, tetapi berharap manusia menyebutnya alim.
Seseorang dapat berdakwah dengan penuh semangat, tetapi diam-diam ingin dikenal sebagai tokoh yang paling berilmu.
Di sinilah bahaya riya.
Riya adalah melakukan amal agar dilihat dan dipuji manusia. Sedangkan sum‘ah berkaitan dengan keinginan agar amal atau kebaikan dirinya didengar dan dibicarakan manusia.
Padahal, Allah tidak hanya melihat bentuk amal. Allah melihat hati dan niat di balik amal tersebut.
1. Tauhid adalah Fondasi Segala Amal
Allah SWT berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh ibadah harus ditujukan kepada Allah semata.
Demikian pula firman-Nya:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Ayat ini mengandung dua prinsip penting:
Pertama, amal harus benar.
Kedua, amal harus ikhlas karena Allah.
Tidak cukup seseorang melakukan amal yang secara lahiriah terlihat baik. Amal tersebut juga harus dibangun di atas niat yang benar.
Karena itu, seorang Ahlul Qur’an harus senantiasa bertanya kepada dirinya:
“Untuk siapa aku membaca Al-Qur’an?”
Seorang penuntut ilmu bertanya:
“Untuk siapa aku belajar?”
Seorang guru bertanya:
“Untuk siapa aku mengajarkan ilmu?”
Seorang dai bertanya:
“Untuk siapa aku berdakwah?”
Dan seorang dermawan bertanya:
“Untuk siapa aku mengeluarkan harta?”
Jawaban yang benar harus kembali kepada satu tujuan:
Untuk mencari ridha Allah SWT.
2. Amal yang Besar Tidak Berarti Selamat dari Riya
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras tentang bahaya amal yang kehilangan keikhlasan.
Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan tentang beberapa golongan yang pada hari kiamat diperlihatkan nikmat Allah yang telah mereka terima.
Di antaranya adalah seseorang yang berjihad, seseorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur’an, dan seseorang yang banyak bersedekah.
Secara lahiriah, ketiganya melakukan amal yang sangat besar.
Namun masalahnya adalah niat.
Orang pertama beramal agar disebut pemberani.
Orang kedua belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim serta membaca Al-Qur’an agar disebut qari.
Orang ketiga bersedekah agar disebut dermawan.
Mereka memperoleh apa yang mereka cari di dunia: pujian manusia.
Tetapi mereka kehilangan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama: ridha Allah.
Hadis ini bukan untuk membuat kita takut beramal, melainkan untuk mengajarkan kepada kita agar memeriksa dan membersihkan niat sebelum, ketika, dan setelah beramal.
3. Ahlul Qur’an Justru Harus Lebih Waspada
Semakin tinggi kedudukan sebuah amal, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keikhlasan.
Orang yang membaca Al-Qur’an mendapatkan kemuliaan.
Orang yang menghafalnya mendapatkan kemuliaan.
Orang yang mengajarkannya mendapatkan kemuliaan.
Orang yang berdakwah dengan Al-Qur’an mendapatkan kemuliaan.
Tetapi semua kemuliaan tersebut tidak boleh berubah menjadi sumber kesombongan.
Jangan sampai:
Al-Qur’an yang seharusnya membuat hati tunduk justru membuat hati merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Jangan sampai:
Ilmu yang seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah justru membuatnya meremehkan orang lain.
Jangan sampai:
Dakwah yang seharusnya mengajak manusia kepada Allah justru menjadi sarana mengajak manusia kepada dirinya sendiri.
Inilah salah satu penyakit yang sangat halus.
4. Ilmu Seharusnya Menambah Khasy-yah kepada Allah
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir [35]: 28)
Ukuran ilmu bukan hanya banyaknya informasi yang dikuasai.
Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khasy-yah, yaitu rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin rendah hatinya.
Semakin banyak ayat yang ia pahami, seharusnya semakin banyak pula rasa takutnya kepada Allah.
Semakin luas ilmunya, seharusnya semakin lembut akhlaknya.
Semakin tinggi kedudukannya, seharusnya semakin kuat ketawadhuannya.
Jika ilmu justru melahirkan kesombongan, gemar merendahkan orang lain, suka mencari pujian, dan merasa paling benar, maka seseorang perlu berhenti sejenak dan melakukan muhasabah terhadap dirinya.
5. Bahaya Mengubah Al-Qur’an Menjadi Jalan Mencari Popularitas
Ahlul Qur’an harus berhati-hati terhadap budaya popularitas.
Di zaman sekarang, amal dapat dengan mudah direkam, difoto, dipublikasikan, dan disebarkan.
Membaca Al-Qur’an dapat ditampilkan di media sosial.
Kajian dapat disiarkan secara langsung.
Kegiatan sosial dapat didokumentasikan.
Prestasi hafalan dapat diumumkan.
Semua itu tidak otomatis salah.
Yang menjadi persoalan adalah apa yang terjadi di dalam hati ketika manusia mengetahui amal tersebut.
Apakah publikasi dilakukan karena maslahat dakwah?
Ataukah hati merasa senang karena mendapatkan perhatian?
Apakah seseorang tetap akan melakukan amal tersebut ketika tidak ada kamera?
Apakah ia tetap belajar ketika tidak ada yang memujinya?
Apakah ia tetap membaca Al-Qur’an ketika tidak ada yang mendengarnya?
Apakah ia tetap bersedekah ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting untuk menjadi bahan muhasabah.
6. Tanda Keikhlasan: Tetap Beramal Ketika Tidak Dilihat Manusia
Salah satu latihan keikhlasan adalah memperbanyak amal tersembunyi.
Bacalah Al-Qur’an ketika tidak ada yang mengetahui.
Berdoalah ketika tidak ada yang melihat.
Bersedekahlah tanpa perlu diketahui banyak orang.
Lakukan kebaikan tanpa menunggu penghargaan.
Belajarlah sekalipun tidak ada yang memuji.
Menangislah karena takut kepada Allah tanpa membutuhkan penonton.
Sebab orang yang benar-benar mengharapkan Allah tidak membutuhkan manusia sebagai saksi utama atas amalnya.
Cukuplah Allah yang mengetahui.
7. Jangan Berhenti Beramal karena Takut Riya
Ada satu kesalahan lain yang perlu diwaspadai.
Sebagian orang takut riya sehingga akhirnya meninggalkan amal.
Ini juga bukan solusi.
Jika seseorang meninggalkan membaca Al-Qur’an karena takut disebut saleh, maka ia justru kehilangan ibadah.
Jika seseorang berhenti berdakwah karena takut dipuji, maka ia kehilangan kesempatan menyampaikan kebaikan.
Jika seseorang berhenti bersedekah karena takut riya, maka ia kehilangan kesempatan membantu sesama.
Yang harus dilakukan bukan meninggalkan amal, tetapi memperbaiki niat dan terus melakukan mujahadah terhadap hati.
Riya adalah penyakit yang harus dilawan, bukan alasan untuk meninggalkan kebaikan.
8. Keikhlasan Harus Dijaga Sebelum, Saat, dan Setelah Amal
Menjaga niat bukan hanya dilakukan sebelum amal.
Ada tiga tahapan penting:
Sebelum amal
Tanyakan:
“Mengapa aku melakukan ini?”
Pastikan orientasinya adalah Allah.
Ketika beramal
Perhatikan hati.
Jika muncul keinginan untuk dipuji, segera kembalikan hati kepada Allah.
Setelah beramal
Jangan merasa bangga terhadap amal.
Jangan sibuk menghitung pujian manusia.
Jangan merasa diri sudah menjadi orang saleh.
Sebaliknya, berdoalah:
“Ya Allah, terimalah amal ini dan jangan Engkau jadikan ia sebab kehancuranku.”
Karena seorang mukmin tidak hanya takut amalnya sedikit.
Ia juga takut amal yang banyak ternyata tidak diterima Allah.
9. Al-Qur’an Harus Membentuk Akhlak
Ahlul Qur’an bukan hanya orang yang banyak membaca Al-Qur’an.
Ahlul Qur’an adalah orang yang berusaha hidup bersama Al-Qur’an.
Jika Al-Qur’an mengajarkan kesabaran, ia belajar menjadi sabar.
Jika Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, ia menjaga kejujuran.
Jika Al-Qur’an mengajarkan kerendahan hati, ia meninggalkan kesombongan.
Jika Al-Qur’an melarang ghibah, ia menjaga lisannya.
Jika Al-Qur’an memerintahkan keadilan, ia berlaku adil.
Jika Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, ia menjadi manusia yang penuh rahmah.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan belajar Al-Qur’an bukan hanya berapa banyak ayat yang mampu dibaca atau dihafalkan, tetapi juga seberapa jauh Al-Qur’an membentuk karakter dan amal kehidupan.
10. Ilmu yang Tidak Diamalkan Menjadi Hujjah atas Pemiliknya
Ilmu adalah amanah.
Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Karena itu, seorang penuntut ilmu tidak boleh menjadikan ilmu sebagai alat untuk:
• mencari popularitas;
• mendapatkan pujian;
• merendahkan orang lain;
• memenangkan perdebatan;
• mengejar kedudukan;
• atau mendapatkan keuntungan duniawi semata.
Ilmu seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.
Ilmu harus melahirkan amal.
Amal harus melahirkan ketakwaan.
Dan ketakwaan harus melahirkan akhlak mulia.
Ilmu → iman → amal → takwa → akhlak.
11. Obat Riya adalah Memperbarui Tauhid dan Keikhlasan
Ketika hati mulai menikmati pujian manusia, segera kembali kepada tauhid.
Ingatlah:
Manusia yang memuji kita tidak menciptakan kita.
Manusia yang mengagumi kita tidak menentukan keselamatan kita.
Manusia yang menyanjung kita tidak memiliki surga dan neraka.
Yang memiliki semuanya adalah Allah SWT.
Maka jangan menukar ridha Allah dengan pujian manusia yang sementara.
Popularitas akan hilang.
Pujian akan berhenti.
Pengikut akan berpisah.
Kedudukan akan berakhir.
Tetapi hubungan seorang hamba dengan Allah akan menentukan perjalanan abadinya.
12. Muhasabah bagi Ahlul Qur’an dan Penuntut Ilmu
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah aku membaca Al-Qur’an ketika tidak ada orang yang melihat?
Apakah aku belajar meskipun tidak mendapatkan pujian?
Apakah aku mengajarkan ilmu karena Allah atau karena ingin disebut alim?
Apakah aku senang ketika orang lain mendapatkan ilmu, meskipun bukan melalui diriku?
Apakah aku mampu menerima koreksi?
Apakah ilmu membuatku semakin tawadhu?
Apakah aku masih beramal ketika tidak mendapatkan apresiasi?
Apakah aku lebih sibuk memperbaiki diriku daripada menilai orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi diri, tetapi untuk membersihkan hati.
PENUTUP
Jangan Sampai Amal yang Mulia Menjadi Sebab Kehancuran
Al-Qur’an adalah kemuliaan.
Ilmu adalah kemuliaan.
Dakwah adalah kemuliaan.
Sedekah adalah kemuliaan.
Jihad dan pengorbanan di jalan Allah adalah kemuliaan.
Tetapi kemuliaan amal harus dijaga dengan tauhid dan ikhlas.
Sebab yang menentukan nilai sebuah amal bukan hanya bentuknya, tetapi juga siapa yang menjadi tujuan amal tersebut.
Jangan sampai kita membaca Al-Qur’an tetapi mencari pujian manusia.
Jangan sampai kita belajar ilmu tetapi mencari gelar dan kedudukan.
Jangan sampai kita berdakwah tetapi mencari popularitas.
Jangan sampai kita bersedekah tetapi menunggu sanjungan.
Jangan sampai kita membangun citra kesalehan di hadapan manusia tetapi kehilangan keikhlasan di hadapan Allah.
Karena itu, marilah kita terus membaca Al-Qur’an, terus belajar, terus berdakwah, terus beramal, dan terus memperbaiki diri—seraya senantiasa memohon kepada Allah agar seluruh amal kita diterima.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya, sum‘ah, ujub, takabbur, dan segala penyakit hati.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an cahaya bagi hati kami, petunjuk bagi kehidupan kami, dan amal kami sebagai jalan untuk mendekat kepada-Mu.
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, hati yang ikhlas, dan kehidupan yang Engkau ridhai.
Jangan Engkau jadikan ilmu, Al-Qur’an, dakwah, dan amal kebaikan kami sebagai jalan mencari pujian manusia. Jadikan semuanya semata-mata untuk mencari ridha-Mu.
اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا ونور صدورنا
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan cahaya bagi dada kami.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
.png)