Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemadaman Karhutla Hadapi Batas Fisika, HILMI: Negara Efektif Fokus Pencegahan Struktural

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:48 WIB Last Updated 2026-10-30T03:48:52Z

TintaSiyasi.id — Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) mengungkapkan bahwa pengerahan armada helikopter pengebom air (water bombing) menghadapi batas kemampuan fisika saat kebakaran hutan dan lahan gambut telah meluas, sehingga negara harus mengubah paradigma dari sekadar mengejar api menuju pencegahan struktural.

 

“Pengerahan armada helikopter pengebom air (water bombing) menghadapi batas kemampuan fisika saat kebakaran hutan dan lahan gambut telah meluas, sehingga negara harus mengubah paradigma dari sekadar mengejar api menuju pencegahan struktural,” ulasnya.

 

“Ketika kebakaran gambut telah meluas hingga ribuan hektare dengan garis perimeter puluhan kilometer, peluang keberhasilan operasi pemadaman turun drastis karena api telah menjalar di bawah permukaan tanah,” tutur HILMI.

 

“Penyemprotan jutaan liter air dari udara hanya meredam bara di permukaan, namun tidak mampu mematikan api yang tersimpan di kedalaman lapisan organik gambut yang mengering,” tandas HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Kamis (22/10/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 032 bertajuk Memadamkan Api, Membongkar Akar: Mengapa Karhutla Tak Cukup Dilawan dengan Helikopter?, HILMI memaparkan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak boleh lagi diukur dari banyaknya helikopter yang terbang atau besarnya anggaran operasi.

 

“Ukuran keberhasilan yang hakiki adalah seberapa luas kebakaran yang berhasil dicegah dan seberapa konsisten tata air gambut dilindungi sebelum musim kemarau tiba,” keluhnya.

 

Sebaliknya, HILMI mendorong pemanfaatan integrasi sains geoinformatika dan pemodelan probabilitas keberhasilan pemadaman (Wildfire Suppression Success Probability atau WSSP) untuk merumuskan dua instrumen penting: peta probabilitas sukses pemadaman dan peta akuntabilitas ekologis.

 

“Sains modern harus dipakai bukan sekadar melacak koordinat titik panas, melainkan membedah mengapa kawasan tertentu terus-menerus terbakar secara berulang,” lugasnya.

 

“Teknologi citra satelit harus dipadukan dengan data perizinan, batas konsesi, dan riwayat tata kelola air agar pengawasan berfokus pada zona risiko spasial tinggi,” ulasnya.

 

HILMI kemudian membeberkan empat pilar transformasi mendasar yang wajib ditempuh pemerintah.

 

Pertama, menjadikan pencegahan sebagai investasi utama melalui restorasi hidrologi gambut, sekat kanal, dan patroli dini masyarakat.

 

Kedua, menerapkan pengawasan ketat berbasis risiko spasial pada wilayah dengan riwayat kebakaran berulang.

 

Ketiga, meminta pertanggungjawaban hukum secara menyeluruh hingga menjangkau entitas pengendali usaha dan pemilik manfaat akhir.

 

Keempat, mengevaluasi anggaran penanggulangan berdasarkan dampak kerusakan sosial-ekologis yang berhasil dicegah, bukan semata-mata besarnya belanja operasi darurat.

 

“Negara yang efektif bukanlah negara yang paling sibuk menyewa armada helikopter setelah hutan hangus terbakar, melainkan negara yang hadir menegakkan aturan dan berhasil mencegah api menyala sejak awal,” urai HILMI.

 

“Menjaga keselamatan nyawa rakyat dan merawat alam adalah amanah kekuasaan yang pertanggungjawabannya mutlak dituntut di hadapan Allah Swt.,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update