Tintasiyasi.id.com -- Di negeri yang menjalankan aturan kapitalisme sekuler ini terjadi banyak hal aneh yang sulit ditangkap akal normal. Meski memiliki sumber tambang tapi harga BBM-nya selalu naik, punya sumber emas tapi rakyatnya kelaparan.
Bahkan keanehan juga terjadi pasca bencana yaitu jumlah korban pengungsi yang meninggal di pengungsian jauh lebih banyak dibandingkan jumlah korban meninggal saat bencana.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti yang dilansir harian Republikanews.co.id,17/9/2026, mencatat ada 94 pengungsi gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan jumlah korban jiwa saat kejadian sebanyak 48 jiwa.
Keterbatasan fasilitas dan minimnya layanan medis darurat di cuaca yang menyengat di siang hari dan begitu dingin ketika malam menjadi penyebab banyaknya jumlah kematian di pengungsian.
Masih dari sumber yang sama menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNBP Berton SP Panjaitan, warga yang meninggal di pengungsian itu adalah kelompok lansia yang telah menderita penyakit komplikasi seperti diabetes melitus dan stroke.
Pemerintahan sekuler kapitalis seperti Indonesia ini tidak akan menganggap warga negaranya sebagai jiwa yang harus dilindungi dan dipenuhi hak dasarnya sebagai manusia. Kedudukan rakyat di mata pemerintah tak lebih hanya sebagai objek sasaran pemilu yang suaranya dibayar murah dengan bansos untuk memenangkannya hingga dia bisa duduk di kursi kekuasaan dan diabaikan begitu saja saat kekuasaan itu sudah di tangannya.
Selain itu rakyat cuma dipandang sebagai subjek pajak semata. Bermacam-macam pajak mengitari siklus harian penduduk negeri ini mulai dari PPn kebutuhan pokok, PPh gaji, PBB, PKB yang objek pajaknya mereka peroleh dengan usaha pribadi tanpa bantuan pemerintah sedikitpun.
Pemerintah Indonesia tidak kreatif menemukan sumber pendapatan negara selain pajak sementara pengelolaan sumber daya alamnya diberikan kepada asing. Bila kehidupan rakyat yang tidak terdampak bencana saja sudah begitu memprihatinkan maka jangan heran bila kehidupan para korban bencana alam itu juga dobel menderita.
Sudah saatnya kita beralih pada sistem pemerintahan yang memposisikan manusia sebagai jiwa yang harus dilindungi kesehatan dan keselamatannya. Tiba saatnya kita menjalankan pemerintahan yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk menjalankan syari'at Allah Swt. yang menata kehidupan ini agar layak bagi keberlangsungan hidup manusia yang diridhoi.
Pemerintahan itu adalah pemerintahan Islam yang berjalan atas petunjuk Allah Swt. yang ada dalam Al Quran dan bimbingan Rasulullah Saw. yang tercantum dalam hadist. Negara Islam memandang bencana sebagai teguran dari Allah Swt.
Atas kemungkaran yang terjadi. Maka mereka akan bahu-membahu meningkatkan ketaatan, merawat korban bencana semaksimal mungkin dengan menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan terbaik.
Selain itu negara juga menjamin kelayakan pengungsian sebagai tempat tinggal sementara agar nyaman ditinggali serta mencukupi kebutuhan pokok mereka sambil terus memperbaiki rumah warga yang terdampak agar bisa ditinggali lagi.
Adapun sumber dana yang digunakan adalah dana darurat yang ada di Baitul Maal. Negara Islam menguasai pengelolaan hasil hutan dan tambang serta sumber daya alam lainnya yang hasil penjualannya disimpan di baitul maal bukan malah diserahkan kepada asing karena telah meminta bantuan mereka dengan menggunakan sumber daya alam sebagai jaminannya.
Negara yang berpegang teguh pada ajaran Islam tidak akan mau terlibat kerja sama dengan negara kafir penjajah untuk menyelesaikan masalah dalam negerinya karena diharamkan oleh Allah Swt. dalam QS Al Mumtahanah ayat 8-9.
Dari kenyataan ini bisa kita simpulkan bahwa isi Al Quran itu bukan cuma bacaan yang terjilid menjadi kitab sakral yang kita baca saat momen Islam atau saat ritual Islam saja. Al Quran adalah petunjuk hidup yang harus kita gunakan untuk menjalani hidup ini.
Patutnya kita sadar bahwa selama posisi Al Quran hanya sebatas bacaan suci tanpa ada pengamalan praktis atas isinya maka kesulitan, himpitan dan kehinaan hidup akan terus dialami umat ini.
Sadarilah bahwa tatanan manusia pernah sehancur ini sebelum Nabi Muhammad Saw diutus karena memang belum ada petunjuk Allah Swt. Lalu ayat-ayat Al Quran pun turun sedikit demi sedikit untuk membimbing manusia lewat perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
Yang dilakukan Nabi Muhammad bukanlah menyimpan wahyu itu sebagai bacaan suci untuk dirinya sendiri tapi langsung disampaikan pada umatnya hingga kemudian mereka praktekkan bersama-sama dalam kehidupan.
Dari praktek atau pengamalan ayat Al Quran itu terbentuklah tatanan kehidupan masyarakat dan bernegara yang mandiri secara ekonomi, kuat secara politik, beradab secara kemanusiaan, dan tinggi secara keilmuan hingga Al Quran turun dengan sempurna.
Hal ini tentu saja mempermudah pemerintahan Islam untuk menarik negara lain agar bergabung ikut serta menjalankan aturan itu. Bahkan saat itu orang-orang Eropa banyak yang belajar dari peradaban Islam ini.
Kemudian kegemilangan itu pelan-pelan redup saat pemudanya mulai melirik budaya Barat yang lebih bebas dan mempengaruhi para senior untuk ikut berkiblat pada Barat.
Mereka mulai memilah dan memilih aturan Allah yang akan mereka jalankan dan yang mereka tinggalkan. Hal ini tentu saja membuat kehidupan bernegara menjadi kacau hingga pada puncaknya mereka sepakat untuk menjalankan aturan Islam yang berkaitan dengan ibadah ritual saja.
Aturan selain itu tetap dibiarkan ada dalam Al Quran tapi yang mereka jalankan sehari-hari adalah aturan warisan Yunani kuno ala Barat dan kehidupan pun semakin gelap gulita karenanya seperti yang kita alami saat ini.
Betapa kecewanya Nabi Muhammad Saw atas kejadian ini. Kegemilangan yang dulu Beliau perjuangkan bersama sahabat dan pejuang Islam lainnya dengan darah serta bertaruh nyawa telah redup bahkan padam total dalam amaliyah kehidupan.
Untuk itu, mari kita bersama-sama menyadarkan umat bahwa kegemilangan itu bisa kita raih kembali, kemuliaan itu bisa kita capai dengan persatuan umat untuk menjalankan semua syari'at Islam dalam kehidupan ini.[]
Oleh: Nurul Lailiya
(Aktivis Muslimah)