“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Ada sebuah pelajaran besar dalam kehidupan yang sering kali baru kita pahami setelah melewati perjalanan panjang:
Tidak semua yang kita inginkan adalah kebaikan, dan tidak semua yang tidak kita inginkan adalah keburukan.
Kita sering meminta kepada Allah berdasarkan apa yang kita lihat.
Allah memilihkan berdasarkan apa yang Allah ketahui.
Kita melihat hari ini.
Allah mengetahui hari esok.
Kita melihat satu kejadian.
Allah mengetahui seluruh rangkaian kehidupan.
Karena itu, seorang mukmin akhirnya sampai pada satu kesadaran:
«“Ya Allah, aku tetap akan berusaha mendapatkan yang terbaik menurutku, tetapi aku lebih percaya kepada apa yang Engkau pilihkan untukku.”»
Inilah salah satu bentuk tertinggi dari tawakal, husnuzan kepada Allah, dan kedewasaan spiritual.
1. QS. MUHAMMAD AYAT 31: HIDUP MEMANG AKAN DIUJI
Allah SWT berfirman:
«وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ»
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan Kami akan menguji keadaan kamu.”
(QS. Muhammad [47]: 31)
Ayat ini dimulai dengan penegasan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu.”
Perhatikan.
Allah tidak mengatakan:
“Kami mungkin menguji kamu.”
Tetapi:
“Kami benar-benar akan menguji kamu.”
Artinya, ujian merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia.
Selama kita masih hidup, kita akan berhadapan dengan berbagai bentuk ujian.
Ada yang diuji dengan kemiskinan.
Ada yang diuji dengan kekayaan.
Ada yang diuji dengan kehilangan.
Ada yang diuji dengan kesuksesan.
Ada yang diuji dengan sakit.
Ada yang diuji dengan kesehatan.
Ada yang diuji dengan kesendirian.
Ada pula yang diuji dengan popularitas dan banyaknya manusia di sekelilingnya.
Tidak ada manusia yang bebas dari ujian.
Yang berbeda hanyalah bentuk ujiannya.
2. UJIAN TIDAK SELALU BERBENTUK KESULITAN
Ini penting untuk direnungkan.
Kita sering mengira ujian adalah:
- kehilangan pekerjaan,
- sakit,
- kegagalan,
- kemiskinan,
- kehilangan orang yang dicintai.
Padahal kesenangan juga ujian.
Allah berfirman:
«وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً»
“Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya' [21]: 35)
Jadi:
Kesulitan adalah ujian.
Kemudahan juga ujian.
Kemiskinan menguji kesabaran.
Kekayaan menguji kesyukuran.
Kegagalan menguji keteguhan.
Kesuksesan menguji kerendahan hati.
Kekuasaan menguji keadilan.
Keterbatasan menguji penerimaan.
Kelebihan menguji tanggung jawab.
Karena itu jangan bertanya:
«“Mengapa hidup saya diuji?”»
Sebab pertanyaan yang lebih tepat adalah:
«“Apa yang sedang Allah bentuk dalam diriku melalui ujian ini?”»
---
3. ALLAH TIDAK SEDANG MENGHANCURKAN KITA
Kadang kita salah membaca takdir.
Ketika sesuatu yang kita cintai pergi, kita merasa Allah sedang menghukum.
Ketika cita-cita tidak tercapai, kita merasa Allah tidak menyayangi.
Ketika doa belum terkabul, kita merasa Allah tidak mendengar.
Padahal bisa jadi:
Allah sedang mendidik kita.
Seorang anak kecil mungkin menangis ketika orang tuanya tidak memberikan sesuatu yang dia inginkan.
Anak itu belum memahami bahayanya.
Demikian pula manusia.
Kita sering menangis karena Allah tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan.
Padahal Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Allah berfirman:
«وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Inilah fondasi spiritual yang sangat penting:
Keterbatasan pengetahuan manusia harus melahirkan kepercayaan kepada Allah.
4. KITA MELIHAT POTONGAN, ALLAH MELIHAT KESELURUHAN
Bayangkan seseorang sedang melihat satu halaman dari sebuah buku.
Ia berkata:
«“Cerita ini buruk!”»
Padahal ia baru membaca satu halaman.
Allah mengetahui seluruh buku kehidupan kita.
Kita hanya mengetahui:
kemarin, hari ini, dan sedikit tentang besok.
Allah mengetahui:
masa lalu, masa kini, masa depan, bahkan akibat dari pilihan-pilihan yang belum kita ambil.
Maka ketika Allah memilihkan sesuatu yang berbeda dari keinginan kita, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang memberikan keburukan.
Bisa jadi:
kita sedang berada di tengah-tengah cerita yang belum selesai.
5. “KEBAIKAN ADALAH APA YANG ALLAH PILIHKAN” — APA MAKSUDNYA?
Ungkapan ini bukan berarti manusia tidak perlu memilih atau berikhtiar.
Islam justru mengajarkan:
pilih, ikhtiar, berdoa, bermusyawarah, kemudian bertawakal.
Kita tidak boleh malas dengan alasan:
«“Kalau sudah takdir, untuk apa berusaha?”»
Itu bukan tawakal.
Tawakal adalah:
mengoptimalkan ikhtiar manusia sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Kita memilih pasangan.
Kita memilih pekerjaan.
Kita memilih pendidikan.
Kita memilih bisnis.
Kita memilih lingkungan.
Kita memilih jalan hidup.
Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, kita harus menyadari:
«“Ya Allah, aku memilih dengan keterbatasan pengetahuanku. Engkau memilih dengan ilmu-Mu yang sempurna.”»
Di situlah lahir tawakal.
---
6. QS. MUHAMMAD AYAT 31: UJIAN MENYINGKAP KUALITAS MANUSIA
Allah melanjutkan:
«حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ»
“Sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.”
Bukan berarti Allah sebelumnya tidak mengetahui.
Allah Maha Mengetahui.
Maksudnya, melalui ujian, kualitas seseorang menjadi nyata dalam kehidupan dan amalnya.
Seseorang mungkin berkata:
«“Saya orang sabar.”»
Tetapi kesabaran itu baru tampak ketika ia kehilangan.
Seseorang berkata:
«“Saya bertawakal kepada Allah.”»
Tawakal itu tampak ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Seseorang berkata:
«“Saya mencintai Allah.”»
Cinta itu diuji ketika ketaatan bertentangan dengan hawa nafsu.
Karena itu ujian bukan hanya menguji kita.
Ujian memperlihatkan siapa kita sebenarnya.
7. MUJAHADAH: PERANG TERBESAR ADALAH MENUNDUKKAN HAWA NAFSU
Allah menyebut:
الْمُجَاهِدِينَ
orang-orang yang bersungguh-sungguh.
Perjuangan terbesar seorang mukmin bukan hanya menghadapi persoalan di luar dirinya.
Tetapi menghadapi dirinya sendiri.
Melawan:
- malas beribadah,
- mudah marah,
- iri hati,
- cinta dunia berlebihan,
- sombong,
- dendam,
- keinginan dipuji,
- takut kehilangan kedudukan,
- dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
Kadang musuh terbesar bukan orang lain.
Musuh terbesar adalah ego yang bersemayam di dalam diri.
Karena itu kemenangan terbesar bukan ketika kita mampu mengalahkan orang lain.
Tetapi ketika kita mampu mengatakan:
«“Tidak!”»
kepada hawa nafsu yang mengajak kita menjauh dari Allah.
8. SABAR BUKAN BERARTI DIAM
Allah menyebut:
وَالصَّابِرِينَ
orang-orang yang bersabar.
Sabar sering disalahpahami sebagai pasrah tanpa usaha.
Padahal sabar adalah:
tetap berada di jalan yang benar meskipun jalan itu berat.
Sabar untuk taat.
Sabar meninggalkan maksiat.
Sabar menghadapi musibah.
Sabar menjalani proses.
Sabar menghadapi manusia.
Sabar membangun keluarga.
Sabar mendidik anak.
Sabar membangun usaha.
Sabar menuntut ilmu.
Sabar berdakwah.
Sabar menunggu pertolongan Allah.
Jadi:
«Sabar bukan berhenti berjalan. Sabar adalah tetap berjalan tanpa meninggalkan Allah.»
9. JANGAN MENILAI TAKDIR DARI RASA SAKIT SESAAT
Ada sesuatu yang menyakitkan hari ini.
Kita berkata:
«“Ini buruk.”»
Padahal kita belum tahu akibat akhirnya.
Ada sesuatu yang menyenangkan hari ini.
Kita berkata:
«“Ini pasti baik.”»
Padahal kita juga belum tahu akibat akhirnya.
Maka seorang mukmin belajar membedakan:
apa yang terasa baik
dan
apa yang benar-benar baik.
Keduanya tidak selalu sama.
Sesuatu bisa terasa pahit tetapi menghasilkan kesehatan.
Sesuatu bisa terasa manis tetapi menghasilkan penyakit.
Demikian pula dalam kehidupan spiritual.
Ada keputusan yang pahit sekarang tetapi menyelamatkan masa depan.
Ada kenikmatan yang menyenangkan sekarang tetapi merusak akhirat.
Maka ukuran kebaikan seorang mukmin bukan sekadar:
«“Apakah ini menyenangkan?”»
Tetapi:
«“Apakah ini mendekatkanku kepada Allah?”»
10. KETIKA DOA BELUM TERKABUL
Ini salah satu ujian terbesar manusia.
Kita berdoa.
Kita berharap.
Kita menunggu.
Tetapi jawaban belum datang.
Jangan buru-buru menyimpulkan:
«“Allah tidak mengabulkan doaku.”»
Bisa jadi Allah mengabulkan dalam bentuk yang berbeda.
Bisa jadi Allah menundanya.
Bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Bisa jadi Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Maka doa bukan hanya tentang:
“Ya Allah, berikan apa yang aku minta.”
Tetapi juga:
“Ya Allah, berikan apa yang terbaik menurut ilmu-Mu.”
11. RIDHA BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH MENANGIS
Ada orang yang salah memahami ridha.
Seolah-olah orang yang ridha tidak boleh sedih.
Tidak demikian.
Nabi Ya'qub AS menangis karena kehilangan Yusuf.
Nabi Muhammad ﷺ juga bersedih ketika kehilangan orang-orang yang beliau cintai.
Sedih adalah manusiawi.
Menangis adalah manusiawi.
Yang harus dijaga adalah:
jangan sampai kesedihan membuat kita berburuk sangka kepada Allah.
Kita boleh menangis.
Tetapi tetap berkata:
«“Ya Allah, aku tidak memahami takdir-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.”»
Inilah iman yang matang.
12. ADA PERBEDAAN ANTARA MENERIMA TAKDIR DAN MENYERAH
Menerima takdir bukan berarti:
«“Saya tidak perlu melakukan apa-apa.”»
Justru orang yang memahami takdir akan semakin serius berikhtiar.
Ia bekerja.
Ia belajar.
Ia berobat.
Ia memperbaiki hubungan.
Ia membangun usaha.
Ia berdakwah.
Ia mendidik anak.
Ia berdoa.
Tetapi setelah itu ia berkata:
«“Ya Allah, aku sudah melakukan bagian yang mampu kulakukan. Sekarang aku serahkan hasilnya kepada-Mu.”»
Inilah keseimbangan:
Ikhtiar tanpa tawakal melahirkan kecemasan.
Tawakal tanpa ikhtiar melahirkan kemalasan.
Ikhtiar yang disertai tawakal melahirkan ketenangan.
13. BELAJAR MENGATAKAN: “MUNGKIN INI YANG TERBAIK”
Ada kalimat sederhana tetapi sangat dalam:
«“Mungkin ini yang terbaik.”»
Ketika bisnis gagal:
“Mungkin ini yang terbaik.”
Ketika seseorang pergi:
“Mungkin ini yang terbaik.”
Ketika rencana tertunda:
“Mungkin ini yang terbaik.”
Ketika jalan yang kita inginkan tertutup:
“Mungkin Allah sedang membuka jalan lain.”
Bukan berarti kita berhenti berusaha.
Tetapi kita berhenti memaksa Allah mengikuti skenario kita.
Karena terkadang:
kita terlalu sibuk meminta Allah memberkati rencana kita, padahal Allah sedang mengajak kita masuk ke dalam rencana-Nya.
14. UJIAN MEMILIKI “PESAN”
Setiap ujian seharusnya melahirkan pertanyaan reflektif:
Ketika kehilangan:
Apa yang Allah ingin aku pelajari tentang ketergantungan?
Ketika gagal:
Apa yang harus aku perbaiki?
Ketika berhasil:
Apakah aku semakin rendah hati?
Ketika kaya:
Apakah hartaku semakin mendekatkanku kepada Allah?
Ketika miskin:
Apakah aku tetap percaya kepada Allah?
Ketika sakit:
Apakah aku semakin dekat kepada-Nya?
Ketika dihina:
Apakah aku mampu menahan ego?
Ketika dipuji:
Apakah aku mampu menjaga keikhlasan?
Inilah cara seorang mukmin membaca kehidupan.
Bukan hanya membaca peristiwa, tetapi membaca pesan Allah di balik peristiwa.
15. JANGAN MEMBANDINGKAN TAKDIRMU DENGAN TAKDIR ORANG LAIN
Salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia adalah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
«“Mengapa dia sukses lebih dahulu?”»
«“Mengapa dia lebih kaya?”»
«“Mengapa keluarganya lebih bahagia?”»
«“Mengapa hidupnya lebih mudah?”»
Kita lupa:
Allah memberikan jalan yang berbeda kepada setiap manusia.
Tidak semua orang harus memiliki perjalanan yang sama.
Ada orang yang diuji melalui kekurangan.
Ada yang diuji melalui kelebihan.
Ada yang jalannya cepat.
Ada yang jalannya lambat.
Yang penting bukan siapa yang paling cepat.
Tetapi:
«Siapa yang paling selamat sampai kepada Allah.»
16. KEBERHASILAN SEJATI BUKAN MENDAPATKAN SEMUA YANG KITA INGINKAN
Jika ukuran keberhasilan adalah mendapatkan semua yang kita inginkan, maka hampir semua manusia akan kecewa.
Tetapi jika ukuran keberhasilan adalah:
menjalani apa yang Allah kehendaki dengan iman, ikhtiar, sabar, dan tawakal,
maka kehidupan menjadi jauh lebih bermakna.
Kita tidak lagi berkata:
«“Aku gagal karena tidak mendapatkan yang kuinginkan.”»
Tetapi:
«“Aku berhasil jika dalam proses ini aku semakin dekat kepada Allah.”»
Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
17. BELAJAR MENCINTAI PILIHAN ALLAH
Tingkat spiritual yang lebih tinggi adalah ketika seseorang tidak hanya menerima takdir Allah.
Ia mulai mencintai apa yang Allah pilihkan, karena ia percaya kepada kebijaksanaan Allah.
Bukan berarti semua peristiwa terasa menyenangkan.
Tetapi hatinya memiliki keyakinan:
«“Allah tidak pernah salah memilih.”»
Aku mungkin tidak memahami.
Aku mungkin menangis.
Aku mungkin merasa berat.
Tetapi aku percaya:
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Bijaksana.
Allah Maha Penyayang.
Dan keyakinan itu membuat hati tetap berdiri.
18. REFLEKSI: BAGAIMANA JIKA YANG KITA SEBUT “MASALAH” SEBENARNYA ADALAH “PENDIDIKAN ALLAH”?
Mari kita renungkan.
Mungkin kegagalan sedang mengajarkan kerendahan hati.
Mungkin kehilangan sedang mengajarkan ketergantungan kepada Allah.
Mungkin keterlambatan sedang mengajarkan kesabaran.
Mungkin kesulitan sedang membangun kekuatan.
Mungkin kesendirian sedang mengajarkan kedekatan dengan Allah.
Mungkin pintu yang tertutup sedang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.
Mungkin Allah sedang mengurangi sesuatu dari kehidupan kita agar hati kita memiliki ruang untuk menerima sesuatu yang lebih baik.
Maka jangan hanya bertanya:
«“Mengapa ini terjadi kepadaku?”»
Tanyakan juga:
«“Apa yang Allah ingin tumbuhkan dalam diriku melalui semua ini?”»
19. DOA SEORANG HAMBA YANG MULAI DEWASA SECARA SPIRITUAL
Ya Allah...
Jika yang kuinginkan baik menurut-Mu, dekatkanlah.
Jika yang kuinginkan buruk menurut-Mu, jauhkanlah.
Jika sesuatu yang kuharapkan ternyata tidak baik untukku, berilah aku kekuatan untuk melepaskannya.
Jika jalan yang kupilih ternyata bukan jalan terbaik, arahkanlah aku kepada jalan-Mu.
Jika takdir-Mu terasa berat, kuatkanlah hatiku.
Jika aku gagal, ajarkan aku hikmahnya.
Jika aku berhasil, selamatkan aku dari kesombongan.
Jika aku kehilangan, jangan biarkan aku kehilangan-Mu.
Jika aku mendapatkan kenikmatan, jangan biarkan kenikmatan itu menjauhkan aku dari-Mu.
Dan jika Engkau memilihkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanku, ajarkan aku untuk berkata:
«“Aku percaya kepada-Mu, ya Allah. Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku.”»
PENUTUP: ALLAH TAHU, KITA TIDAK TAHU
QS. Muhammad ayat 31 mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan ujian.
Kita akan diuji.
Kita akan jatuh.
Kita akan bangkit.
Kita akan kehilangan.
Kita akan mendapatkan.
Kita akan kecewa.
Kita akan berharap.
Dan di antara semua perjalanan itu, Allah sedang membentuk kita.
Karena itu jangan takut terhadap ujian.
Takutlah jika ujian datang tetapi kita tidak menjadi lebih dekat kepada Allah.
Jangan hanya meminta kehidupan yang mudah.
Mintalah hati yang kuat.
Jangan hanya meminta jalan yang lapang.
Mintalah kaki yang tetap teguh di jalan Allah.
Jangan hanya meminta Allah mengubah keadaan.
Mintalah Allah mengubah diri kita agar mampu mengambil hikmah dari setiap keadaan.
Sebab boleh jadi:
yang kita anggap kehilangan adalah penyelamatan,
yang kita anggap kegagalan adalah pengarahan,
yang kita anggap penundaan adalah persiapan,
yang kita anggap kesulitan adalah pendidikan,
dan yang kita anggap ujian adalah jalan menuju kedewasaan iman.
Pada akhirnya, seorang hamba akan sampai pada satu kesadaran:
«“Aku tidak harus memahami semua keputusan Allah untuk bisa mempercayai Allah.”»
Dan ketika hati telah sampai pada titik itu, lahirlah ketenangan.
Aku berikhtiar karena Allah memerintahkanku.
Aku berdoa karena Allah Maha Mendengar.
Aku bersabar karena Allah menjanjikan pahala.
Aku bertawakal karena Allah Maha Mengetahui.
Dan aku ridha karena aku percaya:
apa yang Allah pilihkan untukku tidak pernah sia-sia.
Kebaikan sejati bukan selalu apa yang kita pilih.
Kebaikan sejati adalah ketika pilihan kita, ikhtiar kita, dan akhirnya takdir Allah membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
.png)