Pertama, Islam sebagai
ideologi yang menjadi landasan kukuh dalam mengatur kehidupan manusia secara
menyeluruh.
"Islam itu sebagai ideologi,
itu adalah satu landasan kekuatan yang teguh, yang kukuh. Islam bukan hanya
agama ritual semata-mata, tetapi menjadi sistem kehidupan yang sempurna,
maksudnya dapat mengatur segala aspek kehidupan," katanya, Sabtu
(17/10/2026).
"Ketika adanya kekhilafahan,
umat Islam dalam keadaan terbela dan sejahtera disebabkan mengambil Islam itu
sebagai ideologi yang sempurna, mengambil Islam secara kaffah," imbuhnya.
Kedua, ukhuwah islamiah
atau kesatuan umat yang masih belum dimanfaatkan sepenuhnya akibat ikatan
negara-bangsa dan nasionalisme.
"Itulah yang menjadi
permasalahan sekarang. Umat Islam ini sangat sulit untuk bersatu. Masing-masing
menjaga negara masing-masing tanpa menghiraukan saudara seakidah di tempat
lain. Padahal itu adalah potensi yang sangat besar, ukhuwah itu harus
diwujudkan," tegasnya.
Ketiga, jumlah populasi Muslim
yang besar. “Satu lagi adalah sumber daya manusia ataupun populasi Muslim ini
sangat banyak. Banyak yang dapat dimanfaatkan daripada tenaga kerja produktif
untuk kepentingan kaum Muslimin," jelasnya.
Keempat, kedudukan
geopolitik negara-negara Muslim yang mencakup jalur maritim dan kawasan
strategis yang menjadi tumpuan perdagangan dunia.
"Geopolitik yang menguasai
jantung dunia. Selat-selat, terusan, tempat-tempat jalur maritim, tempat
strategis dan juga jalur yang menjadi tumpuan semua orang, dan sebenarnya kalau
umat Islam dapat menguasainya, maka itu memberikan manfaat yang besar kepada
kaum Muslimin," katanya.
Kelima, sumber daya alam (SDA)
yang dapat membantu negara-negara Muslim mencapai kemandirian.
"SDA juga potensi yang ada
pada kaum Muslim yang dapat menyebabkan kaum Muslim ini dapat mandiri dari segi
ekonomi, kekuasaan. Kita dapat membuat sendiri semuanya, contoh pasokan
makanan. Maksudnya, dapat tidak bergantung kepada dunia luar ataupun kepada
penjajah ataupun kepada Barat," ujarnya.
Ia mencontohkan pentingnya
kemandirian dengan melihat situasi Iran. "Iran pernah menghadapi sanksi
ekonomi daripada AS. Tetapi disebabkan mereka ini berusaha untuk berdiri
sendiri. Maksudnya, ketika ada sanksi, ia masih dapat hidup," ulasnya.
Seterusnya, ia mengajak peserta
berpikir, seandainya Iran bergantung sepenuhnya pada negara luar, hal itu akan
menjadi permasalahan besar baginya ketika menghadapi perlawanan dengan AS.
Keenam, faktor kekuatan
militer. “Kekuatan militer gabungan, negara-negara kaum Muslim ini kalau
sekarang kita lihat memang memiliki kekuatan dari segi militer, Mesir, Iran
sendiri, Pakistan dan beberapa negara lain juga yang memang memiliki kekuatan,
namun tidak disatukan sebagai kekuatan bersama," sebutnya menyayangkan.
Bagaimanapun, Farisha menegaskan
bahwa keberadaan semua potensi itu belum mencukupi sekiranya umat Islam terus
terpecah dan kekuatan tersebut tidak dimanfaatkan secara bersama.
"Jadi inilah yang sepatutnya
kita lakukan, umat Islam lakukan, yaitu kekuatan umat Islam itu mesti
dikembalikan sebab memang sudah ada. Kekuatan itu sudah ada tetapi tidak
dimanfaatkan," tegasnya.[] Aliya Ab Aziz
