“Islam memelihara hubungan
manusia dengan Allah Swt., serta memelihara kesucian nama-Nya, serta memastikan
setiap sumpah dan ucapan itu tidak menjadi sebab terhalangnya kebaikan,
rusaknya hubungan antarmanusia ataupun terjadinya kezaliman dalam institusi
keluarga,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa
Islam mengajarkan manusia agar menjadi orang yang bertakwa dengan mengembalikan
setiap perselisihan kepada panduan Allah dan Rasul.
“Jadi, Al-Qur’an membimbing
manusia agar setiap tindakan kita dilakukan atas dasar ketakwaan. Kembalikan
kepada Allah, bukan dipandu oleh hawa nafsu ataupun kepentingan pribadi,”
katanya ketika mengupas Surah al-Baqarah ayat 224 hingga 227 dalam program Siri
Tadabbur Ayat Al-Quran Pilihan bertajuk Indahnya Hidup Bersyariat -
Sumpah Bukan Mainan, pada Sabtu (19/9/2026) di kanal YouTube Fikratul
Ummah.
Ia menjelaskan, terdapat tiga
perkara yang tidak boleh dihalangi oleh sumpah, yaitu melakukan kebaikan (al-birr),
ketakwaan kepada Allah, dan upaya mendamaikan hubungan antarmanusia.
“Semua kebaikan itu harus kita
utamakan daripada mempertahankan sumpah yang terlanjur diucapkan tadi,”
katanya.
Menurutnya, seseorang juga perlu
mendahulukan perintah Allah dan meninggalkan perkara yang dilarang meskipun
terdapat sumpah yang pernah diucapkan.
“Jangan bersumpah mengatakan, Allah
melarang minum arak tetapi dia bersumpah, ‘Sumpah aku mau minum arak.’ Tidak
boleh begitu. Hal yang dilarang itu harus ditinggalkan,” tegasnya.
Ia turut mengingatkan umat Islam
agar tidak mengucapkan sesuatu secara sembarangan karena setiap ucapan akan
dipertanggungjawabkan.
“Kita harus bertanggung jawab
atas setiap apa yang kita ucapkan dengan lisan kita. Tidak boleh seenaknya mengucapkan
kata-kata begitu saja. Itulah yang ingin dikatakan, anak Adam itu tidak
tergelincir, akan diperhitungkan hisabnya. Sekecil apa pun akan diperhitungkan,
apalagi apa yang keluar dari mulutnya,” ujarnya mengingatkan.
Husna turut menjelaskan bahwa
Allah membedakan antara sumpah yang diucapkan tanpa sengaja dengan sumpah yang
benar-benar lahir dari niat seseorang.
Selanjutnya, ia menguraikan Surah
al-Baqarah ayat 225, “Allah tidak akan menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah
kamu yang tidak disengaja, yakni yang laghw, tetapi Dia menghukum kamu
disebabkan apa yang diusahakan oleh hati-hati kamu.”
Menurutnya, Islam
mempertimbangkan niat seseorang dalam menilai sumpah yang diucapkan. Oleh
karena itu, kesadaran bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui seharusnya
mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati ketika mengucapkan sumpah karena
Islam sangat memuliakan nama-Nya.
Ia menekankan, “Islam sangat
memuliakan nama Allah sehingga sumpah dengan nama Allah jangan dipermainkan.”
Selanjutnya, ia mengingatkan
bahwa sumpah tetap tunduk pada hukum syariat dan tidak boleh dipertahankan
apabila menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau kebaikan.
“Islam tidak mengajarkan
seseorang berpegang pada sumpah secara membabi buta. Ada ajaran yang dijelaskan
dalam Islam. Nilai sumpah itu merupakan sesuatu yang dinilai dan tunduk kepada
hukum syariat,” katanya.
