TintaSiyasi.id -- Tata kelola kehidupan sekuler kapitalistik yang menghilangkan peran agama dalam mengatur kehidupan menjadikan aturan-aturan hidup lahir dari manusia yang terbatas dan menimbulkan kekacauan serta kerusakan massal. Produksi nilai-nilai dan standar dalam peradaban sekuler ini yang menuhankan materi, hawa nafsu, dan kebebasan berpikir menjadikan manusia gagal memaknai identitas hakikinya sebagai hamba Allah yang harus terikat dengan syariat-Nya, gagal pula dalam memaknai tujuan hidup yang benar yakni untuk beribadah kepada-Nya, gagal dalam memaknai produktif yang benar dalam menjalani kehidupan.
Standar kebahagiaan dan sukses ala sekuler kapitalis yang menjadikan materi sebagai tumpuan atau standar nilai, menciptakan manusia-manusia menjalani hidup hanya berfokus mengejar uang, bekerja, mengejar karir dengan target mencapai materi sebanyak-banyaknya, cara pandang ini yang akhirnya membuat hidup terasa selalu gagal dan membuat lelah. Belum lagi dalam liberalisme ekonomi hari ini meniscayakan terjadinya akumulasi kekayaan pada para pemilik modal sehingga masyarakat umum harus bersaing dan sulit untuk mencapai level kesejahteraan finansial, ditambah lagi dengan hilangnya peran negara dalam memberi jaminan terbaik tanpa tagihan pajak.
Selain itu, kondisi media yang menormalisasi flexing semakin menambah perasaan gagal bagi orang yang kondisinya tidak sesuai dengan standar yang telah kapitalis populerkan. Kegagalan memaknai inilah yang menyebabkan banyaknya fenomena lelah mental dan jiwa, fenomena banyak orang kesulitan menemukan ketenangan.
Mindfulness dijadikan sebagai salah satu cara untuk menemukan kepuasan batin, digadang menjadi alternatif solusi mengatasi jiwa dan mental yang lelah, kesadaran penuh untuk menerima dan merasakan diharapkan menjadi terapi yang mampu menjaga kesehatan mental, sebagaimana yang dikutip dalam (https://www.alodokter.com/, 17/09/2026) mindfulness adalah salah satu jenis meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka.
Manfaat meditasi mindfulness tidak hanya sebatas kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Mindfulness disebut sebagai langkah-langkah yang dilakukan seseorang untuk memaknai segala apa yang dijalani dalam hidup. Namun, hal ini tidak akan cukup mampu untuk mengantarkan kepada ketenangan selama bersandar pada nilai-nilai, makna-makna dari standar kapitalis karena ide, gagasan, dan nilai sekuler kapitalis tidak mampu mengurai dengan benar permasalah dasar manusia, yaitu darimana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan kemana manusia akan kembali. Sekuler kapitalis tidak menjawab sesuai dengan kehendak Pencipta. Selama tiga pertanyaan mendasar manusia ini tidak terurai dengan benar maka ketenangan hakiki tidak akan didapatkan.
Berbeda dengan Islam yang memiliki kekayaan makna dan nilai-nilai yang benar, berasal dari Allah Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, mampu mengurai persoalan dasar manusia, sehingga bila diadopsi akan memberikan ketenangan. Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah hanya untuk beribadah bahwa manusia berasal dari Allah dan terikat dengan aturan-Nya, serta manusia akan Kembali kepada Allah. Standar bahagia dalam Islam adalah ridha Allah, tidak diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan.
Dalam pengaturan Islam, terjadi distribusi kekayaan dengan adil, kekayaan tidak menumpuk pada para pemilik modal karena ada batasan kepemilikan terhadap sumber daya alam, yakni tidak boleh diprivatisasi, melainkan harus menjadi kepemilikan umum. Negara dalam Islam juga hadir untuk.mengurus rakyak, memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya, sehingga potensi rakyat untuk mengalami kelelahan jiwa dan mental benar-benar terminimalisir.
Pemahaman-pemahaman Islam tentang hakikat hidup, manusia dan tujuan hidup, serta makna bahagia, makna sukses atau mulia adalah yang paling bertakwa menciptakan manusia dengan fokus hidup berlomba-lomba dalam kebaikan, memaknai segala takdir dengan pandangan yang benar, dan sikap yang benar dalam merespons, sabar dengan ujian, syukur dengan nikmat. Oleh karena itu, maindfulness tidak cukup untuk menciptakan ketenangan, tetapi butuh penerapan aturan Islam dan menjaga pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat dan media adalah pemikiran Islam.
Oleh: Ayu Fitria Hasanah S.Pd
Pemerhati pendidikan dan sosial politik