“Ateisme tidak memiliki landasan
ontologis yang kokoh untuk menetapkan kewajiban moral objektif tanpa mengakui keberadaan
otoritas transenden Allah Swt.,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.
“Banyak individu ateis yang
berperilaku baik dan bermoral, namun sistem filsafat ateisme itu sendiri tidak
mampu menjelaskan mengapa suatu kejahatan tetap bernilai salah secara mutlak
ketika seluruh masyarakat menyetujuinya,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).
Di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme:
Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI membongkar
dilema etika naturalisme yang mereduksi kebaikan menjadi sekadar sentimen
psikologis.
“Jika nilai baik dan buruk hanya
lahir dari proses evolusi sosial, maka moralitas berubah menjadi kesepakatan
rasa yang subjektif dan dapat diganti seenaknya,” keluhnya.
Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa
kejahatan seperti kezaliman atau penindasan tetaplah salah secara objektif
karena melanggar ketetapan syariat dari Sang Pencipta. “Hukum moral yang
mengikat secara universal menuntut adanya Sumber Moral yang transenden dan
berdaulat atas seluruh umat manusia,” lugasnya.
“Evolusi biologi barangkali bisa
menjelaskan terbentuknya naluri komunal, tetapi tidak akan pernah mampu menjadi
fondasi bagi kewajiban moral yang hakiki,” jelasnya.
HILMI juga meluruskan anggapan
ateisme yang kerap menjadikan adanya penderitaan dan bencana di dunia (problem
of evil) sebagai dalih menolak wujud Tuhan.
“Adanya penderitaan di dunia
bukan bukti bahwa Tuhan tidak ada, melainkan bukti bahwa manusia memiliki
keterbatasan dalam menyingkap hikmah Ilahi di balik sunatullah,” ujarnya.
“Ujian penderitaan, kebebasan
memilih bagi manusia, serta kepastian balasan adil di hari akhir merupakan
kesatuan penjelasan Islam yang paripurna,” ulasnya.
Oleh karena itu, HILMI mengajak
umat Muslim agar semakin mengokohkan akidah Islam yang memadukan keimanan
tauhid, kejernihan akal, dan keluhuran hukum syarak.
“Islam hadir membimbing nurani
manusia dengan panduan syariat yang adil, agar kebenaran moral tidak tenggelam
dalam kesia-siaan relativisme sekuler,” urai HILMI.
“Hanya di dalam sistem nilai
berbasis ketakwaan kepada Allah Swt., keadilan hakiki dan martabat kemanusiaan
dapat ditegakkan seutuhnya di muka bumi,” pungkasnya.[] Rere
.png)