Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Ateisme Tidak Memiliki Landasan Ontologis yang Kokoh

Senin, 28 September 2026 | 11:47 WIB Last Updated 2026-09-28T04:47:06Z


TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa ateisme tidak memiliki landasan ontologis yang kokoh untuk menetapkan kewajiban moral objektif tanpa mengakui keberadaan otoritas transenden Allah Swt.

 

“Ateisme tidak memiliki landasan ontologis yang kokoh untuk menetapkan kewajiban moral objektif tanpa mengakui keberadaan otoritas transenden Allah Swt.,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Banyak individu ateis yang berperilaku baik dan bermoral, namun sistem filsafat ateisme itu sendiri tidak mampu menjelaskan mengapa suatu kejahatan tetap bernilai salah secara mutlak ketika seluruh masyarakat menyetujuinya,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme: Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI membongkar dilema etika naturalisme yang mereduksi kebaikan menjadi sekadar sentimen psikologis.

 

“Jika nilai baik dan buruk hanya lahir dari proses evolusi sosial, maka moralitas berubah menjadi kesepakatan rasa yang subjektif dan dapat diganti seenaknya,” keluhnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa kejahatan seperti kezaliman atau penindasan tetaplah salah secara objektif karena melanggar ketetapan syariat dari Sang Pencipta. “Hukum moral yang mengikat secara universal menuntut adanya Sumber Moral yang transenden dan berdaulat atas seluruh umat manusia,” lugasnya.

 

“Evolusi biologi barangkali bisa menjelaskan terbentuknya naluri komunal, tetapi tidak akan pernah mampu menjadi fondasi bagi kewajiban moral yang hakiki,” jelasnya.

 

HILMI juga meluruskan anggapan ateisme yang kerap menjadikan adanya penderitaan dan bencana di dunia (problem of evil) sebagai dalih menolak wujud Tuhan.

 

“Adanya penderitaan di dunia bukan bukti bahwa Tuhan tidak ada, melainkan bukti bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menyingkap hikmah Ilahi di balik sunatullah,” ujarnya.

 

“Ujian penderitaan, kebebasan memilih bagi manusia, serta kepastian balasan adil di hari akhir merupakan kesatuan penjelasan Islam yang paripurna,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI mengajak umat Muslim agar semakin mengokohkan akidah Islam yang memadukan keimanan tauhid, kejernihan akal, dan keluhuran hukum syarak.

 

“Islam hadir membimbing nurani manusia dengan panduan syariat yang adil, agar kebenaran moral tidak tenggelam dalam kesia-siaan relativisme sekuler,” urai HILMI.

 

“Hanya di dalam sistem nilai berbasis ketakwaan kepada Allah Swt., keadilan hakiki dan martabat kemanusiaan dapat ditegakkan seutuhnya di muka bumi,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update