Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Meraih Ridha Allah, Menuju Kebahagiaan Dunia, dan Akhirat

Selasa, 22 September 2026 | 12:12 WIB Last Updated 2026-09-22T05:12:28Z


TintaSiyasi.id -- “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201)

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Setiap manusia mengejar kebahagiaan. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, karier, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau kesuksesan duniawi.

Namun pertanyaannya: Apakah semua yang kita kejar itu benar-benar membawa kebahagiaan?
Tidak sedikit orang memiliki banyak hal, tetapi hatinya gelisah. Memiliki jabatan, tetapi kehilangan ketenangan. Memiliki kekayaan, tetapi sulit menikmati kehidupan. Memiliki popularitas, tetapi merasa kesepian.

Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar banyaknya sesuatu yang kita miliki, tetapi sejauh mana kehidupan kita berada dalam ridha Allah SWT.

1. Tujuan Tertinggi Bukan Dunia, Tetapi Ridha Allah
Allah SWT berfirman:
> وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan keridaan Allah adalah lebih besar.”
(QS. At-Taubah: 72)
Harta itu penting, kesehatan itu penting, keluarga itu penting, pekerjaan dan karier juga penting. Tetapi semuanya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir.
Tujuan tertinggi seorang mukmin adalah mendapatkan ridha Allah.
Ketika ridha Allah menjadi orientasi hidup, kita akan memiliki ukuran yang berbeda dalam memandang keberhasilan.
Bukan hanya bertanya:
“Berapa banyak yang saya dapat?”
Tetapi juga:
“Apakah Allah ridha dengan cara saya mendapatkannya?”
Bukan hanya:
“Seberapa tinggi kedudukan saya?”
Tetapi:
“Untuk apa kedudukan itu saya gunakan?”
Bukan hanya:
“Seberapa terkenal saya?”
Tetapi:
“Apakah ketenaran ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”
Inilah perubahan besar dalam kehidupan seorang Muslim: dari hidup untuk memiliki menjadi hidup untuk mengabdi.

2. Ridha Allah Ditempuh dengan Ketaatan
Ridha Allah bukan sesuatu yang cukup diucapkan. Ia harus diperjuangkan melalui iman, ibadah, akhlak, dan amal saleh.
Allah berfirman:
> وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ahzab: 71)
Kemenangan sejati bukan hanya ketika kita berhasil memenangkan persaingan dunia.
Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil menundukkan hawa nafsu, menjaga hati, istiqamah dalam kebaikan, dan kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai-Nya.
Karena itu, jangan sampai kita sukses secara duniawi tetapi gagal secara ruhani.
Jangan sampai rumah semakin besar, tetapi hati semakin sempit.
Jangan sampai rekening semakin banyak, tetapi sedekah semakin sedikit.
Jangan sampai ilmu semakin tinggi, tetapi tawadhu semakin rendah.
Jangan sampai popularitas semakin luas, tetapi hubungan dengan Allah semakin jauh.

3. Kebahagiaan Dunia Lahir dari Hati yang Terhubung kepada Allah
Allah SWT berfirman:
> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah.
Orang yang dekat dengan Allah tetap menghadapi ujian. Tetapi ia memiliki tempat kembali ketika menghadapi ujian.
Ketika kehilangan, ia berkata: Allah pasti memiliki hikmah.
Ketika gagal, ia belajar dan memperbaiki diri.
Ketika berhasil, ia bersyukur dan tidak sombong.
Ketika mendapatkan nikmat, ia melihat Sang Pemberi Nikmat.
Ketika mendapatkan ujian, ia semakin mendekat kepada Sang Pemilik kehidupan.
Inilah yang membuat seorang mukmin memiliki ketahanan spiritual.

4. Jangan Mengejar Dunia dengan Mengorbankan Akhirat
Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia.
Justru kita diperintahkan memohon:
“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.”
Yang harus dihindari adalah ketika dunia menjadi tujuan akhir.
Dunia berada di tangan, bukan di hati.
Kita boleh kaya, tetapi jangan diperbudak kekayaan.
Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan diperbudak jabatan.
Kita boleh menjadi terkenal, tetapi jangan diperbudak popularitas.
Kita boleh memiliki banyak aktivitas, tetapi jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan Allah.
Gunakan dunia untuk menuju akhirat.
Jadikan harta sebagai jalan sedekah.
Jadikan ilmu sebagai jalan kemanfaatan.
Jadikan jabatan sebagai jalan pelayanan.
Jadikan keluarga sebagai ladang ibadah.
Jadikan pekerjaan sebagai amal.
Jadikan setiap kemampuan sebagai sarana mendekat kepada Allah.

5. Bahagia Itu Ketika Hidup Memiliki Makna
Kebahagiaan yang paling dalam bukan sekadar merasa senang, tetapi merasakan bahwa hidup kita bermakna di hadapan Allah.
Ketika bangun pagi, kita tahu untuk apa kita hidup.
Ketika bekerja, kita tahu untuk apa kita bekerja.
Ketika mencari nafkah, kita tahu siapa yang akan kita bahagiakan.
Ketika berdakwah, kita tahu kepada siapa kita mengajak.
Ketika mendidik anak, kita sadar bahwa kita sedang menyiapkan generasi.
Ketika melayani sesama, kita sadar bahwa Allah melihat setiap kebaikan.
Maka hidup tidak lagi sekadar:
lahir – bekerja – mendapatkan uang – menikmati dunia – lalu mati.
Tetapi menjadi perjalanan:
lahir – mengenal Allah – beribadah – berkarya – memberi manfaat – memperbaiki diri – mengabdi – lalu kembali kepada Allah.

6. Ridha Allah Mengubah Cara Kita Menghadapi Takdir
Orang yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan akan memiliki hati yang lebih lapang dalam menghadapi kehidupan.
Ketika mendapatkan apa yang diinginkan, ia bersyukur.
Ketika belum mendapatkan apa yang diinginkan, ia bersabar.
Ketika melakukan kesalahan, ia bertaubat.
Ketika mendapat ujian, ia bertawakal.
Ketika mendapat keberhasilan, ia merendahkan hati.
Karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah sia-sia dalam menetapkan sesuatu bagi hamba-Nya.
Allah berfirman:
> وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik.
Kadang Allah memberikan sesuatu yang tidak kita minta karena Dia mengetahui apa yang kita butuhkan.

7. Ukuran Sukses Seorang Mukmin
Maka, jangan ukur kesuksesan hanya dari apa yang tampak di mata manusia.
Ukurlah dengan beberapa pertanyaan:
Apakah iman kita semakin kuat?
Apakah shalat kita semakin baik?
Apakah hati kita semakin bersih?
Apakah keluarga kita semakin dekat dengan Allah?
Apakah ilmu kita semakin bermanfaat?
Apakah keberadaan kita memberikan manfaat kepada orang lain?
Apakah harta kita semakin banyak menjadi jalan kebaikan?
Dan pertanyaan yang paling penting:
“Jika hari ini Allah memanggil saya, apakah saya sudah siap kembali kepada-Nya?”
Karena pada akhirnya, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan.
Rumah akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan.
Kekayaan akan ditinggalkan.
Popularitas akan ditinggalkan.
Yang menemani kita adalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah SWT.
Penutup: Jadikan Ridha Allah sebagai Kompas Kehidupan
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya mengejar pengakuan manusia.
Jangan hidup hanya agar dipuji.
Jangan bekerja hanya agar dihormati.
Jangan beramal hanya agar dikenal.
Jangan mengejar dunia sampai lupa kepada Pemilik dunia.
Jadikan ridha Allah sebagai kompas.
Jika mendapat nikmat, bersyukurlah.
Jika mendapat ujian, bersabarlah.
Jika berdosa, bertaubatlah.
Jika berhasil, tawadhu'lah.
Jika memiliki ilmu, ajarkanlah.
Jika memiliki harta, sedekahkanlah.
Jika memiliki kekuatan, gunakan untuk menolong.
Jika memiliki kesempatan, gunakan untuk berbuat kebaikan.
Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika semua yang kita inginkan menjadi milik kita, tetapi ketika hati kita mampu menerima Allah sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
Meraih Ridha Allah, Menuju Kebahagiaan Dunia dan Akhirat.
Semoga Allah menjadikan hidup kita penuh keberkahan, langkah kita penuh kebaikan, hati kita dekat kepada-Nya, amal kita diterima, dosa-dosa kita diampuni, dan pada akhirnya kita dikumpulkan bersama orang-orang yang Allah ridhai.
اللهم إنا نسألك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار
Ya Allah, kami memohon ridha-Mu dan surga-Mu, serta berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update