Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Membaca: Mengisi Pikiran, Menumbuhkan Peradaban

Minggu, 27 September 2026 | 16:42 WIB Last Updated 2026-09-27T09:42:34Z


TintaSiyasi.id -- Di tengah zaman ketika jari kita begitu mudah scroll, swipe, like, dan share, ada satu aktivitas sederhana yang perlahan kehilangan tempat: membaca.

Padahal, membaca bukan sekadar kegiatan melihat rangkaian huruf. Membaca adalah cara manusia memperluas kehidupan tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.

Sebuah buku dapat membawa kita ke masa lalu, memperkenalkan kita kepada pemikiran orang-orang besar, membuka jendela ilmu, bahkan mengubah cara kita memandang kehidupan.

Jangan Sampai Jempol Kita Lebih Aktif daripada Pikiran Kita

Hari ini kita bisa menghabiskan puluhan menit bahkan berjam-jam scrolling media sosial.

Kita berpindah dari satu video ke video lain. Tertawa sebentar. Terkejut sebentar. Marah sebentar. Lalu lupa.

Informasi datang begitu cepat, tetapi tidak semuanya menjadi pengetahuan.

Kita perlu membedakan:

Scrolling memberi kita informasi.
Membaca membantu kita memahami.
Merenung membantu kita menemukan makna.
Mengamalkan ilmu membuat hidup kita berubah.

Karena itu, persoalan kita hari ini bukan kekurangan informasi.

Kita justru kebanjiran informasi, tetapi kekurangan kedalaman.

Dan membaca adalah salah satu jalan untuk kembali kepada kedalaman itu.

Membaca Adalah Investasi yang Tidak Pernah Sia-Sia

Uang yang kita keluarkan untuk membeli buku mungkin habis dalam sekali transaksi.

Tetapi pengetahuan yang kita dapatkan bisa tinggal dalam pikiran selama bertahun-tahun.

Satu buku bisa melahirkan sebuah gagasan.

Satu gagasan bisa melahirkan sebuah keputusan.

Satu keputusan bisa mengubah arah kehidupan.

Bahkan mungkin, sebuah buku yang kita baca hari ini menjadi inspirasi yang suatu saat mengubah kehidupan orang lain.

Maka jangan ukur manfaat buku hanya dari harga di sampulnya. Ukurlah dari perubahan yang terjadi setelah kita membacanya.

 Islam Mengajarkan Kita untuk Membaca

Menariknya, salah satu wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ dimulai dengan perintah:

اقْرَأْ — Iqra'

"Bacalah."

Membaca bukan hanya aktivitas akademik. Dalam perspektif Islam, membaca dapat menjadi pintu menuju kesadaran, ilmu, dan pengenalan kepada Allah SWT.

Kita membaca ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur'an.

Kita juga membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta.

Kita membaca sejarah.

Membaca kehidupan.

Membaca pengalaman manusia.

Membaca diri sendiri.

Sehingga membaca akhirnya bukan sekadar membuat kita lebih banyak tahu, tetapi membuat kita lebih sadar siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan ke mana kehidupan ini akan menuju.

Membaca Membuat Pikiran Tidak Mudah Dikendalikan

Orang yang tidak terbiasa membaca cenderung menerima apa saja yang datang kepadanya.

Satu potongan video dianggap kebenaran.

Satu judul dianggap keseluruhan isi.

Satu komentar dianggap fakta.

Padahal, dunia digital penuh dengan informasi yang belum tentu lengkap dan benar.

Membaca buku yang baik melatih kita untuk:

berpikir lebih panjang,
memahami konteks,
membandingkan gagasan,
bertanya lebih kritis,
dan tidak mudah terbawa arus.

Masyarakat yang gemar membaca akan memiliki modal intelektual untuk membangun peradaban.

Dari "Berapa Jam Saya Scroll?" Menjadi "Berapa Hal yang Saya Pelajari?"

Tidak harus langsung membaca satu buku sehari.

Mulailah sederhana.

10 halaman sehari.

Kalau satu hari 10 halaman, dalam satu bulan kita bisa membaca sekitar 300 halaman.

Artinya, satu buku selesai.

Kalau satu tahun konsisten?

12 buku.

Bayangkan jika satu buku memberikan satu gagasan penting yang benar-benar kita praktikkan.

Bukan jumlah bukunya yang paling penting.

Tetapi berapa banyak ilmu yang masuk ke hati, mengubah pikiran, lalu menjadi amal.

Mari Bangun Budaya Membaca di Rumah

Orang tua jangan hanya berkata kepada anak:

"Nak, jangan main HP terus!"

Tetapi berikan alternatif yang menarik.

Sediakan buku.

Bacalah bersama.

Diskusikan isinya.

Ciptakan suasana rumah yang akrab dengan ilmu.

Karena anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika anak melihat ayah dan ibunya membaca, berdiskusi, mencari ilmu, dan mencintai buku, maka membaca tidak lagi terasa sebagai kewajiban.

Ia menjadi budaya keluarga.

 Jangan Biarkan Generasi Kita Hanya Pandai Scroll

Teknologi bukan musuh.

Media sosial bukan musuh.

Internet juga bukan musuh.

Yang perlu kita bangun adalah kemampuan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kedalaman berpikir.

Gunakan smartphone untuk mencari ilmu.

Gunakan media sosial untuk berbagi kebaikan.

Gunakan internet untuk belajar.

Tetapi jangan sampai algoritma lebih banyak membentuk pikiran kita daripada buku, guru, pengalaman, dan perenungan.

Karena masa depan seseorang sering kali dibentuk oleh apa yang ia konsumsi setiap hari—bukan hanya makanan untuk tubuh, tetapi juga bacaan untuk pikiran dan jiwa.

 Mulai Hari Ini

Ambillah satu buku.

Matikan notifikasi.

Letakkan smartphone sejenak.

Duduk dengan tenang.

Baca beberapa halaman.

Renungkan.

Catat satu gagasan.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang bisa saya ubah dalam hidup saya setelah membaca ini?"

Sebab membaca yang paling bernilai bukanlah membaca yang membuat kita merasa paling pintar.

Tetapi membaca yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

 Mari membaca.
Mari berpikir.
Mari merenung.
Mari mengamalkan.
Karena bangsa yang gemar membaca sedang menyiapkan masa depan peradabannya.

Jangan biarkan jempol kita terus scrolling, sementara pikiran kita berhenti bertumbuh.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update