Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Iman kepada Allah dan Rasulullah Saw: Dua Kesaksian yang Tak Terpisahkan

Minggu, 27 September 2026 | 16:47 WIB Last Updated 2026-09-27T09:54:10Z

 
Hikmah dan Penjelasan Tafsir QS. An-Nisa’ Ayat 136, QS. Al-Hadid Ayat 7, dan QS. At-Taghabun Ayat 7–8

TintaSiyasi.id -- Iman kepada Allah SWT tidak cukup hanya dengan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan. Iman yang benar menuntut seorang hamba menerima wahyu-Nya, membenarkan Rasul-Nya, menaati petunjuk-Nya, dan menjadikan Rasulullah Muhammad ﷺ sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali menggandengkan keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada Rasul-Nya. Hubungan keduanya bukan sekadar hubungan antara dua objek keimanan, tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah pembawa risalah yang menjelaskan jalan bagaimana manusia beriman dan tunduk kepada Allah SWT.

Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا 

“ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)

Ayat ini sangat menarik. Allah memanggil orang-orang yang sudah beriman dengan perintah: “Tetaplah beriman.” Artinya, iman bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi harus terus dijaga, diperdalam, dibuktikan, dan diwujudkan dalam kehidupan.

1. QS. An-Nisa’ Ayat 136: Iman yang Harus Utuh
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 136)
Ayat ini menunjukkan adanya kesatuan rukun iman.
Iman kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari iman kepada:
• para malaikat,
• kitab-kitab Allah,
• para rasul,
• dan hari akhir.
Mengapa Allah menggandengkan iman kepada-Nya dengan iman kepada Rasul?
Karena manusia tidak dapat mengetahui secara mandiri seluruh jalan yang diridhai Allah.
Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta. Manusia adalah makhluk.
Allah mengetahui hakikat kehidupan, sedangkan manusia memiliki keterbatasan pengetahuan.
Maka Allah mengutus Rasul untuk menyampaikan wahyu dan menjelaskan bagaimana manusia harus menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Rasulullah ﷺ bukan pembuat agama dari dirinya sendiri. Beliau adalah Rasul yang menyampaikan risalah Allah.
Allah berfirman:
“Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Tidak lain, itu adalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. An-Najm [53]: 3–4)
Karena itu, mencintai Allah menuntut kita menerima risalah-Nya, dan menerima risalah-Nya menuntut kita membenarkan Rasul yang membawa risalah tersebut.

2. “Tetaplah Beriman”: Iman Bukan Sekadar Identitas
Perhatikan redaksi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah!”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perintah tersebut mengandung dorongan agar keimanan menjadi kokoh, sempurna, dan terus diperbarui, bukan sekadar pengakuan identitas.
Iman memiliki konsekuensi.
Seseorang tidak cukup mengatakan:
“Saya mencintai Allah.”
Tetapi pertanyaannya:
Apakah ia menerima hukum dan petunjuk Allah?
Tidak cukup mengatakan:
“Saya mencintai Rasulullah ﷺ.”
Tetapi pertanyaannya:
Apakah ia membenarkan risalah beliau dan berusaha mengikuti sunnah serta keteladanannya?
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
(QS. Ali Imran [3]: 31)
Di sinilah cinta kepada Allah mendapatkan bentuk nyata melalui ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

3. QS. Al-Hadid Ayat 7: Iman Harus Melahirkan Pengorbanan
Allah SWT berfirman:
اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ 

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya memperoleh pahala yang besar.”
(QS. Al-Hadid [57]: 7)
Ayat ini menghubungkan tiga hal:
iman kepada Allah → iman kepada Rasul → amal/pengorbanan.
Dengan demikian, iman bukan sesuatu yang hanya bersemayam di dalam hati.
Iman yang hidup akan melahirkan amal.
Harta sebenarnya milik siapa?
Ayat tersebut mengingatkan:
مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ
“Sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya.”
Manusia pada hakikatnya hanyalah pemegang amanah.
Harta yang berada di tangan kita bukan kepemilikan mutlak yang bebas digunakan tanpa batas.
Ada hak Allah di dalamnya.
Ada hak keluarga.
Ada hak orang miskin.
Ada hak masyarakat.
Ada kewajiban yang harus ditunaikan.
Maka iman kepada Allah mengubah cara seseorang memandang harta:
dari “ini milikku” menjadi “ini amanah Allah kepadaku.”

4. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Bagaimana Iman Menjadi Kehidupan
Rasulullah ﷺ adalah teladan bagaimana iman kepada Allah diwujudkan dalam kehidupan.
Beliau:
• beribadah ketika lapang maupun sempit;
• bersabar ketika menghadapi ujian;
• memaafkan ketika disakiti;
• menyayangi keluarga;
• memperhatikan orang miskin;
• berlaku adil;
• menepati janji;
• menjaga amanah;
• berdakwah;
• dan tidak berhenti mengajak manusia menuju Allah.
Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar memperbanyak pujian kepada beliau.
Cinta yang benar akan mendorong seseorang bertanya:
“Bagaimana Rasulullah ﷺ menjalani hidupnya, dan bagaimana aku dapat meneladaninya?”
Inilah perubahan dari mahabbah yang emosional menuju mahabbah yang transformatif.

5. QS. At-Taghabun Ayat 7–8: Jangan Sampai Iman Berhenti pada Pengakuan
Allah SWT berfirman:
زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْاۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 
“Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. At-Taghabun [64]: 7)
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah Kami turunkan. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. At-Taghabun [64]: 8)
Perhatikan hubungan ayat 7 dan 8.
Ayat 7 berbicara tentang kebangkitan dan pertanggungjawaban amal.
Ayat 8 kemudian memerintahkan:
berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ini memberikan kesadaran besar:
Kehidupan dunia bukan akhir perjalanan.
Ada kehidupan setelah kematian.
Ada kebangkitan.
Ada hisab.
Ada pertanggungjawaban.
Karena itu manusia membutuhkan petunjuk Allah agar kehidupannya tidak tersesat.

6. “Cahaya yang Kami Turunkan”
Allah berfirman:
وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا
“Dan kepada cahaya yang telah Kami turunkan.”
Para mufassir menjelaskan “cahaya” dalam konteks ayat ini sebagai petunjuk Allah yang menerangi manusia, khususnya wahyu-Nya.
Bayangkan seseorang berjalan dalam kegelapan.
Ia mungkin memiliki kekuatan.
Ia mungkin memiliki keberanian.
Ia mungkin memiliki pengalaman.
Tetapi tanpa cahaya, ia tidak mengetahui jalan dengan benar.
Demikian pula kehidupan manusia.
Akal diperlukan, tetapi akal manusia terbatas.
Pengalaman diperlukan, tetapi pengalaman manusia tidak mencakup seluruh hakikat kehidupan.
Ilmu diperlukan, tetapi manusia membutuhkan petunjuk tentang tujuan akhir kehidupannya.
Maka Allah menurunkan wahyu sebagai cahaya.
Dan Rasulullah ﷺ menyampaikan serta menjelaskan cahaya tersebut kepada manusia.

7. Iman kepada Rasulullah ﷺ Berarti Membenarkan Risalahnya
Ada beberapa dimensi iman kepada Rasulullah ﷺ.
Pertama: Membenarkan kenabian beliau
Meyakini bahwa Muhammad ﷺ benar-benar Rasul Allah.
Kedua: Membenarkan wahyu yang beliau bawa
Al-Qur'an bukan produk pemikiran manusia, melainkan wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ.
Ketiga: Menerima berita yang beliau sampaikan
Terutama perkara-perkara gaib yang bersumber dari wahyu.
Keempat: Menaati beliau
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 80)
Kelima: Menjadikan beliau sebagai uswah
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Dengan demikian, iman kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya persoalan sejarah.
Ia merupakan komitmen hidup.

8. Dari Iman Menuju Ittiba’
Ada perbedaan antara:
mengagumi Rasulullah ﷺ
dan
mengikuti Rasulullah ﷺ.
Seseorang dapat mengagumi akhlak beliau, tetapi tantangannya adalah menerapkan akhlak tersebut.
Seseorang dapat mencintai sirah beliau, tetapi tantangannya adalah mengambil pelajaran dari perjalanan dakwah beliau.
Seseorang dapat memperbanyak shalawat, tetapi tantangannya adalah menghadirkan sunnah beliau dalam perilaku.
Maka cinta kepada Rasulullah ﷺ seharusnya bergerak:
mengenal → mencintai → membenarkan → mengikuti → membela risalah dengan cara yang benar → meneladani → istiqamah.

9. Kesatuan Tauhid dan Risalah
Ketiga kelompok ayat ini memberikan satu bangunan pemahaman:
QS. An-Nisa’ 136
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya harus utuh.
QS. Al-Hadid 7
Iman harus melahirkan pengorbanan dan amal.
QS. At-Taghabun 7–8
Iman harus berorientasi kepada kehidupan akhirat dan berjalan dalam cahaya wahyu.
Maka dapat dirumuskan:
Tauhid memberikan arah.
Risalah memberikan jalan.
Wahyu memberikan cahaya.
Amal memberikan bukti.
Akhirat memberikan pertanggungjawaban.
Inilah bangunan iman yang hidup.

10. Ketika Iman kepada Allah dan Rasul Menjadi Jalan Hidup
Orang yang benar-benar memahami hubungan antara iman kepada Allah dan Rasulullah ﷺ akan mengalami perubahan dalam cara berpikir.
Ketika mendapatkan rezeki, ia bersyukur.
Ketika kehilangan sesuatu, ia bersabar.
Ketika memiliki kekuasaan, ia mengingat amanah.
Ketika memiliki ilmu, ia menggunakannya untuk kebaikan.
Ketika memiliki harta, ia tidak diperbudak harta.
Ketika menghadapi masalah, ia kembali kepada Allah.
Ketika bingung menentukan jalan, ia mencari petunjuk wahyu dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Ketika dipuji, ia tidak mabuk pujian.
Ketika dicela, ia tidak kehilangan arah.
Karena pusat kehidupannya bukan manusia.
Pusat kehidupannya adalah Allah SWT.
Dan jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang ditunjukkan Rasulullah ﷺ.

11. Hikmah Besar: Iman Menghubungkan Langit dan Kehidupan
Ada manusia yang memisahkan agama dari kehidupan.
Agama hanya ditempatkan di masjid.
Iman hanya dibicarakan ketika pengajian.
Rasulullah ﷺ hanya dikenang ketika Maulid.
Padahal risalah Islam datang untuk membimbing manusia dalam seluruh kehidupannya.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam:
aqidah, ibadah, akhlak, keluarga, pendidikan, muamalah, dakwah, kepemimpinan, kehidupan sosial, dan perjuangan menegakkan kebaikan.
Maka pertanyaan penting bagi seorang mukmin bukan hanya:
“Apakah saya beriman?”
Tetapi:
“Sejauh mana iman saya telah membentuk cara saya berpikir, berbicara, memilih, bekerja, berkeluarga, berdakwah, dan menghadapi kehidupan?”
Di situlah kualitas iman mulai terlihat.

12. Muhasabah: Apakah Kita Benar-Benar Mengikuti Rasulullah ﷺ?
Mari bertanya kepada hati:
Apakah saya mengenal Rasulullah ﷺ?
Apakah saya mencintai beliau?
Apakah saya membenarkan risalah beliau?
Apakah saya berusaha mengikuti sunnah beliau?
Apakah akhlak beliau semakin tampak dalam kehidupan saya?
Apakah ketika menghadapi persoalan saya kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya?
Apakah cinta kepada Rasulullah ﷺ telah mengubah perilaku saya?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi diri, tetapi untuk melakukan muhasabah.
Sebab iman harus selalu dirawat.

Penutup: Dua Kesaksian yang Menghidupkan Hati
Iman kepada Allah dan iman kepada Rasulullah ﷺ bukan dua jalan yang terpisah.
Allah adalah Rabb yang kita sembah.
Muhammad ﷺ adalah Rasul yang membawa risalah-Nya.
Al-Qur'an adalah cahaya petunjuk-Nya.

Sunnah Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk tersebut.
Maka semakin dalam tauhid seseorang, seharusnya semakin kuat kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Dan semakin kuat kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin sungguh-sungguh ia mengikuti petunjuk yang beliau bawa.

Pada akhirnya, iman bukan sekadar kalimat yang diucapkan.
Iman adalah cahaya yang menerangi hati, keyakinan yang menguatkan jiwa, petunjuk yang mengarahkan langkah, dan amal yang membuktikan penghambaan kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang benar-benar beriman kepada-Nya, mencintai Rasulullah Muhammad ﷺ, mengikuti petunjuknya, menghiasi diri dengan akhlaknya, dan istiqamah sampai bertemu Allah dalam keadaan diridhai-Nya.

اللهم اجعل الإيمان أحبَّ إلينا من الدنيا وما فيها، وارزقنا حبَّ الله وحبَّ رسوله وحسن الاتباع
“Ya Allah, jadikanlah iman lebih kami cintai daripada dunia dan segala isinya. Anugerahkanlah kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Rasul-Mu, dan kemampuan untuk mengikuti beliau dengan sebaik-baiknya.”

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Dr Nasrul Syarif M.Si.
Pengasuh Pesantren Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir dan Kajian Rindu Rosul.

Opini

×
Berita Terbaru Update