Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mati Jiwa Demi Validasi: Kejahatan Sistemis Kapitalisme atas Fitrah Islam

Senin, 21 September 2026 | 11:50 WIB Last Updated 2026-09-21T04:50:36Z

Tintasiyasi.id.com -- Fenomena people pleaser, sinterclass syndrome, hingga emotional dishonesty bukanlah sekadar masalah dinamika psikologis individu atau tingkat kecerdasan emosional yang rendah. 

Kebiasaan membakar diri demi orang lain, rasa takut berkata "tidak", serta kepura-puraan emosional yang memicu akumulasi depresi hingga tindakan kriminal merupakan gejala krisis eksistensial yang dalam. 

Masyarakat sering kali menyalahkan budaya ketimuran dan pola "tidak enakan" atas kondisi ini. Namun, mengaitkannya sebatas pada budaya lokal adalah diagnosis yang terlalu dangkal karena mengabaikan struktur sistemis yang melingkupinya. Akar masalah yang sebenarnya terletak pada sekularisasi dan kapitalisasi nilai kebaikan yang mencengkeram kehidupan modern (ClifferPTK, 14-09-2026).

Sekularisasi mencabut peran agama dalam mengatur kehidupan dan menggantikan hukum syariat dengan standar moralitas humanistik yang kabur. 

Dalam tatanan masyarakat yang sekular, kebaikan tidak lagi diukur berdasarkan ketundukan kepada Allah SWT, melainkan didasarkan pada penilaian dan pujian sesama manusia. Akibatnya, individu terdorong untuk terus mengejar validasi sosial agar diterima oleh lingkungannya. 

Standar "orang baik" dikonstruksikan secara keliru sebagai sosok yang selalu menyenangkan semua orang, toleran tanpa batas, dan senantiasa mengalah—meskipun harus mengorbankan kesehatan jiwa serta kebenaran.

Kondisi ini diperparah oleh sistem kapitalisme yang menilai manusia secara utilitarian dan materialistis. Dalam ruang lingkup kapitalis, individu dituntut untuk selalu tampil sempurna, produktif, kompromistis, dan menghindari konflik demi menjaga harmoni pasar serta relasi sosial yang menguntungkan secara ekonomi. 

Sifat altruisme palsu ini dieksploitasi melalui pembentukan citra diri dan personal branding di media sosial. Manusia dipaksa mengenakan topeng (fake self) demi mempertahankan status sosial dan jaringan bisnis, sehingga kejujuran emosional (emotional honesty) dianggap sebagai ancaman yang merugikan. 

Perpaduan sekularisme dan kapitalisme melahirkan matriks kehidupan artifisial yang memprogram manusia untuk terus berpura-pura hingga kehilangan identitas serta fitrah hakikinya.

Islam hadir menawarkan cara pandang yang fundamental untuk menyembuhkan krisis moral dan kesehatan mental akibat sistem sekular-kapitalis ini. Dalam Islam, konsep kebaikan (al-khair) dan kejujuran (ash-shidq) berlandaskan pada syariat Allah SWT, bukan pada standar kepuasan manusia. 

Islam melarang keras sikap berpura-pura, riya', dan manipulasi diri demi mengincar pujian makhluk. Kejujuran—baik dalam ucapan, tindakan, maupun perasaan—merupakan fondasi utama kecerdasan emosional dan spiritual seorang muslim. Allah SWT berfirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar)." (TQS. At-Taubah: 119)
 
Ayat tersebut menegaskan kewajiban untuk memegang teguh kejujuran. Mengakui batas kemampuan diri, menolak hal yang bertentangan dengan kapasitas atau kebenaran, serta tidak bersikap faking merupakan bentuk kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Allah. Rasulullah SAW juga mengajarkan ketegasan moral melalui sabdanya:

"Katakanlah yang benar walau itu pahit" (HR. Ibn Hibban).

Selain itu, Islam memberikan batasan yang tegas mengenai standar keridaan. Penderitaan seorang people pleaser terjadi karena menempatkan keridaan manusia di atas segalanya, padahal hal tersebut adalah usaha yang sia-sia dan membinasakan. Rasulullah SAW mengingatkan:

"Barangsiapa yang mencari rida Allah meskipun manusia murka, maka Allah mencukupkan bebannya dari manusia. Dan barangsiapa yang mencari rida manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjelaskan bahwa kehancuran jiwa terjadi ketika seseorang menyerahkan dirinya pada penghakiman manusia. Ketika individu berhenti mengejar validasi semu dan mengalihkan orientasi hidupnya hanya untuk mencari rida Allah, ia akan memperoleh kemerdekaan jiwa yang hakiki. 

Ketenangan jiwa tidak didapatkan dari sikap "tidak enakan", melainkan dari pribadi yang bertakwa, jujur, dan berpegang teguh pada syariat.

Solusi mendasar atas fenomena ini adalah mengembalikan kesadaran individu dan masyarakat kepada penataan hidup berbasis Islam secara kaffah. Melalui konsep kesadaran diri (muraqabah), manusia senantiasa merasa diawasi oleh Allah sehingga tidak perlu berpura-pura di hadapan manusia. 

Islam membebaskan manusia dari perbudakan citra kapitalistik dan standar kebaikan sekular yang semu. Hanya dengan kembali kepada ajaran Islam, manusia dapat melepaskan topeng-topeng palsu, menyembuhkan luka emosional yang terpendam, serta membangun tatanan kehidupan yang jujur, seimbang, dan menentramkan jiwa. Wallaahu a'lam bishshowwab.[]

Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd. 
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)

Opini

×
Berita Terbaru Update