Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Literasi Sains dan Matematika Anjlok, HILMI: Mengancam Penunaian Fardu Kifayah Peradaban Islam

Sabtu, 19 September 2026 | 08:56 WIB Last Updated 2026-09-19T01:56:49Z

TintaSiyasi.id -- Anjloknya skor literasi sains dan matematika siswa Indonesia dalam PISA 2025 dinilai Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) merupakan krisis serius yang mengancam penunaian kewajiban fardu kifayah peradaban Islam di tengah kompetisi global.

 

“Anjloknya skor literasi sains dan matematika siswa Indonesia dalam PISA 2025 merupakan krisis serius yang mengancam penunaian kewajiban fardu kifayah peradaban Islam di tengah kompetisi global,” lugasnya.

 

Kritik terhadap PISA disebut HILMI jangan sampai menjadi dalih untuk menyepelekan matematika dan sains, sebab kelemahan literasi sains dan numerasi generasi muda secara langsung mengancam terpenuhinya kewajiban fardu kifayah umat.

 

“Jika hanya 17 persen siswa Indonesia yang mencapai standar kecakapan minimum matematika, bagaimana bangsa ini akan melahirkan dokter, insinyur, pakar hidrologi, analis data, dan saintis pertahanan yang mumpuni demi kemandirian peradaban?” tandas HILMI kepada TintaSiyasi.ID pada Kamis (17/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 022 bertajuk PISA dan Tujuan Pendidikan Islam: Mengukur Kompetensi, Menentukan Arah Kehidupan, HILMI membeberkan laporan hasil PISA 2025 yang menempatkan capaian Indonesia pada skor 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk literasi membaca.

 

“Angka-angka ini menjadi alarm bahaya, terlebih di era ledakan kecerdasan buatan (AI) yang menuntut kemampuan berpikir kritis membedakan klaim berbasis bukti dari opini manipulatip,” keluhnya.

 

Sebagai solusi mendasar, HILMI mengusulkan kerangka arsitektur pendidikan Islam yang kokoh melalui integrasi tiga lapisan strategis.

 

Pertama, penguasaan fardu ain secara mutlak sebelum usia balig, mencakup akidah, fikih ibadah, hukum muamalah dasar, dan batasan halal-haram.

 

“Sangat ironis apabila seorang anak mampu menghitung rumus persamaan rumit, namun tidak memahami rukun sah salatnya atau buta terhadap bahaya dosa riba,” jelasnya.

 

Kedua, mencakup penguasaan kompetensi universal (universal competencies) seperti membaca kritis, sains, matematika, dan pemecahan masalah agar anak mampu menghadapi realitas dunia empiris.

 

Ketiga, fokus pada pemetaan bakat (talent mapping) guna menyalurkan potensi unik setiap individu ke dalam pos-pos fardu kifayah sesuai hajat umat.

 

“Tujuan pendidikan Islam bukanlah menyeragamkan seluruh anak dengan standar skor tunggal, melainkan mengenali bakat spesifik mereka lalu menghubungkannya dengan kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menyarankan agar Indonesia melengkapi evaluasi pendidikannya ke dalam tiga indikator utuh: Fardhu 'Ain Readiness Index (FARI), Universal Competency Index (UCI), dan Fardhu Kifayah Potential Index (FKPI).

 

“Anak dengan penalaran spasial diarahkan menjadi insinyur sipil, bakat biologi menuju kedokteran, dan kecakapan bahasa menjadi pakar dakwah serta diplomasi internasional,” ulasnya.

 

“Pendidikan Islam bergerak menemukan potensi terbaik setiap anak agar mereka mampu memikul amanah kolektif untuk memimpin dan memperbaiki peradaban dunia,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update