TintaSiyasi.id -- Anjloknya skor literasi sains dan matematika siswa Indonesia dalam PISA 2025 dinilai Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) merupakan krisis serius yang mengancam penunaian kewajiban fardu kifayah peradaban Islam di tengah kompetisi global.
“Anjloknya skor literasi sains
dan matematika siswa Indonesia dalam PISA 2025 merupakan krisis serius yang
mengancam penunaian kewajiban fardu kifayah peradaban Islam di tengah kompetisi
global,” lugasnya.
Kritik terhadap PISA disebut
HILMI jangan sampai menjadi dalih untuk menyepelekan matematika dan sains,
sebab kelemahan literasi sains dan numerasi generasi muda secara langsung
mengancam terpenuhinya kewajiban fardu kifayah umat.
“Jika hanya 17 persen siswa
Indonesia yang mencapai standar kecakapan minimum matematika, bagaimana bangsa
ini akan melahirkan dokter, insinyur, pakar hidrologi, analis data, dan saintis
pertahanan yang mumpuni demi kemandirian peradaban?” tandas HILMI kepada TintaSiyasi.ID
pada Kamis (17/09/2026).
Di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 022 bertajuk PISA dan Tujuan Pendidikan Islam:
Mengukur Kompetensi, Menentukan Arah Kehidupan, HILMI membeberkan laporan
hasil PISA 2025 yang menempatkan capaian Indonesia pada skor 389 untuk sains,
364 untuk matematika, dan 365 untuk literasi membaca.
“Angka-angka ini menjadi alarm
bahaya, terlebih di era ledakan kecerdasan buatan (AI) yang menuntut
kemampuan berpikir kritis membedakan klaim berbasis bukti dari opini
manipulatip,” keluhnya.
Sebagai solusi mendasar, HILMI
mengusulkan kerangka arsitektur pendidikan Islam yang kokoh melalui integrasi
tiga lapisan strategis.
Pertama, penguasaan fardu
ain secara mutlak sebelum usia balig, mencakup akidah, fikih ibadah, hukum
muamalah dasar, dan batasan halal-haram.
“Sangat ironis apabila seorang
anak mampu menghitung rumus persamaan rumit, namun tidak memahami rukun sah
salatnya atau buta terhadap bahaya dosa riba,” jelasnya.
Kedua, mencakup penguasaan
kompetensi universal (universal competencies) seperti membaca kritis,
sains, matematika, dan pemecahan masalah agar anak mampu menghadapi realitas
dunia empiris.
Ketiga, fokus pada
pemetaan bakat (talent mapping) guna menyalurkan potensi unik setiap
individu ke dalam pos-pos fardu kifayah sesuai hajat umat.
“Tujuan pendidikan Islam bukanlah
menyeragamkan seluruh anak dengan standar skor tunggal, melainkan mengenali
bakat spesifik mereka lalu menghubungkannya dengan kebutuhan riil masyarakat,”
ujarnya.
Oleh karena itu, HILMI
menyarankan agar Indonesia melengkapi evaluasi pendidikannya ke dalam tiga
indikator utuh: Fardhu 'Ain Readiness Index (FARI), Universal
Competency Index (UCI), dan Fardhu Kifayah Potential Index (FKPI).
“Anak dengan penalaran spasial
diarahkan menjadi insinyur sipil, bakat biologi menuju kedokteran, dan
kecakapan bahasa menjadi pakar dakwah serta diplomasi internasional,” ulasnya.
“Pendidikan Islam bergerak
menemukan potensi terbaik setiap anak agar mereka mampu memikul amanah kolektif
untuk memimpin dan memperbaiki peradaban dunia,” pungkasnya.[] Rere