TintaSiyasi.id -- Korban akibat bencana semakin hari semakin banyak. Banyak para pengungsi yang membutuhkan bantuan segera. Salah satunya pengungsi akibat gempa di NTT. Dikutip dari kompasiana.com (20/09/2026) 94 pengungsi gempa gempa bumi magnitudo 7,7 Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia di pengungsian.
Berdasarkan data BNPB per 15 September 2026, tercatat menimbulkan 142 kematian. Rinciannya: 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 94 orang meninggal ketika berada dalam masa pengungsian. Pada saat yang sama masih ada 46.461 orang yang mengungsi dan 1.603 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Sudah sebulan lebih para pengungsi gempa di NTT masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Korban yang jatuh selama di pengungsian pun mulai berjatuhan. Kebanyakan dari mereka adalah kelompok yang rentan. Seperti lansia, balita, anak-anak dan wanita. Apalagi sebelum gempa sudah memiliki riwayat penyakit kronis, maka dengan kondisi medan yang buruk memperparah kondisi penyakitnya.
Bencana yang terus menerus menimpa wilayah di negeri ini semakin meluas. Bencana akibat ulah manusia juga masih terjadi seperti karhutla yang tidak kunjung usai menambah beban negeri ini untuk introspeksi penuh. Apakah ini harus selalu berulang, dan dibiarkan sampai rakyat lupa atau menjadi bahan perbaikan total untuk menjadi lebih baik lagi.
Penanganan pasca bencana juga harus ditindak dengan cepat, agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi. Kelompok rentan harus menjadi fokus dalam penanganan. Apakah dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan perbaikan harus segera dilakukan. Agar masyarakat yang masih ada di pengungsian bisa hidup kembali ke tempat yang lebih baik.
Negara harus serius dan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk bahu membahu memulihkan fasilitas di tempat bencana, dan memastikan bahan makanan dan dapur umum mencapai lokasi para pengungsi. Apalagi Ada wilayah yang sulit dijangkau. Maka, harus ada perlatan yang memadai untuk mengantarkan bantuan dan membuat dapur umum. Begitu pula sesegera mungkin memperbaiki fasilitas jalan sementara, agar memudahkan ke titik pengungsi.
Semua ini membutuhkan dana yang besar, apalagi jika ada bantuan dari berbagai negara di dunia. Maka, mungkin bisa cepat terkendali. Ketidakmampuan penanganan secara totalitas dengan dalih tidak memadai peralatan, akses jalan yang sulit ditempuh, dan kurangnya pasokan dana membuat semua itu sulit untuk diselesaikan. Akhirnya para pengungsi harus menahan lamanya penanganan pemulihan pasca bencana. Padahal maut selalu mengintip di balik jendela para pengungsi.
Semua ini tidak akan terjadi ketika kita mau kembali belajar, bagaimana penanganan bencana ketika muslim di dunia menerapkan sistem islam. Dimana tidak ada sekat kebangsaan. Jika ada satu wilayah yang terjadi bencana, wilayah lain segera mengirimkan bantuan dan negara menjadi garda terdepan untuk turun memberikan bantuan. Sampai bencana selesai.
Kisah bagaimana Umar bin Khattab menangani musim paceklik di jazirah Arab. Banyak pada waktu itu gagal panen. Saat itu tercatat sepuluh ribu orang hilir mudik ke Madinah meminta bantuan dan lima puluh ribu di daerah bencana. Khalifah segera menyalurkan bantuan dan menampung para pengungsi. Khalifah memberikan segalanya sehingga tidak ada lagi yang dapat diberikan. Kemudian mengirim surat ke wilayah lain, kepada Abu Musa di Bashrah dan Amru bin Ash di Mesir, isi suratnya, "Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa".
Akhirnya bantuan segera datang sambil terus bermunajat kepada Allah SWT, Umar berdoa bersama paman Nabi, Abbas. Agar hujan segera datang. Hingga akhirnya, musim paceklik berakhir.
Ucapan Umar ketika itu adalah “Akulah sejelek-jelek kepala negara, apabila aku kenyang sementara rakyatku kelapara”. Inilah mental penguasa di dalam sistem islam. Apalagi dengan luasnya pemerintah islam waktu itu, ia tidak malu meminta bantuan para walinya untuk membantu. Apalagi hari ini banyak negeri kaum muslim yang kaya, memiliki peralatan yang canggih. Sangat memungkinkan untuk membantu saudaranya yang tertimpa musibah. Apalagi jika kaum muslimin hari ini bersatu dan tidak tersekat.
Musibah adalah alarm dari Allah untuk kita manusia bertaubat. Mungkin ada maksiat yang kita lakukan baik secara pribadi, sesama manusia, maupun rusaknya lingkungan akibat ulah manusia. Penguasa harus segera bertaubat dan kembali ke aturan Allah, agar pengelolaan kekayaan alam dan perlindungan kepada masyarakat menjadi benar dan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.
Imam atau penguasa, adalah perisai bagi warganya. Pelindung ketika sedang kesusahan, penyelesai masalah di tengah mereka, mencerdaskan dan memastikan tidak ada maksiat kepada Allah. Maka, dengan itu semua bumi dan segala isinya akan mengeluarkan keberkahannya bukan mengeluarkan amarahnya. Seperti saat ini. Wallahu a'lam bishshawwab.
Oleh: Eni Yulika
(Aktivis Muslimah)