TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tidak boleh diperlakukan sebagai tolok ukur mutlak penentu kualitas manusia dan keberhasilan pendidikan karena hanya menguji kecakapan instrumental belaka tanpa menyentuh orientasi ketuhanan serta pembentukan kepribadian luhur.
“Programme for International
Student Assessment (PISA) tidak boleh diperlakukan sebagai tolok ukur mutlak
penentu kualitas manusia dan keberhasilan pendidikan karena hanya menguji
kecakapan instrumental belaka tanpa menyentuh orientasi ketuhanan serta pembentukan
kepribadian luhur,” ulas HILMI.
“PISA tidak boleh diperlakukan
seolah-olah ia adalah ukuran sempurna bagi kualitas manusia dan keberhasilan
pendidikan karena hanya mengukur kecakapan instrumental tanpa memandu arah
tujuan kehidupan manusia,” imbuhnya kepada TintaSiyasi.ID.
“Pendidikan modern saat ini
menghadapi pertanyaan besar: untuk apa kemampuan teknis itu digunakan?
Seseorang bisa saja meraih skor matematika dan sains luar biasa, tetapi menjadi
pribadi yang egoistis, manipulatif, koruptif, serta merugikan orang lain,” tandas
HILMI pada Kamis (17/09/2026).
Di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 022 bertajuk PISA dan Tujuan Pendidikan Islam:
Mengukur Kompetensi, Menentukan Arah Kehidupan, HILMI mengulas keterbatasan
instrumen global tersebut dalam menilai hakikat kesuksesan manusia seutuhnya.
“PISA hanya berusaha menjawab
apakah seorang anak mampu membaca teks, berhitung, dan memecahkan soal teknis,
namun instrumen ini abai terhadap akidah, akhlak, pemahaman halal-haram, serta
kesiapan memikul tanggung jawab sosial di hadapan Allah Swt.,” keluhnya.
Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa
pendidikan dalam Islam tidak memisahkan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan
orientasi ketuhanan. “Wahyu pertama dalam Surah Al-'Alaq ayat 1 menegaskan
perintah membaca yang senantiasa terikat pada nama Allah Sang Pencipta,” lugasnya.
“Pendidikan bukan sekadar proses
memproduksi tenaga kerja terampil bagi pasar industri, melainkan proses
membentuk manusia yang sadar akan hakikat penciptaan dirinya, bertakwa, dan
berorientasi akhirat,” jelasnya.
HILMI juga membantah anggapan
bahwa negara dengan peringkat PISA tinggi otomatis memiliki peradaban dan
moralitas masyarakat yang lebih baik. “Ada jurang pemisah yang lebar antara
sekadar mengatakan suatu negara unggul dalam skor angka dan mengklaim sistem
pendidikannya telah berhasil memanusiakan manusia secara utuh,” ujarnya.
“Keterbatasan PISA bukan terletak
pada metode statistiknya, melainkan cakupan yang diukurnya memang bukan
keseluruhan tujuan penciptaan manusia,” ulasnya.
Oleh karena itu, HILMI mendorong
agar umat Muslim tidak terjebak menjadikan standar OECD sebagai kiblat tunggal
mutu generasi bangsa.
“PISA bertanya apakah seorang
anak mampu membaca dunia, tetapi Islam melengkapinya dengan pertanyaan yang
jauh lebih hakiki: apakah ia mengerti untuk apa ia hidup di dunia?” urai HILMI.
“Di situlah letak perbedaan
mendasar antara sekadar mencetak individu kompeten mekanis dan melahirkan
manusia bertakwa yang ilmunya berbuah kemaslahatan nyata bagi semesta,”
pungkasnya.[] Rere