Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Skor PISA Tidak Menyentuh Orientasi Ketuhanan serta Pembentukan Kepribadian Luhur

Sabtu, 19 September 2026 | 08:56 WIB Last Updated 2026-09-19T01:57:02Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tidak boleh diperlakukan sebagai tolok ukur mutlak penentu kualitas manusia dan keberhasilan pendidikan karena hanya menguji kecakapan instrumental belaka tanpa menyentuh orientasi ketuhanan serta pembentukan kepribadian luhur.

 

“Programme for International Student Assessment (PISA) tidak boleh diperlakukan sebagai tolok ukur mutlak penentu kualitas manusia dan keberhasilan pendidikan karena hanya menguji kecakapan instrumental belaka tanpa menyentuh orientasi ketuhanan serta pembentukan kepribadian luhur,” ulas HILMI.

 

“PISA tidak boleh diperlakukan seolah-olah ia adalah ukuran sempurna bagi kualitas manusia dan keberhasilan pendidikan karena hanya mengukur kecakapan instrumental tanpa memandu arah tujuan kehidupan manusia,” imbuhnya kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Pendidikan modern saat ini menghadapi pertanyaan besar: untuk apa kemampuan teknis itu digunakan? Seseorang bisa saja meraih skor matematika dan sains luar biasa, tetapi menjadi pribadi yang egoistis, manipulatif, koruptif, serta merugikan orang lain,” tandas HILMI pada Kamis (17/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 022 bertajuk PISA dan Tujuan Pendidikan Islam: Mengukur Kompetensi, Menentukan Arah Kehidupan, HILMI mengulas keterbatasan instrumen global tersebut dalam menilai hakikat kesuksesan manusia seutuhnya.

 

“PISA hanya berusaha menjawab apakah seorang anak mampu membaca teks, berhitung, dan memecahkan soal teknis, namun instrumen ini abai terhadap akidah, akhlak, pemahaman halal-haram, serta kesiapan memikul tanggung jawab sosial di hadapan Allah Swt.,” keluhnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa pendidikan dalam Islam tidak memisahkan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan orientasi ketuhanan. “Wahyu pertama dalam Surah Al-'Alaq ayat 1 menegaskan perintah membaca yang senantiasa terikat pada nama Allah Sang Pencipta,” lugasnya.

 

“Pendidikan bukan sekadar proses memproduksi tenaga kerja terampil bagi pasar industri, melainkan proses membentuk manusia yang sadar akan hakikat penciptaan dirinya, bertakwa, dan berorientasi akhirat,” jelasnya.

 

HILMI juga membantah anggapan bahwa negara dengan peringkat PISA tinggi otomatis memiliki peradaban dan moralitas masyarakat yang lebih baik. “Ada jurang pemisah yang lebar antara sekadar mengatakan suatu negara unggul dalam skor angka dan mengklaim sistem pendidikannya telah berhasil memanusiakan manusia secara utuh,” ujarnya.

 

“Keterbatasan PISA bukan terletak pada metode statistiknya, melainkan cakupan yang diukurnya memang bukan keseluruhan tujuan penciptaan manusia,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI mendorong agar umat Muslim tidak terjebak menjadikan standar OECD sebagai kiblat tunggal mutu generasi bangsa.

 

“PISA bertanya apakah seorang anak mampu membaca dunia, tetapi Islam melengkapinya dengan pertanyaan yang jauh lebih hakiki: apakah ia mengerti untuk apa ia hidup di dunia?” urai HILMI.

 

“Di situlah letak perbedaan mendasar antara sekadar mencetak individu kompeten mekanis dan melahirkan manusia bertakwa yang ilmunya berbuah kemaslahatan nyata bagi semesta,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update