Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bunga Utang Tembus Rp650 T, HILMI: Menyamai Total Defisit Anggaran Negara

Senin, 28 September 2026 | 11:48 WIB Last Updated 2026-09-28T04:48:50Z


TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai postur RAPBN 2027 menyimpan persoalan struktural yang sangat mengkhawatirkan karena alokasi pembayaran bunga utang yang menembus angka Rp650 triliun hampir menyamai seluruh total defisit anggaran negara.

 

“Alokasi pembayaran bunga utang yang menembus angka Rp650 triliun hampir menyamai seluruh total defisit anggaran negara,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Negara mungkin mengklaim rasio utang terhadap PDB masih aman secara undang-undang, tetapi biaya mempertahankan utang itu sendiri sudah sangat mahal dan membebani ruang fiskal rakyat,” tandas HILMI pada Kamis (24/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 024 bertajuk Tiga Tahun Menyehatkan Keuangan Negara? Jalan Konvensional dan Jalan Syariah, HILMI menyoroti pembengkakan beban bunga yang menyedot sekitar 19 persen dari seluruh belanja pemerintah pusat.

 

“Uang ratusan triliun rupiah yang semestinya dapat dipakai membangun sekolah, rumah sakit, irigasi pertanian, riset, serta sistem pengendalian banjir justru terkuras habis hanya demi membayar bunga pinjaman,” keluhnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa Menteri Keuangan baru harus berani mengambil langkah konsolidasi fiskal yang tegas dalam tiga tahun ke depan guna menciptakan surplus primer (primary surplus).

 

“Ruang fiskal baru sebesar Rp200 triliun hingga Rp300 triliun setahun dapat diciptakan dengan reprioritisasi belanja serta optimalisasi penerimaan secara ketat,” lugasnya.

 

Tujuh Ruang Fiskal

 

HILMI membeberkan tujuh langkah strategis untuk membuka ruang fiskal.

 

Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp240 triliun harus diubah dari skema universal menjadi terarah, yakni diprioritaskan hanya bagi balita, ibu hamil, siswa miskin, serta daerah 3T berprevalensi stunting tinggi guna menghemat puluhan triliun rupiah.

 

Kedua, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) perlu dilakukan penataan ulang (reprofiling) dengan menunda pembangunan gedung baru, fasilitas monumental, serta ekspansi kawasan demi menghemat kas negara.

 

Ketiga, proyek infrastruktur harus diklasifikasikan berdasarkan kemendesakan ekonomi riil, yakni memprioritaskan irigasi dan pengendalian banjir sembari menjadwalkan ulang proyek-proyek seremonial serta gedung megah berpermintaan rendah.

 

Keempat, pemerintah harus menghentikan kebiasaan memberi penyertaan modal negara (PMN) kepada BUMN komersial yang terus merugi.

 

Kelima, subsidi energi wajib diubah dari subsidi barang menjadi subsidi langsung kepada orang berbasis integrasi data agar tidak dinikmati kalangan mampu.

 

Keenam, penghematan belanja birokrasi harus ditegakkan melalui penerapan anggaran berbasis nol (zero-based budgeting) dengan memangkas pos perjalanan dinas, seminar hotel, renovasi kantor, dan aplikasi digital yang tumpang tindih.

 

Ketujuh, penerimaan negara harus ditingkatkan bukan dengan menaikkan tarif pajak, melainkan melalui kepatuhan pajak (tax compliance) serta penerapan royalti progresif pada sektor sumber daya alam tambang saat harga komoditas melonjak.

 

“Setiap kelebihan penerimaan komoditas maupun dividen BUMN semestinya dialokasikan ke dalam dana khusus pengurangan utang (debt reduction fund) agar pokok utang dan beban bunga terus menyusut,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menegaskan bahwa keberhasilan keuangan negara tidak boleh diukur sekadar dari kepatuhan administratif menjaga batas defisit tiga persen.

 

“Ukuran keberhasilan sejati adalah ketika APBN berhenti hidup dari pola gali lubang tutup lubang yang menyengsarakan generasi mendatang,” urai HILMI.

 

“Uang rakyat harus kembali utuh dalam wujud pelayanan publik yang nyata, bukan habis terbakar untuk membiayai keputusan utang masa lalu,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update