Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dakwah Wajib Menjadi Nadi Utama di Tengah Komunitas

Minggu, 20 September 2026 | 14:40 WIB Last Updated 2026-09-20T07:40:35Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia, Sumaiyah Shafar menegaskan bahwa dakwah tidak boleh sekadar menjadi aktivitas sampingan, melainkan wajib menjadi nadi utama di tengah-tengah komunitas.

 

“Dakwah tidak boleh sekadar menjadi aktivitas sampingan. Sebaliknya, dakwah wajib menjadi nadi utama di tengah-tengah komunitas. Setiap individu dari kita sebagai seorang Muslim wajib menyampaikan ilmu baik yang diperolehnya. Ia perlu menyampaikannya,” katanya dalam program daring Open Circle Sahabat Muslimah bertajuk Dakwah Terjun ke Masyarakat pada Ahad (30/08/2026).

 

Ia kemudian memaparkan empat alasan mengapa para pendakwah perlu terjun langsung ke tengah masyarakat dalam menjalankan aktivitas dakwah.

 

Alasan pertama, menurutnya, “Dakwah tidak boleh terasing dari masyarakat. Kita ingin menyampaikan sesuatu. Jadi, apa yang ingin kita sampaikan itu bukan untuk diri kita sendiri. Kita perlu menyampaikannya kepada masyarakat.”

 

Menurutnya, dakwah yang efektif perlu berhadapan dengan realitas kehidupan yang sesungguhnya dan tidak hanya berputar di dalam kelompok atau halakah yang terdiri atas orang-orang yang memang telah siap menerima kebaikan.

 

“Ketika dakwah itu terasing, terpencil, atau menjauhkan diri dari masyarakat umum, maka pesan yang ingin kita sampaikan mengenai Islam, kaidah Islam, ataupun sistem Islam tidak akan sampai kepada sasaran,” katanya.

 

Kedua, Ummu Zahra mengatakan bahwa masyarakat perlu merasakan kehadiran dan peran Islam dalam kehidupan mereka.

 

“Karena Islam bukan sekadar teori, dan bukan pula sekadar hiasan di bibir dalam khotbah. Islam merupakan sebuah cara hidup, sebuah way of life yang lengkap dan praktis melalui interaksi dakwah secara langsung di lapangan, yaitu bersama masyarakat,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa interaksi tersebut memungkinkan masyarakat melihat bagaimana solusi Islam dapat diterapkan dalam persoalan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan keadilan.

 

“Jadi, masyarakat perlu melihat bahwa Islam hadir sebagai solusi atau penyelesaian, bukan sekadar beban hukum-hukum,” tegasnya.

 

Ketiga, perubahan masyarakat tidak akan terjadi hanya melalui arahan di atas kertas ataupun dengan menunggu masyarakat berubah dengan sendirinya. Sebaliknya, perubahan membutuhkan keterlibatan secara langsung.

 

Ia menjelaskan, “Untuk mengubah cara berpikir suatu masyarakat, kita perlu memiliki proses komunikasi dua arah. Kita perlu berdialog, berdiskusi, dan bertatap muka untuk membuka ataupun membangun kesadaran intelektual serta kesadaran politik umat secara berkelanjutan.”

 

Keempat, guru sejarah tersebut mengatakan bahwa dakwah tidaklah memadai apabila hanya berada di pinggiran masyarakat. Sebaliknya, dakwah perlu sampai dan menyentuh kehidupan nyata mereka.

 

“Kita tidak boleh sekadar menjadi pengamat pasif. Seperti yang saya katakan tadi, kita harus berinteraksi, berdialog, dan berdiskusi. Barulah pesan itu sampai kepada sasaran yang ingin kita dakwahi,” ulangnya menegaskan.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa proses mendekati masyarakat juga menuntut para pendakwah untuk memahami pandangan, emosi, kesulitan, dan ujian yang mereka hadapi melalui dialog serta diskusi.

 

“Barulah masyarakat ataupun sasaran dakwah kita akan memiliki rasa percaya dan merasa dekat dengan kita. Jadi, di sini kita melihat bahwa ketika kita ingin mengubah masyarakat, kita tidak boleh jauh dari mereka. Kita harus terjun dan dekat dengan mereka,” ujarnya.

 

Pada saat yang sama, ia mengingatkan bahwa upaya terjun ke tengah masyarakat perlu disertai dengan kesiapan diri agar para pendakwah tidak ikut hanyut dalam kerusakan yang ingin diubah. Sebaliknya, mereka perlu mendekati masyarakat sebagai sahabat yang membawa solusi Islam.

 

“Kita ingin menjadi pihak yang memberikan pengaruh, bukan yang terpengaruh. Jadi, kita harus mempersiapkan diri. Kita tetap perlu berpegang pada pemikiran Islam. Prinsip dan tujuan kita dalam berdakwah harus jelas," serunya. 


"Kita bergaul bukan untuk menyesuaikan diri ataupun ikut tenggelam, tetapi berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat untuk melemparkan pelampung penyelamat serta menarik mereka keluar dari arus kerusakan tersebut,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update