“Dakwah tidak boleh sekadar
menjadi aktivitas sampingan. Sebaliknya, dakwah wajib menjadi nadi utama di
tengah-tengah komunitas. Setiap individu dari kita sebagai seorang Muslim wajib
menyampaikan ilmu baik yang diperolehnya. Ia perlu menyampaikannya,” katanya
dalam program daring Open Circle Sahabat Muslimah bertajuk Dakwah
Terjun ke Masyarakat pada Ahad (30/08/2026).
Ia kemudian memaparkan empat
alasan mengapa para pendakwah perlu terjun langsung ke tengah masyarakat dalam
menjalankan aktivitas dakwah.
Alasan pertama, menurutnya,
“Dakwah tidak boleh terasing dari masyarakat. Kita ingin menyampaikan sesuatu.
Jadi, apa yang ingin kita sampaikan itu bukan untuk diri kita sendiri. Kita
perlu menyampaikannya kepada masyarakat.”
Menurutnya, dakwah yang efektif
perlu berhadapan dengan realitas kehidupan yang sesungguhnya dan tidak hanya
berputar di dalam kelompok atau halakah yang terdiri atas orang-orang yang
memang telah siap menerima kebaikan.
“Ketika dakwah itu terasing,
terpencil, atau menjauhkan diri dari masyarakat umum, maka pesan yang ingin
kita sampaikan mengenai Islam, kaidah Islam, ataupun sistem Islam tidak akan
sampai kepada sasaran,” katanya.
Kedua, Ummu Zahra mengatakan
bahwa masyarakat perlu merasakan kehadiran dan peran Islam dalam kehidupan
mereka.
“Karena Islam bukan sekadar
teori, dan bukan pula sekadar hiasan di bibir dalam khotbah. Islam merupakan
sebuah cara hidup, sebuah way of life yang lengkap dan praktis melalui
interaksi dakwah secara langsung di lapangan, yaitu bersama masyarakat,”
ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa interaksi
tersebut memungkinkan masyarakat melihat bagaimana solusi Islam dapat
diterapkan dalam persoalan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan keadilan.
“Jadi, masyarakat perlu melihat
bahwa Islam hadir sebagai solusi atau penyelesaian, bukan sekadar beban
hukum-hukum,” tegasnya.
Ketiga, perubahan masyarakat
tidak akan terjadi hanya melalui arahan di atas kertas ataupun dengan menunggu
masyarakat berubah dengan sendirinya. Sebaliknya, perubahan membutuhkan
keterlibatan secara langsung.
Ia menjelaskan, “Untuk mengubah
cara berpikir suatu masyarakat, kita perlu memiliki proses komunikasi dua arah.
Kita perlu berdialog, berdiskusi, dan bertatap muka untuk membuka ataupun
membangun kesadaran intelektual serta kesadaran politik umat secara berkelanjutan.”
Keempat, guru sejarah tersebut
mengatakan bahwa dakwah tidaklah memadai apabila hanya berada di pinggiran
masyarakat. Sebaliknya, dakwah perlu sampai dan menyentuh kehidupan nyata
mereka.
“Kita tidak boleh sekadar menjadi
pengamat pasif. Seperti yang saya katakan tadi, kita harus berinteraksi,
berdialog, dan berdiskusi. Barulah pesan itu sampai kepada sasaran yang ingin
kita dakwahi,” ulangnya menegaskan.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa
proses mendekati masyarakat juga menuntut para pendakwah untuk memahami
pandangan, emosi, kesulitan, dan ujian yang mereka hadapi melalui dialog serta
diskusi.
“Barulah masyarakat ataupun
sasaran dakwah kita akan memiliki rasa percaya dan merasa dekat dengan kita.
Jadi, di sini kita melihat bahwa ketika kita ingin mengubah masyarakat, kita
tidak boleh jauh dari mereka. Kita harus terjun dan dekat dengan mereka,”
ujarnya.
Pada saat yang sama, ia
mengingatkan bahwa upaya terjun ke tengah masyarakat perlu disertai dengan
kesiapan diri agar para pendakwah tidak ikut hanyut dalam kerusakan yang ingin
diubah. Sebaliknya, mereka perlu mendekati masyarakat sebagai sahabat yang membawa
solusi Islam.