Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kabut Asap, Aktivis: Sistem Berbasis Kapitalisme Sekuler Jadi Penyebab Kerusakan

Minggu, 20 September 2026 | 14:40 WIB Last Updated 2026-09-20T07:40:53Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Syafinaz Safar menyebut bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berakar pada penerapan sistem ekonomi kapitalis sekuler yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan material dibandingkan keselamatan nyawa serta kelestarian alam.

 

“Saya sebut soal kapitalis ya, kerusakan sistem ini berakar dari penerapan sistem ekonomi kapitalis sekuler yang mendewakan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan material dibandingkan keselamatan nyawa serta kelestarian lingkungan,” ujarnya saat mengulas akar persoalan krisis kabut asap dalam program daring Open Circle bertajuk Bernafas dalam Jerebu pada Sabtu (12/09/2026).

 

Menurut Syafinaz, persoalan kabut asap tidak cukup dilihat hanya dari sisi pembakaran hutan semata. Persoalan tersebut, katanya, juga perlu dikaitkan erat dengan kebijakan liberalisasi pasar dan pembukaan lahan secara komersial tanpa pengawasan ketat, yang membuka ruang bagi pengaruh oligarki bisnis dalam lingkaran kekuasaan.

 

“Apa itu oligarki? Sekelompok kecil individu yang memiliki kekuasaan, menguasai, dan mengendalikan sebuah negara atau organisasi, biasanya berasal dari kalangan orang kaya, elite politik, atau mereka yang memiliki kedudukan,” jelasnya.

 

Ia berpandangan bahwa dominasi para pemilik modal menjadi kian bermasalah ketika akumulasi laba dijadikan prioritas utama. Akibatnya, biaya untuk mengelola lahan secara berkelanjutan dianggap sebagai beban pengeluaran, sementara masyarakat luas dipaksa menanggung dampak buruk pencemaran udara.

 

“Bagi korporasi kapitalis, hutan dimanfaatkan untuk meraup keuntungan ekonomi. Mereka melakukan pembakaran terbuka guna menekan biaya pembersihan lahan ataupun saat hendak menanam kembali,” terangnya.

 

Ia juga menegaskan bahwa penyelesaian yang hanya bersifat tambal sulam dan teknis di lapangan tidak akan mampu mencabut akar persoalan selama pertimbangan keuntungan materi masih diletakkan di atas keselamatan masyarakat.

 

“Pihak berwenang seharusnya menerapkan pengawasan yang sangat ketat melalui penegakan hukum demi memastikan pembakaran terbuka tidak dilakukan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pengawasan sangat longgar,” ujarnya.

 

Sebagai solusi mendasar, ia mengemukakan prinsip syariat Islam yang mengharamkan segala bentuk perbuatan yang memicu mara bahaya bagi publik.

 

“Islam telah menetapkan kaidah fikih yang agung, yaitu la dharara wa la dhirar, tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh menimbulkan bahaya bagi orang lain. Kaidah ini menuntut agar setiap aktivitas ekonomi yang merusak tatanan hidup masyarakat dihentikan seketika,” katanya.

 

Dalam kerangka tersebut, Syafinaz mengatakan negara wajib bertindak sebagai pelindung rakyat (ra'in), bukan sekadar menjadi pelayan kepentingan para pemodal besar.

 

“Dalam Islam, negara bertindak sebagai ra'in yang bertanggung jawab menjaga harta, nyawa, dan lingkungan demi kemaslahatan rakyat, bukan berfungsi sebagai fasilitator bagi kepentingan elite kapitalis,” urainya.

 

Ia menandaskan bahwa kawasan hutan dan kekayaan alam strategis tidak boleh dialihkan menjadi area monopoli korporasi swasta, melainkan wajib dikelola langsung oleh negara demi kemakmuran rakyat banyak.

 

“Hutan dan sumber daya alam utama termasuk dalam kepemilikan umum yang tidak boleh diprivatisasi secara serakah atau dimonopoli oleh korporasi mana pun demi keuntungan segelintir pihak. Hutan adalah milik umat, sedangkan negara bertindak sebagai pengelola amanah tersebut,” rincinya.

 

Ia menegaskan bahwa paradigma Islam memadukan tanggung jawab kekuasaan dengan kewajiban menjaga keseimbangan ekosistem bumi demi meraih rida Allah Swt.

 

“Sudah saatnya umat manusia kembali kepada sistem Islam yang menyeluruh, yang menempatkan ketakwaan, keadilan, dan pemeliharaan lingkungan sebagai prinsip utama dalam menjaga kesejahteraan umat demi kemaslahatan kita semua,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update