Tintasiyasi.id.com -- Sungguh aneh, bandara yang memiliki sistem keamanan ketat dalam pemeriksaan para penumpang malah bisa kebobolan. Apalagi yang membawa adalah pilot.
Apakah standar pemeriksaan seorang pilot berbeda dengan penumpang atau lebih dipermudah. Masih dalam pemeriksaan, seperti dikabarkan dalam (CNNIndonesia.com, 04/08/2026)
Badan Pengawasan dan Perlindungan Perbatasan Malaysia (AKPS) mengatakan otoritas berwenang masih mencari cara bagaimana pilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman (MSO) bisa lolos serangkaian pemeriksaan bandara dan menyelundupkan 26 kilogram narkoba ke Indonesia.
Pihak berwenang Indonesia menangkap MSO di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Dari hasil pemeriksaan, petugas bea cukai menemukan 14 kantong ekstasi yang berisi lebih dari 70.000 pil di dalam koper pilot, dan empat gram metamfetamin, yang diduga untuk penggunaan pribadi, di dalam tas tangan MSO.
Dalam pernyataan kepada penyidik, MSO mengatakan sudah dua kali menyelundupkan narkoba, pertama ke Indonesia dan kedua ke Malaysia. Penyelundupan kali ini merupakan kali ketiga. MSO dicurigai sebagai bagian dari sindikat internasiini masih lewat bandara.
Belum lagi lewat jalur gelap yang sangat minim pengawasan. Indonesia menjadi target masuknya barang-barang haram yaitu narkoba. Kita sudah akan memasuki hari kemerdekaan yang ke-81 tahun.
Tetapi masalah penyelundupan tetap saja belum bisa diatasi. Ini membuktikan kegagalan sistem hari ini memberikan keamanan kepada masyarakat.
Tidak hanya narkoba, darurat masalah di negeri kita sudah semakin merajalela. Masalah meningkatknya LGBT, kriminalitas, korupsi, kerusakan hutan, kekerasan seksual dan masih banyak lagi, menjadi makanan berita sehari-hari bagi masyarakat. Sampai-sampai telinga ini sudah hampir pecah melihat kerusakan yang sudah merata.
Berbicara masalah keamanan bandara penerbangan. Pemeriksaan tiket dan identitas di pintu masuk, pemindaian barang bawaan menggunakan mesin X-ray, serta pemeriksaan tubuh penumpang lewat alat detektor logam (Walk Through Metal Detector) di pos pemeriksaan keamanan (Security Checkpoint / SCP).
Mendeteksi narkoba melalui mesin X-ray bisa melalui bentuk kemasan, kepadatan, atau bantuan teknologi warna/AI, namun efektivitasnya terbatas dan biasanya memerlukan kejelian petugas atau dukungan alat spesifik lain.
Sehingga narkoba bisa saja lolos jika petugas keamanan tidak selektif melihat layar mesin tersebut. Apalagi jika ada tindakan suap dari pelaku ke petugas. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan dan ketelitian dari petugas. Selain ketelitian juga amanah dalam bekerja dari petugas sangat menentukan.
Melihat sudah yang ketiga kalinya pelaku melakukan hal tersebut, sedangkan ketiga kalinya ketahuan. Maka, ini menjadi pelajaran agar kedepannya bisa memperketat pengawasan penumpang. Narkoba sudah lama masuk ke Indonesia, tetapi ternyata sangat sulit untuk memberantasnya.
Pengguna dan penyebar narkoba pun semakin beragam. Baik itu, masyarakat biasa, artis, pejabat bahkan pihak penjaga keamanan dalam negeri yaitu kepolisian. Berarti pemberantasan narkoba masih perlu ditingkatkan.
Pemberantasan narkoba harus didukung negara, dan serius dalam penanganannya. Apalagi tempat-tempat yang menjadi daerah selundupan. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) dan penegak hukum, sekitar 80% penyelundupan narkoba dari luar negeri ke Indonesia dikirim melalui jalur laut yaitu menggunakan kapal nelayan atau kapal kargo di perairan gelap. Selain laut, sindikat internasional juga memanfaatkan jalur udara dan darat.
Dengan melihat dan pengalaman menangani kasus narkoba seharusnya tempat- tempat rawan tersebut harus dijaga ketat. Belum lagi sanksi bagi pengguna dan pengedar harus diberi sanksi yang tegas. Sehingga tidak berani lagi menggunakan barang haram tersebut.
Begitupula alasan para pengguna narkoba seperti rasa ingin tahu, lingkungan teman sepermainan, lari dari masalah menjadi alasan yang sering diungkapkan. Ada juga karena faktor ekonomi yang menghimpit hidup, keluarga yang berantakan, akhirnya menjadikan mereka pengguna sekaligus pengedar narkoba.
Atau mencari uang praktis, cepat dengan menjual narkoba. Semua ini harus dicari akar permasalahannya. Sehingga masyarakat tidak lagi mencari solusi dengan kesenangan semu.
Jika alasannya karena individu yang mencari kesenangan semu dan cepat. Berarti harus ada pemberian informasi tentang bahaya narkoba berikut juga penanaman agama yang kuat. Agar ada benteng diri untuk tidak memakai barang haram tersebut.
Begitu pula peran negara sangatlah penting membangun suasana kehidupan yang sejahtera, memberikan masyarakat edukasi dan dijauhkan dari hal-hal yang merusak rumah tangga. Khususnya masalah ekonomi yang menyebabkan tingkat perceraian yang tinggi, membuka lapangan pekerjaan dan memberikan gaji yang layak. Selain itu menutup celah-celah masuknya narkoba dan memberikan sanksi yang tegas.
Sistem Islam memiliki tanggung jawab demikian. Karena pemimpin dalam islam diberikan kewajiban untuk menerapkan syariat kepada seluruh warga negara. Keamanan dan kesejahteraan warganya menjadi hal utama yang akan dilakukan, bukan memimpin sesuai hawa nafsunya sendiri. Atau hanya berniat untuk bekerja dan mengumpulkan uang.
Dengan penerapan Islam akan terwujud individu yang sholih dan masyarakat yang saling amar makruf serta pemimpin yang tidak mengambil yang bukan haknya.
Seperti kisah salah satu pemimpin yaitu Umar bin Abdul Aziz yang mematikan lampu kantor ketika anaknya datang untuk berbicara dengannya. Karena yang ingin dibicarakan anaknya adalah urusan keluarga. Begitulah sistem Islam membentengi individu agar menjadi pribadi yang takut dengan Azab Allah SWT.[]
Oleh: Eni Yulika
(Aktivis Muslimah)