"Jangan sampai kita terjebak
menjadi main character dalam kisah hidup kita sendiri. Jadilah game
changer yang membawa manfaat dan menjadi bagian dari kebangkitan umat,"
ujarnya dalam Talkshow 'Be An Amazing Ummah’ di Putrajaya, Sabtu (04/07/2026).
Menurutnya, cara berpikir yang
menempatkan diri sendiri sebagai watak utama (main character) dalam
hidup lahir dari sikap individualistis yang menyebabkan seseorang
memprioritaskan kepentingan sendiri di atas kepentingan orang lain.
"Cara berpikir ini lahir
dari sikap individualistis hingga lupa bahwa mereka juga bagian dari
masyarakat. Akibatnya, generasi muda menghindari memikirkan masalah orang lain,
dan bahkan menganggap masalah komunitas sebagai beban tambahan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tekanan
hidup seperti tuntutan pekerjaan, masalah keuangan, krisis keluarga, dan
tantangan belajar telah menyebabkan banyak anak muda memilih untuk hanya
mengurusi hidup mereka sendiri.
"Mereka berpikir, 'Aku
mengurusi hidupku, kamu mengurusi hidupmu'. Mereka tidak lagi ingin tahu
tentang urusan orang lain," katanya.
Dr. Huda mengatakan, sejarah
telah membuktikan bahwa kaum muda telah memainkan peran utama dalam kebangkitan
Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw..
"Banyak sahabat terdahulu
memeluk Islam ketika mereka berusia 8, 10, 15, dan 18 tahun. Mereka menerima
Islam ketika masih muda dan akhirnya menjadi kontributor utama bagi kebangkitan
umat Islam," katanya.
Ia mengatakan bahwa para sahabat
memeluk Islam di usia muda karena mereka peka terhadap kerusakan sosial yang
terjadi di masyarakat Quraisy.
"Kepekaan terhadap kondisi
sekitar inilah yang mendorong mereka untuk memikul tanggung jawab dakwah dan
turun ke tengah masyarakat serta menjadi agen perubahan, bukan hanya memikirkan
kepentingan pribadi mereka sendiri," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa
perkembangan teknologi digital saat ini harus dimanfaatkan oleh generasi muda
untuk mendidik masyarakat dan berkontribusi pada pembangunan komunitas.
"Umat Islam perlu
memanfaatkan peluang yang ada untuk menjadi influencer (pemengaruh) yang
memberikan kesadaran dan membentuk cara berpikir masyarakat, bukan hanya
menggunakan platform media sosial untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,"
tegasnya.
Ia menyimpulkan bahwa individu
bukanlah entitas terpisah dari masyarakat, melainkan bagian dari umat yang
memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan
masing-masing.
"Amazing ummah tidak
akan dibangun melalui individu-individu yang hanya mengejar kesuksesan pribadi,
melainkan lahir dari generasi yang memiliki ambisi tinggi (himmah 'aliyah)
untuk memberikan ide, energi, dan kepakaran demi kemaslahatan umat,"
simpulnya.[] Hidayah Muhammad