Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dinamika Kehidupan Gen Z: Antara Tuntutan Ekonomi dan Krisis Identitas

Senin, 24 Agustus 2026 | 19:02 WIB Last Updated 2026-08-24T12:03:01Z


Tintasiyasi.id.com -- Gen Z, mereka lahir antara tahun 1997-2012. Mereka melek teknologi, tanpa mengikuti kelas khusus apapun. Mereka juga cepat adaptasi dengan lingkungan sekitar dan sangat kreatif. Benar-benar generasi yang penuh semangat dan kuat. Tapi di balik feed aesthetic dan reels 15 detik, Gen Z hari ini sedang berteriak pelan dengan kata “capek”. 

Data BPS 2024 mencatat pengangguran usia 15-24 tahun masih di angka 14,46%. Di sisi lain, survei KPAI + Alvara 2023 menyebut 89% remaja terpapar konten hedonis tiap hari. Ditambah survei WHO 2023: 1 dari 3 Gen Z mengaku mengalami kecemasan dan depresi. Gen Z sebenarnya tidaklah malas, mereka hanya terhimpit oleh kenyataan yang terjadi saat ini. 

Tekanan Ekonomi: Kerja keras tapi tetap nggak cukup. Uang kuliah yang terus naik. Harga barang kebutuhan juga ikut melambung. Tapi UMR dan lapangan kerja entry-level stagnan. 

Akibatnya muncul fenomena quarter life crisis, sandwich generation, dan layoff massal. Gen Z dituntut mandiri finansial di usia 22, tapi sistem justru semakin mempersulit hidup mereka. 

Budaya Hedonis: Validasi atau Mati. Media sosial menjual standar harus liburan, harus punya iPhone. FOMO jadi bahan bakar. Budaya self reward, flexing, dan YOLO (You Only Live Once) dinormalisasi. Hedonisme bukan lagi gaya hidup orang kaya, tapi semua seolah dituntut agar tampil kaya meskipun pura-pura saja. 

Ditambah fasilitas yang memudahkan mereka untuk mendapatkan dana seperti hutang paylater dan pinjol dengan bunga ringan. Tujuannya satu agar mereka diakui, meskipun mereka harus menanggung kesusahan pada akhirnya. 

Krisis Tujuan Hidup: Untuk Apa Semua Ini? 

Ketika ekonomi menekan dan hedonis menawarkan pelarian, yang hilang adalah kompas. Hal ini membuat cita-cita seolah tak mampu lagi mereka raih, bahkan enggan memiliki mimpi yang besar, akhirnya hanya sekedar menjalani hidup mengikuti trend. 

Muncul istilah quiet quitting, bed rotting, dan meningkatnya bunuh diri pada usia produktif. Tanpa tujuan akhirat, kesuksesan dunia terasa hampa. 

Akar Masalahnya Dimana?

Jika kita bedah, akar masalahnya hanya satu yakni Sistem Kapitalisme-Sekularisme. Sistem Kapitalis melahirkan tekanan ekonomi. Layanan publik jadi komoditas. Manusia diukur dari produktivitas dan gaji. 

Wajar Gen Z stres, karena sejak lahir sudah dibisikkan bahwa uang adalah segalanya. Budaya Sekuler melahirkan Hedonisme, dimana standar baik-buruk diukur dari tren dan viral. Kalo ga trend ya kuno, di anggap ketinggalan jaman bahkan tabu dan keliru. 

Sistem ini juga membuat ketiadaan visi akhirat, sehingga Gen Z menjadi bingung tanpa tujuan. Padahal, hidup hanya untuk dunia saja capek. Karena dunia tidak pernah cukup. Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki 2 lembah emas, dia akan mencari lembah ketiga” [HR. Bukhari]  

Solusi Islam Membangun Gen Z yang Kokoh

Islam adalah agama yang Allah ridhoi dan sempurna, Islam tidaklah anti dunia. Islam memberi aturan kepada manusia agar dunia menjadi jembatan ke akhirat. Dan cita-cita tertinggi manusia adalah kelak masuk kedalam syurga. 

Karena manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Solusinya harus mentaati Allah secara menyeluruh baik masalah individu, masyarakat, bahkan negara. 

Di dalam sistem ekonomi islam, aktivitas riba, monopoli, dan eksploitasi diharamkan. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu. Negara mengelola SDA untuk rakyat, bukan korporasi. Lapangan kerja dibuka sebesar-besarnya, zakat dan Baitul Mal difungsikan untuk mengentaskan kemiskinan. 

Individu akan diajarkan tentang finansial syariah, mengasah skill, hingga berwirausaha halal. Bahkan individu akan dibina dengan Syakhsiyah Islam. Sehingga diatur cara berpakaian, pergaulan, makanan, dan termasuk hiburan. 

Ini bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Maka untuk saat ini, diperlukan peran individu dalam melakukan perubahan misalnya dengan "Digital Detox" dan "Hijrah Feed". Mengkaji Islam lebih dalam. 

Begitu juga peran masyarakat untuk hidup rukun, gemar ber-amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah masif agar Gen Z paham "siapa dirinya". Terakhir untuk mengembalikan kompas akhirat kepada para Gen Z, maka kembalikan kepada Al-Qur'an dan hadist, ingatlah firman Allah : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Mulailah perbaiki sholat 5 waktu, miliki "visi akhirat" dalam setiap perbuatan. Kejar pahala, bukan validasi. GEN Z bukan masalah, tapi solusi. Gen Z tidaklah rusak, hanya ditaruh di sistem yang salah dan rusak saat ini. 

Ketika ekonomi diatur Islam, maka tenang. Ketika budaya diatur Islam, maka terjaga. Ketika tujuan hidup dikembalikan kepada Allah, maka tidak ada lagi yang kosong. 

Wahai Gen Z, kamu bukan generasi "salah jurusan". Kamu adalah generasi yang ditunggu untuk mengembalikan peradaban. Jangan biarkan dirimu terhimpit. Berdirilah. Karena “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” [HR. Ahmad].[]

Oleh: Rina Muslimah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update