TintaSiyasi.id -- Abad ke-21 tidak kekurangan guncangan. Namun yang terjadi pada Juli 2026 terasa berbeda. Dunia tidak lagi menghadapi satu krisis, melainkan banyak krisis yang datang bersamaan dan saling menguatkan. Para ahli menyebutnya polikrisis.
Di Afrika Utara, Maroko terbakar oleh gelombang panas keempat dalam tiga bulan. Suhu di wilayah selatan dan tenggara menyentuh 44°C hingga 47°C dan mendekati 50°C di beberapa titik. Di saat yang sama, ribuan orang berbondong-bondong menyeberangi Selat Gibraltar menuju Ceuta, wilayah Spanyol. Mereka berjalan di atas pemecah gelombang, memanjat pagar, dan berenang di tengah malam. Setidaknya 9 orang meninggal di hari pertama. Militer Spanyol dikerahkan. Perdana Menteri Pedro Sánchez terbang ke Ceuta.
Peristiwa ini bukan sekadar berita migrasi. Ini adalah gejala. Gejala dari sebuah dunia yang sedang sakit.
Tulisan ini akan membahas 6 hal: krisis global yang meresahkan, migrasi ekstrem Maroko-Spanyol, dampaknya ke dunia, akar penyebabnya, pelajaran untuk Indonesia, dan solusi Islam atas semua ini.
Krisis Global yang Makin Meresahkan
Krisis hari ini bersifat sistemik. Ia tidak berdiri sendiri.
Pertama. Krisis iklim.
Menurut IPCC, kawasan Mediterania termasuk climate hotspot. Pemanasannya 20% lebih cepat dari rata-rata global. Maroko adalah salah satu korbannya. Ilmuwan iklim Mohammed Saïd Karrouk dari Universitas Hassan II Casablanca menyatakan bahwa yang dulu disebut peristiwa ekstrem kini telah menjadi norma. "Ketika ada kekeringan, ia sangat cepat dan sangat intens. Ketika hujan datang, ia sangat melimpah."
Gelombang panas tidak hanya membuat tidak nyaman. Ia membunuh pertanian. Ia mengeringkan waduk. Ia meningkatkan permintaan listrik untuk pendingin, padahal pasokan air untuk PLTA berkurang.
Kedua. Krisis air dan pangan.
Hidrolog Abdelghani Chehbouni dari Universitas Politeknik Mohammed VI menjelaskan bahwa gelombang panas memperparah stres air karena dua hal terjadi bersamaan: permintaan naik dan sumber daya berkurang. Petani di pedesaan Maroko gagal panen dua musim berturut-turut. Harga gandum dan sayur naik. Di kota, antrean air bersih mulai terlihat.
Ketiga. Krisis ekonomi.
World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Maroko melambat menjadi 4,2% pada 2026, turun dari 4,9% pada 2025. Tahun lalu tinggi karena dua hal: belanja infrastruktur Piala Dunia 2030 dan rebound pertanian. Pemerintah menggelontorkan 190 miliar dirham atau sekitar 20 miliar dolar AS untuk rel, jalan, bandara, dan stadion.
Namun pertumbuhan itu tidak dirasakan merata. Inflasi energi akibat konflik Timur Tengah membuat harga BBM dan listrik naik. Sementara itu, pengangguran lulusan muda tetap tinggi. Di desa, orang tidak punya pilihan selain utang.
Keempat. Krisis kepercayaan publik.
Di tengah kesulitan ekonomi, ruang kritik menyempit. Pada pertengahan Juli 2026, jurnalis Franco-Maroko Ali Lmrabet ditangkap di Tangier. Sehari setelahnya, sineas El Mahdi Lyoubi ditangkap di Casablanca. Penangkapan ini mengirim pesan: kritik terhadap rezim berisiko. Ketika ekonomi sulit dan politik tertutup, maka pintu keluar yang tersisa adalah fisik: pergi dari negara.
Migrasi Besar-besaran dan Ekstrem dari Maroko ke Spanyol
Ceuta adalah kota otonomi Spanyol di benua Afrika. Luasnya hanya 18,5 km persegi. Ia berbatasan darat langsung dengan Maroko. Karena itu ia menjadi titik paling pendek menuju Eropa.
Pada Kamis Juli 2026, perbatasan di Tarajal "benar-benar runtuh". Ribuan orang, sebagian besar warga Maroko, menyeberang. Sebagian memanjat pagar setinggi 6 meter. Sebagian lagi berenang mengitari pemecah gelombang. Video yang beredar menunjukkan ratusan orang berjalan di jalan raya Ceuta setelah berhasil masuk.
Rachid Sbihi, kepala asosiasi Civil Guard di Ceuta, menyebut situasinya kacau balau. Achraf Maimouni dari Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko menyebutnya luar biasa karena pos perbatasan dibuka dalam keadaan tidak biasa pagi itu.
Respon Spanyol cepat. Pemerintah mengumumkan pengerahan Angkatan Bersenjata untuk membantu Civil Guard menjaga keamanan. PM Pedro Sánchez dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Jumat. Korban terus bertambah. Dari 9 orang pada hari pertama, jumlahnya naik menjadi 18 pada hari berikutnya. Mereka mati karena tenggelam, kelelahan, atau tertimpa pagar.
Mengapa mereka nekat? Karena di sisi lain rasa takut ada rasa putus asa yang lebih besar. Di kampung mereka, tidak ada air. Tidak ada kerja. Tidak ada harapan.
Bagaimana Krisis Global Ini Berdampak pada Dunia
Dunia hari ini terhubung. Jatuhnya satu domino akan menjatuhkan domino lain.
Pertama. Dampak kemanusiaan.
Setiap jenazah di Ceuta adalah tragedi. Di belakangnya ada ibu, anak, dan utang. Kamp pengungsi di sekitar Ceuta dan Melilla penuh. Layanan kesehatan kewalahan. Anak-anak putus sekolah karena harus ikut orang tua menyeberang.
Kedua. Dampak politik Eropa.
Isu migrasi selalu menjadi bahan bakar politik. Partai-partai sayap kanan di Spanyol, Prancis, dan Italia menggunakan gambar Ceuta untuk menuntut pengetatan perbatasan. Di saat yang sama, Prancis dan Maroko sedang merundingkan perjanjian persahabatan pertama antara Prancis dan negara non-Eropa. Isinya mencakup ekonomi, budaya, dan masyarakat sipil. Krisis migrasi membuat negosiasi itu jadi lebih sulit.
Ketiga. Dampak ekonomi.
Maroko adalah mitra dagang penting Uni Eropa. Ekspor pertanian, tekstil, dan otomotif Maroko masuk ke Eropa. Remitansi dari warga Maroko di Eropa juga menopang ekonomi Maroko. Jika Eropa masuk resesi karena beban pengungsi dan harga energi, maka ekspor Maroko turun. Jika ekonomi Maroko turun, maka gelombang migrasi berikutnya akan lebih besar. Ini lingkaran setan.
Keempat. Dampak keamanan.
Penyelundup manusia mendapat untung besar dari kekacauan. Jaringan perdagangan manusia di sepanjang pantai utara Afrika semakin kuat. Di sisi lain, perekrutan kelompok ekstrem juga memanfaatkan kekecewaan anak muda yang tidak punya masa depan.
Apa yang Menjadi Penyebab dari Krisis Global
Jika kita tarik ke belakang, ada 4 akar utama:
Pertama. Kerusakan ekologis.
Model pembangunan 200 tahun terakhir berbasis eksploitasi. Hutan ditebang, karbon dibuang ke udara, laut diracuni. Akibatnya iklim tidak stabil. Kekeringan di Maroko adalah bukti. Ketika alam rusak, manusia yang paling miskin yang pertama merasakan.
Kedua. Ketimpangan sistem ekonomi.
Pertumbuhan 4,9% di Maroko tahun lalu terdengar bagus. Tapi ia didorong oleh proyek-proyek besar untuk Piala Dunia 2030. Stadion dibangun, tapi lapangan kerja untuk lulusan SMK di desa tidak ada. Uang berputar di kota besar. Di desa, orang hanya menonton. Kesenjangan ini melahirkan kemarahan dan keputusasaan.
Ketiga. Krisis tata kelola dan politik.
Konflik global menaikkan harga energi dan pangan. Di dalam negeri, ketika kebijakan salah dan tidak ada ruang koreksi, maka rakyat kehilangan kepercayaan. Penangkapan aktivis dan jurnalis membuat orang merasa tidak punya suara. Satu-satunya cara bersuara adalah dengan kaki: meninggalkan negara.
Keempat. Krisis makna dan spiritual.
Ini yang paling dalam. Manusia modern diajarkan bahwa kebahagiaan adalah uang, rumah, dan mobil. Ketika semua itu tidak tercapai, maka hidup terasa kosong. Putus asa lahir dari sini. Orang rela mati di laut karena merasa hidup di darat sudah tidak ada artinya.
Dari Peristiwa di Maroko, Apa Pelajaran yang Bisa Diambil Indonesia?
Indonesia dan Maroko punya beberapa kemiripan: negara Muslim mayoritas, garis pantai panjang, rawan perubahan iklim, dan punya banyak pemuda. Karena itu tragedi Ceuta harus jadi cermin.
Pertama. Pelajaran iklim.
Maroko menunjukkan bahwa gelombang panas dan kekeringan bisa datang sangat cepat. Indonesia juga rawan. El Nino, kemarau panjang, dan gagal panen bisa memicu migrasi internal dari NTT, Jawa Timur, ke kota besar. Pemerintah harus mempercepat adaptasi: waduk, irigasi hemat air, dan bibit tahan kering.
Kedua. Pelajaran ekonomi.
Jangan hanya bangga dengan pertumbuhan GDP. Tanya: siapa yang menikmati? Proyek Ibu Kota Negara, kereta cepat, dan sirkuit MotoGP bagus. Tapi pastikan juga ada lapangan kerja di desa, koperasi nelayan, dan UMKM naik kelas. Jika tidak, maka 10 tahun lagi kita akan melihat pemuda Indonesia menyeberang laut dengan perahu ke Malaysia atau Australia.
Ketiga. Pelajaran sosial-politik.
Ketika orang tidak punya saluran untuk bersuara, mereka akan melampiaskannya dengan cara lain. Indonesia harus menjaga ruang dialog. Kritik harus dijawab dengan kebijakan, bukan dengan kriminalisasi. Keterbukaan adalah katup pengaman agar tekanan tidak meledak.
Keempat. Pelajaran migrasi.
Indonesia punya 9 juta pekerja migran. Banyak yang berangkat karena desakan ekonomi. Pelajaran dari Maroko: negara harus hadir sebelum warga putus asa. Beri pelatihan, beri perlindungan, dan buka jalur migrasi legal yang aman. Jangan biarkan calo dan mafia yang mengurus.
Singkatnya: jangan tunggu sampai ada "Ceuta versi Indonesia" baru kita bergerak.
Bagaimana Solusi Islam terhadap Fenomena Krisis Global sampai Migrasi Besar-besaran
Islam memandang krisis bukan hanya masalah teknis. Ia adalah ujian dan panggilan untuk kembali ke fitrah.
Ada 5 solusi utama:
Pertama. Prinsip Khalifah: Menjaga Bumi.
Allah berfirman dalam Q.S Al-A'raf ayat 56: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya."
Krisis iklim adalah akibat langsung dari pelanggaran ini. Solusinya adalah kembali menjadi khalifah. Artinya:
Energi terbarukan wajib. Maroko sudah mulai dengan proyek hidrogen hijau. Indonesia harus lebih cepat dengan surya dan panas bumi.
Hemat air adalah ibadah. Nabi melarang boros air walau di sungai. Negara wajib bangun konservasi.
Kedua. Prinsip Keadilan Ekonomi: Zakat, Wakaf, Anti-Riba.
Ketimpangan adalah bahan bakar migrasi. Islam punya sistem distribusi:
Zakat: Menjamin kebutuhan dasar agar orang tidak migrasi karena lapar.
Wakaf Produktif: Tanah wakaf untuk koperasi tani, sekolah, dan klinik. Ini menciptakan kerja di desa.
Anti-Riba: Utang berbunga mencekik. Keuangan syariah berbasis bagi hasil memberi keadilan.
World Bank mengatakan produktivitas masa depan ada di teknologi digital. Islam setuju, asal teknologi itu untuk keadilan, bukan untuk memperkaya segelintir orang.
Ketiga. Prinsip Ukhuwah: Memuliakan Manusia.
Nabi bersabda: "Kaum Muslim itu satu tubuh". Migrasi bukan dosa. Ia adalah hak mencari kehidupan.
Untuk negara tujuan: sambut dengan martabat, beri kerja legal, dan integrasi.
Untuk negara asal: jangan biarkan rakyatmu putus asa. Hadir dengan bantuan dan harapan.
Keempat. Prinsip Sabar, Tawakal, dan Tidak Putus Asa.
Allah berfirman: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" Q.S Az-Zumar ayat 53.
Mati di laut adalah puncak putus asa. Karena itu negara, ulama, dan komunitas harus hadir lebih awal. Masjid harus jadi pusat ketahanan sosial, bukan hanya tempat salat.
Kelima. Prinsip Kerja Sama dan Wasathiyah.
Islam mengajarkan jalan tengah. Tidak menutup perbatasan secara zalim, tapi juga tidak membiarkan migrasi liar.
Kerja sama Prancis-Maroko tentang perjanjian persahabatan bisa jadi contoh. Isinya harus melampaui kabel listrik. Harus ada transfer teknologi pertanian, beasiswa, dan investasi di daerah sumber migrasi.
Gambar orang-orang di Pantai Tarajal adalah tamparan. Itu bukan angka. Itu manusia yang mencari hidup.
Krisis global hari ini berkata kepada kita: model dunia yang serakah, tidak adil, dan melupakan Tuhan sudah gagal.
Indonesia bisa belajar. Jangan sampai kita menunggu korban baru untuk bergerak. Bangun ketahanan iklim, keadilan ekonomi, dan kekuatan spiritual.
Islam menawarkan jalan. Jalan yang menjaga bumi, membagi rezeki, memuliakan manusia, dan menghubungkan hati kepada Allah. Tentunya Rasulullah sudah mencontohkan bagaimana ketika syariat Islam di tegakkan.
Semoga dari tangisan Ceuta, lahir harapan baru. Harapan bahwa manusia masih bisa memilih: membangun jembatan, bukan pagar. Membangun keadilan, bukan ketakutan.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Faidah Alfiyah
Aktivis Muslimah