TintaSiyasi.id -- Generasi Z dan milenial merupakan kelompok usia produktif yang memiliki posisi strategis berdasarkan Survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Generasi Z dan milenial mencapai 49,27 persen dari total 284,67 juta penduduk Indonesia (suara.com, 24/08/2026).
Jumlah yang besar ini seharusnya menjadi kekuatan bagi negara sebagai generasi penerus. Namun, di balik jumlah presentase tersebut, generasi muda menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Bukan hanya tekanan ekonomi, tetapi juga persoalan gaya hidup yang berpotensi mengancam kualitas generasi. Salah satu indikasinya terlihat dari persoalan kesehatan.
Dr. Rosandi menyampaikan bahwa hipertensi dan diabetes merupakan penyebab utama penyakit ginjal. Jika dahulu penyakit tersebut lebih banyak ditemukan pada usia sekitar 45 tahun ke atas, kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia 20–30 tahun. Pergeseran ini patut menjadi perhatian karena hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak fungsi ginjal (m.rctiplus.com, 23/08/2026).
Fenomena ini diperparah oleh pola hidup modern yang cenderung kurang sehat.Kebiasaan begadang, konsumsi makanan cepat saji, kurang berolahraga, hingga tingginya tingkat stres akibat pekerjaan maupun media sosial menjadi faktor yang meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit di usia muda (okinews.com, 21/08/26).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan generasi muda saat ini begitu kompleks. Ada pola kehidupan yang turut memengaruhi kesehatan fisik maupun mental. Gaya hidup minim aktivitas, pola makan tidak sehat, kurang tidur, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang berlebihan dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Di sisi lain, Gen Z juga menghadapi tekanan yang semakin berat. Menuntut mengikuti gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kesenangan dan kepuasan individu sebagai ukuran kebahagiaan. Istilah seperti self-reward dan healing sering dipahami sebagai bentuk penghargaan terhadap diri setelah menghadapi tekanan.
Corong Media sosial turut memperkuat kondisi ini. Berbagai tren yang terus berganti membuat anak muda mudah mengalami fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari tren yang sedang populer. Konten tentang barang bermerek, liburan, kuliner, kecantikan, hingga gaya hidup mewah dapat membentuk standar kebahagiaan yang bertumpu pada kepemilikan dan pengalaman material.
Akibatnya, seseorang dapat merasa kurang hanya karena tidak mampu mengikuti gaya hidup yang ditampilkan orang lain. Muncullah krisis paradigma yang lebih mendasar, yaitu ketika generasi muda tidak memahami tujuan hidupnya. Jika kebahagiaan hanya diukur berdasarkan kenikmatan materi, popularitas, dan pengakuan sosial, maka manusia akan terus mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai. Standar kebahagiaan akan mudah berubah mengikuti tren dan dorongan pasar.
Islam memandang bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan yang jelas, yakni beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Paradigma ini menempatkan materi bukan sebagai tujuan utama kehidupan, melainkan sebagai sarana untuk menjalankan amanah kehidupan sesuai syariat.
Karena itu, penyelesaian persoalan Gen Z tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat agar anak muda tidak konsumtif. Negara juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan kondisi kehidupan yang memungkinkan generasi tumbuh secara sehat, produktif, dan memiliki masa depan.
Dalam perspektif Islam, negara berperan menjaga masyarakat dari berbagai konten yang merusak pola pikir dan perilaku generasi. Media seharusnya tidak hanya menjadi sarana hiburan dan pemasaran produk, tetapi juga menjadi instrumen edukasi yang membangun ketakwaan, kesehatan, intelektualitas, dan kepedulian sosial.
Islam juga membangun generasi dengan akidah yang kokoh. Generasi tidak diarahkan sekadar menjadi konsumen atau tenaga kerja bagi kepentingan ekonomi, tetapi menjadi manusia yang memahami tujuan penciptaannya dan memiliki visi membangun kehidupan sesuai nilai-nilai Islam. Dengan demikian, potensi besar Gen Z dapat diarahkan menjadi kekuatan bagi lahirnya generasi yang produktif, sehat, berkepribadian Islam, dan mampu membangun peradaban.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Sri Rahmayani, S.Kom.
(Aktivis Muslimah)