Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Paradoks Generasi Emas: Mengurai Akar Kecemasan Gen Z dalam Cengkeraman Kapitalis Sekular

Rabu, 08 Juli 2026 | 19:58 WIB Last Updated 2026-07-08T12:58:16Z

Tintasiyasi.id.com -- Generasi Z kini seakan di ambang kritis. Padahal, mereka digadang-gadang sebagai generasi emas menuju Visi 2045. Namun realitas jauh dari harapan. Dikutip dari data.goodstats.id (8/4/2026), menyebutkan bahwa Gen Z adalah kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan mental. 

Sebanyak 60% dari mereka cemas akan masa depan, dan 57% merasa tertekan karena masalah finansial. Fenomena ini merupakan krisis global yang ditandai dengan ketidakpastian karir hingga pengangguran massal.

Organisasi buruh Internasional (ILO) mencatat 262 juta pemuda dunia berstatus NEET (Not in Employment, Education, or Training), dan demikian juga dampak dari disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), yang justru memicu skeptisisme bukan optimisme.

Namun, rupanya paradoks muncul. Bukannya menyerah pada depresi, kini justru lahir gelombang resistensi. Gen Z mulai berani menunjukkan "taji" mereka. Gelombang kesadaran kritis tertransformasi. 

Mereka tidak lagi menerima narasi normatif kesuksesan dan stabilitas yang ditawarkan oleh sistem saat ini. Lahirnya resistensi ini diprediksi mampu menjadi titik balik untuk mendefinisikan kembali makna kehidupan dan keberhasilan.

Kecemasan Gen Z yang kini terjadi adalah respon terhadap krisis multidimensi, dimana dunia dilanda ketidakstabilan ekonomi, iklim dan geopolitik yang merapuhkan pondasi masa depan. Diperparah lagi pelemahan terhadap pemuda akibat peradaban kapitalis sekuler yang mereduksi manusia semata-mata sebagai alat produksi dan konsumen.

Jati diri pemuda tergerus oleh kompetisi tanpa henti dan validasi semu di media sosial.
Demikian pula tekanan sosial dan tingginya ekspektasi diri, keluarga dan lingkungan yang pada akhirnya menciptakan kesenjangan antara realitas hidup dengan persepsi ideal yang secara terus-menerus dipompa melalui layar gawai. 

Akibatnya, banyak yang mengalami mood swing, insomnia, hingga kecemasan sosial akut karena ketakutan dinilai gagal. Ironisnya, negara justru absen dari upaya serius untuk menyelamatkan generasi. Bukannya dirangkul dan diberikan fasilitas, namun justru kerap mendapat stigma buruk, seperti generasi rebahan, sumbu pendek, lemah mental dan lainnya. 

Padahal, mereka memiliki potensi sebagai kekuatan baru, bukan kelemahan. Jika dikelola dengan tepat, bisa menjadi peluang perubahan menuju kebangkitan yang hakiki.

Islam Solusi Fundamental

Karena itulah urgensitas solusi alternatif yang fundamental. Islam bukan sekadar agama ritual, namun merupakan sebuah mabda (ideologi) yang mampu memecahkan krisis multidimensi secara komprehensif. Sejarah membuktikan bahwa karakter generasi yang terbentuk selama masa kejayaan Islam ialah generasi kuat secara mental, berkepribadian Islam, sekaligus cakap dalam berbagai bidang keilmuan, menjadi pemimpin peradaban yang tangguh dan cerdas.

Negara merupakan kunci penting dalam menjaga umat. Dalam kontruksi Islam, negara adalah pelindung dan pelayan umat (ra'in wa khadim), bukan regulator semata. Negara berkewajiban dalam pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk kesehatan dan pendidikan. 

Negara juga memastikan pemenuhan kebutuhan asasi seperti sandang, pangan dan papan. Jaminan negara akan kebutuhan dasar kehidupan, memberikan dampak beban eksistensial yang semakin mencekik leher Gen Z dapat terangkat, kekhawatiran akan masa depan berangsur pergi digantikan oleh rasa optimis serta mental yang kuat untuk berjuang dalam kehidupan.

Dengan demikian, saatnya menyadarkan generasi hari ini untuk kembali mengemban mabda Islam dan peduli terhadap kondisi umat secara kolektif. Munculnya resistensi Gen Z terhadap sistem yang rusak saat ini harus diarahkan pada perjuangan yang benar, yakni perjuangan untuk menegakkan sistem yang sahih, sebuah sistem aturan sempurna yang berasal dari Sang Pencipta, Allah Swt. 

Hingga masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan atau slogan kosong, melainkan menjadi realitas yang bisa dicapai.

Dengan membangun kesadaran dan pemahaman Gen Z bahwa solusi hakiki berbagai persoalan yang mereka hadapi saat ini hanya bisa dicapai melalui penerapan Islam kaffah. 

Landasan keimanan yang kuat akan membuat mereka mampu bertahan dalam situasi sulit, sekaligus menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan bagi umat. Dari depresi menuju resistensi, dari resistensi menuju kebangkitan peradaban yang rahmatan lil 'alamin. Wallahua'lam bishshowwab.[]

Oleh: Linda Maulidia, S.Si.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update