TintaSiyasi.id -- Menurut Hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandari
Kesibukan bekerja bukanlah penghalang untuk dekat kepada Allah Swt. Yang menjadi penghalang adalah hati yang lalai. Seseorang boleh saja berada di tengah hiruk-pikuk dunia, memimpin perusahaan, berdagang, mengajar, bertani, atau mengurus keluarga, namun hatinya tetap hidup bersama Allah. Sebaliknya, ada orang yang banyak beribadah secara lahiriah, tetapi hatinya sibuk dengan dunia dan dipenuhi keinginan selain Allah.
Inilah salah satu pelajaran besar yang diwariskan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam. Beliau mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah bukan ditentukan oleh banyaknya waktu luang, melainkan oleh hadirnya hati bersama Allah dalam setiap keadaan.
1. Yakinlah bahwa Allah menghendaki kita bekerja
Islam tidak mengajarkan meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat. Bekerja dengan niat yang benar merupakan ibadah.
Allah Swt. berfirman:
"Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah..."
(QS. Al-Jumu'ah: 10)
Karena itu, jangan menganggap pekerjaan sebagai lawan dari ibadah. Justru, pekerjaan dapat menjadi ladang pahala apabila dilakukan dengan niat mencari rida Allah.
2. Perbaiki niat sebelum memulai pekerjaan
Menurut Ibnu Athaillah, amal yang kecil menjadi besar karena keikhlasan, sedangkan amal yang besar menjadi kecil karena riya dan hawa nafsu.
Sebelum bekerja, hadirkan niat:
"Ya Allah, aku bekerja untuk mencari rezeki yang halal, menunaikan amanah, menafkahi keluarga, membantu sesama, dan agar aku lebih mampu beribadah kepada-Mu."
Dengan niat seperti ini, jam kerja berubah menjadi jam ibadah.
3. Jangan biarkan hati bergantung kepada pekerjaan
Salah satu hikmah terkenal Ibnu Athaillah berbunyi:
"Istirahatkan dirimu dari sibuk mengatur urusan. Apa yang telah diatur oleh selain dirimu, janganlah engkau sibuk mengaturnya."
Maknanya bukan meninggalkan ikhtiar, tetapi jangan menjadikan diri seolah-olah penentu segala hasil.
Tugas manusia adalah:
- bekerja dengan sungguh-sungguh,
- berikhtiar secara maksimal,
- kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Inilah hakikat tawakal.
4. Jadikan zikir sebagai napas kehidupan
Orang yang sibuk biasanya sulit memperbanyak ibadah sunah dalam waktu lama. Namun, ia tetap dapat menjaga hati melalui zikir.
Biasakan membaca:
- Subhanallah,
- Alhamdulillah,
- Allahu Akbar,
- La ilaha illallah,
- Astaghfirullah,
- La haula wa la quwwata illa billah,
- selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Zikir tidak harus selalu dengan lisan yang keras. Bahkan, zikir hati di tengah aktivitas sering kali lebih sulit, namun sangat bernilai.
5. Hadirkan muraqabah
Muraqabah berarti merasa diawasi Allah setiap saat.
Ketika mengetik laporan...
Allah melihat.
Ketika menerima pelanggan...
Allah melihat.
Ketika memimpin rapat...
Allah melihat.
Ketika berdagang...
Allah melihat.
Kesadaran ini menjaga seseorang dari dusta, khianat, suap, dan kezaliman.
6. Jangan sampai pekerjaan membuat lalai dari salat
Ibnu Athaillah menekankan bahwa segala sesuatu yang melalaikan dari Allah merupakan hijab.
Karena itu:
- utamakan salat tepat waktu,
- berhenti sejenak ketika azan,
- jadikan salat sebagai tempat mengisi ulang kekuatan ruhani.
Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.
7. Jangan terlalu memikirkan masa depan
Salah satu penyakit orang sibuk adalah kecemasan yang berlebihan.
Ibnu Athaillah mengingatkan:
"Keresahanmu terhadap apa yang telah dijamin bagimu, dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu, menunjukkan padamnya mata hatimu."
Rezeki telah dijamin Allah.
Yang dituntut dari kita adalah:
- takwa,
- ikhtiar,
- kejujuran,
- amanah.
8. Sisihkan waktu untuk berkhalwat dengan Allah
Walaupun hanya 10–15 menit setiap hari.
Bangun sebelum Subuh.
Duduk tenang.
Membaca Al-Qur'an.
Beristigfar.
Berdoa.
Menangis di hadapan Allah.
Waktu yang singkat tetapi istiqamah lebih berpengaruh daripada ibadah panjang yang jarang dilakukan.
9. Syukuri setiap pekerjaan sebagai amanah
Jangan mengeluh terus-menerus.
Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa segala ketentuan Allah mengandung hikmah.
Pekerjaan yang berat dapat menjadi sarana:
- melatih kesabaran,
- menghapus dosa,
- meningkatkan derajat,
- mendidik keikhlasan,
- memperluas manfaat bagi orang lain.
Orang yang bersyukur akan melihat pekerjaan sebagai karunia, bukan sekadar beban.
10. Jadikan hati selalu bersama Allah
Inilah puncak ajaran tasawuf Ibnu Athaillah.
Beliau menginginkan seorang mukmin memiliki hati yang selalu hadir bersama Allah meskipun raganya sibuk mengurus dunia.
Ungkapan para ulama tasawuf sangat indah:
"Tangan bekerja di dunia, tetapi hati berada di hadapan Allah."
Inilah maqam orang-orang saleh.
Mereka berdagang, bertani, memimpin masyarakat, mengajar, bahkan mengatur urusan negara, namun hati mereka tidak pernah berpaling dari Allah.
Penutup
Menurut Ibnu Athaillah, yang menjauhkan seseorang dari Allah bukanlah kesibukan dunia, melainkan hati yang terpaut kepada dunia. Sebaliknya, pekerjaan yang diniatkan sebagai ibadah, dijalankan dengan amanah, dihiasi zikir, tawakal, syukur, dan muraqabah justru menjadi jalan menuju kedekatan kepada Allah Swt.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal, bekerja dengan penuh amanah tanpa melupakan akhirat, serta memiliki hati yang senantiasa hidup dalam mengingat-Nya.
"Ya Allah, jadikanlah dunia berada di tangan kami, bukan di hati kami. Sibukkanlah anggota tubuh kami dalam ketaatan, dan penuhilah hati kami dengan cinta, zikir, dan kedekatan kepada-Mu. Anugerahkan kepada kami rezeki yang halal, berkah, dan membawa kami semakin dekat kepada rida-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin."
(Dr. Nasrul Syarif, M.Si., Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)