TintaSiyasi.id -- Dakwah adalah Jalan Cinta, Jalan Penghambaan, dan Jalan Peradaban.
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Di zaman ketika kebenaran sering dibungkus sebagai kebatilan, sementara kebatilan dipoles seolah-olah menjadi kebenaran, seorang mukmin membutuhkan hati yang kokoh, akal yang jernih, dan jiwa yang senantiasa terhubung dengan Allah. Sebab dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara, bukan pula perlombaan mencari pengikut atau popularitas. Dakwah adalah panggilan suci untuk mengajak manusia kembali kepada Rabb semesta alam dan mengembalikan kehidupan agar berjalan sesuai petunjuk-Nya.
Orang yang memahami hakikat dakwah tidak akan mudah lelah. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang diberi amanah untuk menyampaikan, bukan menentukan hasil. Hidayah adalah hak prerogatif Allah, sedangkan kewajiban manusia hanyalah menyampaikan risalah dengan ilmu, hikmah, kasih sayang, dan keteladanan.
Keletihan dalam dakwah sering kali muncul ketika seseorang tanpa sadar mengukur keberhasilan dengan ukuran dunia: banyaknya pengikut, tingginya popularitas, atau cepatnya perubahan. Padahal ukuran langit berbeda dengan ukuran bumi. Di sisi Allah, keikhlasan lebih berharga daripada tepuk tangan manusia, dan istiqamah lebih mulia daripada ketenaran yang sesaat.
Hakikat dakwah adalah ibadah. Ia lahir dari tauhid yang murni dan bermuara pada ridha Allah. Karena itu, seorang dai tidak menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Ia mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada dirinya, kelompoknya, atau kepentingan duniawi. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kecil keinginannya untuk dipuji, dan semakin besar keinginannya agar agama Allah semakin dikenal dan dicintai.
Islam kaffah bukan sekadar slogan, melainkan cara pandang hidup yang utuh. Islam datang sebagai petunjuk yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta. Ketika Islam dipahami secara parsial, lahirlah kehidupan yang timpang. Ada yang rajin beribadah tetapi lalai terhadap amanah sosial. Ada yang giat bekerja tetapi melupakan tujuan hidup. Ada yang mengagungkan spiritualitas tetapi mengabaikan keadilan. Sebaliknya, ada pula yang berjuang menegakkan keadilan tetapi kehilangan kelembutan hati dan kedekatan dengan Allah.
Islam kaffah memadukan semuanya dalam satu kesatuan yang harmonis. Tauhid melahirkan ibadah. Ibadah melahirkan akhlak. Akhlak melahirkan keadilan. Keadilan melahirkan peradaban yang diridhai Allah.
Di sinilah dimensi ideologis bertemu dengan dimensi sufistik. Dakwah bukan hanya membangun kesadaran individu, tetapi juga membangun cara berpikir, cara hidup, dan tatanan masyarakat yang berlandaskan wahyu. Namun perjuangan membangun masyarakat Islam tidak akan kokoh apabila para pelakunya tidak terlebih dahulu membangun kerajaan Allah di dalam hati mereka sendiri.
Para ulama tasawuf mengingatkan bahwa musuh terbesar dakwah bukanlah penolakan manusia, melainkan penyakit hati para pendakwah. Riya', ujub, cinta kedudukan, haus pujian, dan ketergantungan kepada makhluk merupakan hijab yang dapat merusak amal. Oleh karena itu, jihad yang paling panjang adalah jihad membersihkan hati agar dakwah tetap menjadi persembahan yang ikhlas kepada Allah.
Seorang hamba yang telah mengenal Allah akan memahami bahwa setiap langkah dakwah telah ditentukan waktunya oleh-Nya. Tidak ada amal yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang. Tidak ada kesabaran yang luput dari penglihatan Allah. Bahkan boleh jadi satu kalimat yang lahir dari hati yang ikhlas lebih berat timbangannya daripada ribuan pidato yang kehilangan ruh keikhlasan.
Janganlah kecewa apabila jalan dakwah terasa panjang. Bukankah para nabi menempuh jalan yang sama? Mereka dihina, didustakan, diusir, bahkan diperangi. Namun mereka tidak pernah mengurangi sedikit pun amanah yang Allah bebankan. Mereka tetap menyeru dengan kasih sayang karena yang mereka cintai bukan kemenangan pribadi, melainkan tegaknya kalimat Allah.
Dalam perspektif sufistik, dakwah adalah perjalanan kembali kepada Allah. Setiap kesulitan merupakan undangan untuk memperdalam tawakal. Setiap penolakan adalah latihan membersihkan niat. Setiap ujian adalah sarana mendidik jiwa agar tidak bergantung kepada selain-Nya. Semakin berat perjuangan, semakin terbuka peluang untuk mengenal kelembutan pertolongan Allah.
Karena itu, jangan pernah menjadikan banyak atau sedikitnya pengikut sebagai ukuran. Yang terpenting adalah apakah Allah menerima amal kita. Jangan sibuk menghitung manusia yang datang, tetapi sibukkanlah diri menghitung kekurangan diri sendiri. Jangan terlalu gembira karena dipuji, dan jangan terlalu sedih karena dicela. Hati yang telah mengenal Allah akan tetap tenang karena ia mengetahui bahwa penilaian manusia berubah-ubah, sedangkan penilaian Allah adalah tujuan yang sesungguhnya.
Dakwah membutuhkan ilmu yang benar, akhlak yang luhur, dan hati yang hidup. Ilmu tanpa hati melahirkan kekerasan. Hati tanpa ilmu melahirkan kesesatan. Aktivitas tanpa keikhlasan melahirkan kelelahan. Tetapi apabila ilmu, amal, ikhlas, dan tawakal bersatu, dakwah akan menjadi cahaya yang menerangi zaman.
Maka teruslah mendakwahkan Islam kaffah dengan penuh cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada manusia. Jadikan setiap majelis sebagai jalan mengenalkan manusia kepada Rabb-nya. Jadikan setiap tulisan sebagai saksi keimanan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah. Jangan takut berjalan sendirian apabila berada di atas kebenaran, karena seorang hamba yang bersama Allah tidak pernah benar-benar sendiri.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika manusia memuji dakwah kita, melainkan ketika Allah menerima amal kita. Kebahagiaan tertinggi bukanlah melihat banyaknya pengikut, tetapi ketika kelak kita dipanggil oleh Allah dengan panggilan yang paling indah:
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah memikul amanah dakwah, membersihkan hati dari segala penyakitnya, mengokohkan langkah di atas bashirah, serta mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaga Al-Kautsar sebagai orang-orang yang telah berusaha menyeru manusia kepada cahaya Islam secara kaffah. Aamiin.
Inilah Dakwah yang memadukan dua dimensi yang saling melengkapi: ideologis, yaitu memandang Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh; dan sufistik, yaitu menekankan tazkiyatun nafs, keikhlasan, tawakal, dan kedekatan kepada Allah. Dengan perpaduan ini, dakwah dipahami bukan sekadar sebagai aktivitas mengubah masyarakat, tetapi juga sebagai jalan menyucikan jiwa dan mengabdi kepada Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)