Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ikhtiarmu Menjadi Bencana Ketika Engkau Memutuskannya Tanpa Menyertakan Allah di Dalamnya

Rabu, 08 Juli 2026 | 10:45 WIB Last Updated 2026-07-08T03:45:53Z
TintaSiyasi.id -- Tadabbur QS. Al-Baqarah: 257 dan QS. Al-A'raf: 201
Setiap manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Namun, Islam juga tidak membenarkan usaha yang terlepas dari petunjuk Allah. Ikhtiar yang dibangun hanya di atas kecerdasan, pengalaman, jabatan, kekuatan atau harta tanpa melibatkan Allah, sering kali justru menjadi sebab datangnya kesesatan, kegelisahan, dan kehancuran.

Betapa banyak orang yang berhasil mengumpulkan kekayaan, tetapi kehilangan ketenangan. Betapa banyak pemimpin yang mampu merancang strategi, tetapi akhirnya jatuh karena kesombongan. Betapa banyak keluarga yang dibangun dengan cinta, tetapi hancur karena tidak menjadikan Allah sebagai fondasi.

Allah mengingatkan bahwa cahaya kehidupan bukan berasal dari kemampuan manusia, melainkan dari hidayah-Nya.

1. Allah Mengeluarkan Orang Beriman dari Kegelapan Menuju Cahaya

Allah Swt., berfirman:
"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya..."
QS. Al-Baqarah: 257.

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadi Penolong, Pelindung, Pembimbing, dan Pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik, kebodohan, keraguan, maksiat, dan kebingungan menuju cahaya iman, ilmu, keyakinan, dan ketaatan.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa "kegelapan" disebut dalam bentuk jamak karena jalan kebatilan sangat banyak, sedangkan "cahaya" disebut tunggal karena jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Allah.

Sementara Fakhruddin ar-Razi menerangkan bahwa seseorang bisa saja cerdas secara intelektual, tetapi tetap berada dalam kegelapan apabila akalnya tidak dipandu wahyu.

Maka, keputusan yang tidak diawali dengan istikharah, doa, musyawarah yang benar, dan tawakal berpotensi menjadi jalan menuju kegelapan, meskipun tampak menguntungkan secara duniawi.

2. Orang Bertakwa Selalu Kembali Mengingat Allah

Allah Swt., berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka segera mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka dapat melihat (kebenaran)."
QS. Al-A'raf: 201.

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa godaan setan tidak selalu dapat dihindari, yang membedakan orang bertakwa adalah mereka segera sadar, berzikir, beristighfar, dan kembali kepada Allah sehingga mampu membedakan yang hak dan yang batil.

As-Sa'di menjelaskan bahwa zikir kepada Allah akan membuka mata hati sehingga seseorang tidak mudah tertipu oleh hawa nafsu maupun tipu daya setan.

Inilah hakikat bashirah (mata hati). Ketika hati dipenuhi zikir, Allah memberikan kejernihan berpikir sebelum mengambil keputusan.

Hikmah yang Dapat Diambil

Ikhtiar tanpa hidayah Allah, mudah tersesat meskipun tampak cerdas.

Keputusan terbaik lahir dari hati yang dekat kepada Allah, bukan sekadar logika yang tajam.

Zikir, doa, dan istikharah adalah bagian dari ikhtiar, bukan pengganti ikhtiar.

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menyandarkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha maksimal.

Orang bertakwa segera kembali kepada Allah ketika muncul keraguan, amarah, kesombongan atau godaan.

Refleksi Sufistik

Dalam pandangan para ulama tasawuf, musibah terbesar bukanlah kehilangan harta atau jabatan, melainkan ketika seseorang merasa mampu berjalan tanpa Allah. Kesombongan yang halus adalah ketika hati berkata, "Aku bisa mengatur semuanya sendiri."

Padahal, setiap keberhasilan adalah karunia-Nya, setiap kemudahan adalah pertolongan-Nya, dan setiap keputusan yang benar adalah cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati hamba-Nya.

Sebelum melangkah, bertanyalah kepada Allah. Sebelum memutuskan, mohonlah petunjuk-Nya. Sebelum berbicara, timbanglah dengan Al-Qur'an dan sunnah. Sebelum bertindak, bersihkan hati dengan zikir dan istighfar.

Sebab, ikhtiar yang disertai Allah akan menjadi ibadah, sedangkan ikhtiar yang meminggirkan Allah dapat berubah menjadi awal dari penyesalan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu berada dalam cahaya hidayah-Nya, dilindungi dari kegelapan hawa nafsu dan tipu daya setan, serta dianugerahi hati yang jernih dalam setiap ikhtiar dan keputusan. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit

Opini

×
Berita Terbaru Update