TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi kaum intelektual bukan semata kebodohan atau keterbatasan ilmu, melainkan serangan iblis yang masuk melalui ambisi karier, ego akademik, idealisme yang dibelokkan, hingga berbagai bentuk pelanggaran etik yang merusak amanah ilmu.
“Ancaman terbesar bagi kaum
intelektual bukan semata kebodohan atau keterbatasan ilmu, melainkan serangan
iblis yang masuk melalui ambisi karier, ego akademik, idealisme yang
dibelokkan, hingga berbagai bentuk pelanggaran etik yang merusak amanah ilmu,”
tegas HILMI.
HILMI mengingatkan, iblis menggoda
seorang ilmuwan dari depan dengan ambisi karier, dari belakang dengan ego masa
lalu, dari kanan dengan kesalehan dan idealisme yang dibelokkan, dan dari kiri
dengan pelanggaran etik yang nyata.
“Seorang ilmuwan selamat bila ilmunya
tetap tunduk kepada kebenaran, metodenya jujur, niatnya ikhlas, dan hasilnya
membawa maslahat," tegas HILMI kepada TintaSiyasi.ID dalam Letter to Intellectuals
No. 001 bertajuk Serangan Iblis ke Kaum Intelektual, Rabu (08/07/2026).
Dalam dokumen tersebut, HILMI
memandang kaum intelektual—mulai akademisi, ilmuwan, periset hingga ulama yang
peduli terhadap kehidupan bangsa—sebagai kelompok elite masyarakat yang
memiliki pengaruh besar terhadap arah kehidupan publik.
HILMI mengutip sebuah pernyataan yang
dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali bahwa kerusakan rakyat berawal dari rusaknya
para penguasa, sedangkan rusaknya penguasa bersumber dari rusaknya para
intelektual yang telah dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan.
"Siapa saja
yang telah dikuasai cinta dunia, ia tidak akan mampu melakukan hisbah
atau koreksi terhadap orang-orang rendah, apalagi terhadap para raja dan
pembesar," nukilnya.
Karena itu, HILMI mengingatkan bahwa
dunia akademik tidak steril dari godaan. “Godaan iblis dalam kehidupan
intelektual sering hadir dalam bentuk yang tampak rasional, ilmiah, strategis,
bahkan terlihat seolah tuntutan professional,” menurutnya.
Sebagai dasar refleksi, HILMI mengutip
firman Allah Swt.:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ
وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
Kemudian aku akan mendatangi mereka
dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QSAl-A'raf:
17).
Ayat tersebut, terang HILMI, dapat
dibaca sebagai gambaran berbagai pintu masuk godaan yang menyerang seorang
ilmuwan.
“Pada sisi pertama, serangan dari
depan berupa godaan masa depan karier. Jabatan profesor, indeks sitasi, dana
riset, penghargaan internasional, reputasi akademik hingga promosi jabatan pada
dasarnya merupakan hal yang boleh dikejar,” beber HILMI.
Namun persoalannya, HILMI menilai, hal
itu muncul ketika semuanya berubah menjadi tujuan utama.
"Iblis
dapat menyusup ketika masa depan akademik menjadi tuhan kecil yang mengalahkan
kebenaran," ujarnya.
Akibatnya, lanjut HILMI, sebagian
periset memilih topik hanya karena mudah diterbitkan, mengejar jurnal dengan
mengorbankan kejujuran data, atau takut menyampaikan fakta ilmiah karena
khawatir kehilangan posisi.
“Karena itu, seorang penelitei perlu
terus bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Apakah saya sedang mengejar ilmu
sebagai amanah, atau sedang menjadikan karier sebagai kiblat.’,"
tuturnya.
Selain dari depan, HILMI menjelaskan
bahwa iblis juga menyerang dari belakang melalui ego masa lalu, reputasi, dan
kebanggaan akademik.
“Seorang profesor, doktor, atau penelitei
senior dapat terjebak pada keyakinan bahwa pengalaman dan prestasi masa lalu
menjadikannya selalu benar,” ujarnya.
Akibatnya, HILMI melihat hal itu
menjadi faktor sulit menerima kritik, enggan memperbarui metode, dan menolak
temuan baru yang berbeda dengan teori yang pernah dibangunnya.
"Masa lalu
boleh menjadi modal, tetapi tidak boleh menjadi berhala. Ilmu menuntut
kerendahan hati untuk berkata, 'Data baru ini mungkin mengoreksi pemahaman
saya'," paparnya.
Lebih jauh, HILMI menilai, serangan
dari kanan justru menjadi salah satu godaan paling berbahaya bagi kalangan
religius, aktivis, maupun intelektual idealis.
“Iblis tidak selalu mengajak
meninggalkan kebaikan, tetapi membelokkan kebaikan menjadi ujub, riya,
fanatisme, dan pembenaran diri,” lugasnya.
Menurutnya, dalam dunia riset, hal itu
muncul ketika seseorang merasa paling islami, paling nasionalis, paling kritis,
atau paling berpihak kepada rakyat, sehingga meremehkan pihak lain yang berbeda
pandangan.
Bahkan, imbuhnya, tidak sedikit yang
akhirnya menghalalkan manipulasi data atas nama tujuan yang dianggap baik.
"Dalam
Islam, kebaikan harus benar pada niat, benar pada cara, dan benar pada hasil
yang dipertanggungjawabkan," lugasnya.
Sementara itu, serangan dari kiri
disebut HILMI sebagai bentuk maksiat akademik yang paling mudah dikenali.
“Di antaranya berupa plagiarisme,
fabrikasi data, falsifikasi data, jual beli publikasi, sitasi palsu, manipulasi
statistik, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat
referensi dan data yang sebenarnya tidak ada,” bebernya.
Perbuatan tersebut, katanya, bukan
sekadar pelanggaran administratif kampus.
"Dosa
akademik adalah pengkhianatan terhadap amanah ilmu. Dampaknya bisa melahirkan
kebijakan yang salah, teknologi yang gagal, masyarakat yang dirugikan, bahkan
menyesatkan generasi ilmuwan berikutnya," tandasnya.
Menurut HILMI, tujuan akhir seluruh
serangan itu bukan hanya membuat manusia terjatuh dalam dosa, tetapi
menjadikannya tidak bersyukur.
“Ketidaksyukuran dalam dunia ilmu
dapat muncul ketika seseorang merasa keberhasilannya semata hasil kecerdasan
pribadi dan melupakan bahwa akal, guru, laboratorium, data, dana penelitian,
mahasiswa, dan kesempatan merupakan karunia Allah Swt.,” urainya.
"Periset
yang bersyukur akan berbeda. Semakin berilmu ia semakin tawadhu. Semakin tinggi
reputasinya semakin hati-hati lisannya. Semakin banyak publikasinya semakin
besar rasa takutnya jika ilmunya tidak bermanfaat," bebernya.
Karena itu, HILMI menegaskan bahwa
benteng utama seorang ilmuwan bukan hanya prosedur etik penelitian.
"Benteng
terdalam seorang ilmuwan adalah ikhlas, amanah, wara', dan takut kepada
Allah," simpulnya.[] Rere