Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kebangkitan Bangsa Ditentukan Integritas Intelektual, Bukan Banyaknya Gelar dan Publikasi

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:41 WIB Last Updated 2026-07-10T01:41:07Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa kebangkitan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya gelar akademik, publikasi ilmiah, maupun reputasi internasional, melainkan oleh integritas kaum intelektual dalam menjaga amanah ilmu untuk kemaslahatan umat.

 

“Kebangkitan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya gelar akademik, publikasi ilmiah, maupun reputasi internasional, melainkan oleh integritas kaum intelektual dalam menjaga amanah ilmu untuk kemaslahatan umat,” lugas HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (08/07/2026). 


HILMI menyebut, rusaknya rakyat disebabkan rusaknya para penguasa; rusaknya para penguasa disebabkan rusaknya para intelektual; dan rusaknya para intelektual disebabkan oleh dominasi cinta harta dan kedudukan.

 

“Karena itu, masa depan bangsa sangat bergantung pada kemampuan kaum intelektual menjaga ilmu dari ambisi, ego, manipulasi, dan penyalahgunaan amanah," sebutnya dalam Letter to Intellectuals No. 001 bertajuk Serangan Iblis ke Kaum Intelektual.

  

Dalam pandangan HILMI, kaum intelektual merupakan kelompok elite yang memegang peran penting dalam menentukan arah masyarakat.

 

“Kelompok ini mencakup akademisi, ilmuwan, peneliti, hingga ulama yang memiliki kapasitas analitis dan keberanian menyuarakan persoalan bangsa,” ujarnya.

 

Karena perannya yang strategis, kata HILMI, kaum intelektual menjadi sasaran penting berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak kehidupan publik.

 

HILMI kemudian mengajak kalangan akademik merenungkan firman Allah Swt. dalam QS Al-A'raf ayat 17:

 

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ

Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

 

Menurut HILMI, ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa penyimpangan intelektual tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar dan vulgar.

 

“Sebaliknya, ia sering hadir dalam bentuk yang terlihat profesional dan terhormat. Dalam dunia riset dan akademik, godaan itu sering hadir dalam bentuk yang akademik, rasional, strategis, bahkan tampak seperti tuntutan karier," jelasnya.

 

HILMI menilai, orientasi karier yang berlebihan dapat mengubah ilmu menjadi alat pencarian prestise semata. “Akibatnya, penelitian kehilangan orientasi kemaslahatan dan hanya diarahkan untuk memenuhi target publikasi, peringkat kampus, atau kepentingan pendanaan,” sesal HILMI.

 

Fenomena tersebut, katanya, membuat sebagian peneliti lebih sibuk mengejar indeks dan reputasi dibanding menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

 

"Memilih topik bukan karena manfaatnya, tetapi karena mudah terbit; menulis proposal bukan untuk memecahkan masalah umat, tetapi demi memenangkan skema pendanaan; serta takut menyampaikan kebenaran karena khawatir kehilangan posisi merupakan gejala yang harus diwaspadai," terangnya.

 

Selain itu, HILMI juga mengingatkan bahaya ego akademik yang lahir dari prestasi masa lalu. “Gelar, senioritas, pengalaman luar negeri, dan banyaknya publikasi, menurutnya, dapat berubah menjadi penghalang bagi lahirnya kerendahan hati ilmiah,” jelasnya.

 

Akibatnya, menurut HILMI, seorang akademisi menjadi sulit menerima koreksi dan enggan memperbarui pemahamannya ketika berhadapan dengan data baru.

 

"Ilmu tidak tumbuh dalam kesombongan. Ia tumbuh dalam kerendahan hati untuk menerima kebenaran sekalipun datang dari pihak yang lebih muda," ingatnya.

 

Di sisi lain, HILMI menilai idealisme yang tidak dikendalikan juga dapat berubah menjadi sumber penyimpangan.

 

“Semangat dakwah, nasionalisme, aktivisme, maupun keberpihakan sosial tetap harus dibingkai dengan kejujuran ilmiah. Sebab, tujuan yang baik tidak pernah membenarkan cara yang salah,” ungkapnya.

 

"Seorang periset tidak boleh menggunakan dalil, ideologi, atau jargon moral untuk menutupi kelemahan metodologi. Kebaikan harus benar pada niat, cara, dan hasilnya," tekannya.

 

Lebih jauh, HILMI menyoroti maraknya berbagai bentuk pelanggaran etik akademik yang merusak kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan.

 

“Mulai dari plagiarisme, pemalsuan data, sitasi palsu, publikasi predator, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk menciptakan referensi dan temuan yang tidak pernah ada,” bebernya.

 

Praktik-praktik tersebut dinilai HILMI bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga berpotensi menghasilkan kebijakan publik yang keliru.

 

"Ketika ilmu dikotori kebohongan, dampaknya tidak berhenti pada kampus. Masyarakat bisa dirugikan, teknologi bisa gagal, dan kebijakan publik bisa salah arah," keluhnya.

 

Karena itu, HILMI mengajak para ilmuwan menghidupkan kembali tradisi syukur dalam dunia intelektual.

 

“Syukur bukan hanya ucapan lisan, melainkan kesadaran bahwa seluruh perangkat ilmu merupakan karunia Allah Swt. yang harus digunakan untuk mengabdi,” tuturnya.

 

"Akal, data, guru, laboratorium, mahasiswa, lembaga, dan kesempatan meneliti semuanya adalah nikmat Allah. Ilmu harus menjadi sarana pelayanan, bukan alat dominasi," imbuhnya.

 

Pada akhirnya, HILMI menegaskan bahwa masa depan umat dan bangsa sangat bergantung pada integritas kaum intelektual dalam menjaga amanah ilmu.

 

"Seorang ilmuwan akan selamat ketika ilmunya tunduk kepada kebenaran, metodenya jujur, niatnya ikhlas, dan hasil penelitiannya membawa maslahat bagi manusia," pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update