“Kebangkitan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya gelar akademik, publikasi ilmiah, maupun reputasi internasional, melainkan oleh integritas kaum intelektual dalam menjaga amanah ilmu untuk kemaslahatan umat,” lugas HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (08/07/2026).
HILMI menyebut, rusaknya rakyat
disebabkan rusaknya para penguasa; rusaknya para penguasa disebabkan rusaknya
para intelektual; dan rusaknya para intelektual disebabkan oleh dominasi cinta
harta dan kedudukan.
“Karena itu, masa depan bangsa sangat
bergantung pada kemampuan kaum intelektual menjaga ilmu dari ambisi, ego,
manipulasi, dan penyalahgunaan amanah," sebutnya
Dalam pandangan HILMI, kaum
intelektual merupakan kelompok elite yang memegang peran penting dalam
menentukan arah masyarakat.
“Kelompok ini mencakup akademisi,
ilmuwan, peneliti, hingga ulama yang memiliki kapasitas analitis dan keberanian
menyuarakan persoalan bangsa,” ujarnya.
Karena perannya yang strategis, kata
HILMI, kaum intelektual menjadi sasaran penting berbagai bentuk penyimpangan
yang dapat merusak kehidupan publik.
HILMI kemudian mengajak kalangan
akademik merenungkan firman Allah Swt. dalam QS Al-A'raf ayat 17:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ
وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
Kemudian aku akan mendatangi mereka
dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
Menurut HILMI, ayat tersebut
memberikan pelajaran bahwa penyimpangan intelektual tidak selalu muncul dalam
bentuk yang kasar dan vulgar.
“Sebaliknya, ia sering hadir dalam
bentuk yang terlihat profesional dan terhormat. Dalam dunia riset dan akademik,
godaan itu sering hadir dalam bentuk yang akademik, rasional, strategis, bahkan
tampak seperti tuntutan karier," jelasnya.
HILMI menilai, orientasi karier yang
berlebihan dapat mengubah ilmu menjadi alat pencarian prestise semata. “Akibatnya,
penelitian kehilangan orientasi kemaslahatan dan hanya diarahkan untuk memenuhi
target publikasi, peringkat kampus, atau kepentingan pendanaan,” sesal HILMI.
Fenomena tersebut, katanya, membuat
sebagian peneliti lebih sibuk mengejar indeks dan reputasi dibanding
menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
"Memilih
topik bukan karena manfaatnya, tetapi karena mudah terbit; menulis proposal
bukan untuk memecahkan masalah umat, tetapi demi memenangkan skema pendanaan;
serta takut menyampaikan kebenaran karena khawatir kehilangan posisi merupakan
gejala yang harus diwaspadai," terangnya.
Selain itu, HILMI juga mengingatkan
bahaya ego akademik yang lahir dari prestasi masa lalu. “Gelar, senioritas,
pengalaman luar negeri, dan banyaknya publikasi, menurutnya, dapat berubah
menjadi penghalang bagi lahirnya kerendahan hati ilmiah,” jelasnya.
Akibatnya, menurut HILMI, seorang
akademisi menjadi sulit menerima koreksi dan enggan memperbarui pemahamannya
ketika berhadapan dengan data baru.
"Ilmu tidak
tumbuh dalam kesombongan. Ia tumbuh dalam kerendahan hati untuk menerima
kebenaran sekalipun datang dari pihak yang lebih muda," ingatnya.
Di sisi lain, HILMI menilai idealisme
yang tidak dikendalikan juga dapat berubah menjadi sumber penyimpangan.
“Semangat dakwah, nasionalisme,
aktivisme, maupun keberpihakan sosial tetap harus dibingkai dengan kejujuran
ilmiah. Sebab, tujuan yang baik tidak pernah membenarkan cara yang salah,”
ungkapnya.
"Seorang
periset tidak boleh menggunakan dalil, ideologi, atau jargon moral untuk
menutupi kelemahan metodologi. Kebaikan harus benar pada niat, cara, dan
hasilnya," tekannya.
Lebih jauh, HILMI menyoroti maraknya
berbagai bentuk pelanggaran etik akademik yang merusak kepercayaan terhadap
ilmu pengetahuan.
“Mulai dari plagiarisme, pemalsuan
data, sitasi palsu, publikasi predator, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan
untuk menciptakan referensi dan temuan yang tidak pernah ada,” bebernya.
Praktik-praktik tersebut dinilai HILMI
bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga berpotensi menghasilkan
kebijakan publik yang keliru.
"Ketika
ilmu dikotori kebohongan, dampaknya tidak berhenti pada kampus. Masyarakat bisa
dirugikan, teknologi bisa gagal, dan kebijakan publik bisa salah arah,"
keluhnya.
Karena itu, HILMI mengajak para
ilmuwan menghidupkan kembali tradisi syukur dalam dunia intelektual.
“Syukur bukan hanya ucapan lisan,
melainkan kesadaran bahwa seluruh perangkat ilmu merupakan karunia Allah Swt.
yang harus digunakan untuk mengabdi,” tuturnya.
"Akal,
data, guru, laboratorium, mahasiswa, lembaga, dan kesempatan meneliti semuanya
adalah nikmat Allah. Ilmu harus menjadi sarana pelayanan, bukan alat dominasi,"
imbuhnya.
Pada akhirnya, HILMI menegaskan bahwa
masa depan umat dan bangsa sangat bergantung pada integritas kaum intelektual
dalam menjaga amanah ilmu.
"Seorang
ilmuwan akan selamat ketika ilmunya tunduk kepada kebenaran, metodenya jujur,
niatnya ikhlas, dan hasil penelitiannya membawa maslahat bagi manusia,"
pungkasnya.[] Rere