TintaSiyasi.id -- Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat halus tetapi mendalam: tidak semua keinginan yang tampak baik berasal dari ketulusan kepada Allah. Ada kalanya ia hanyalah syahwat yang tersembunyi dalam pakaian ibadah.
Seseorang mungkin berkata, "Aku ingin meninggalkan pekerjaan agar bisa fokus beribadah." Sepintas, keinginan itu terdengar mulia. Namun, apabila Allah masih menakdirkan dirinya untuk bekerja, mencari nafkah, menanggung keluarga, dan menjalankan amanah dunia, maka keinginan meninggalkan semuanya bukanlah bentuk tawakal, melainkan bentuk keinginan pribadi yang bertentangan dengan sunnatullah.
Demikian pula sebaliknya. Ada orang yang tenggelam dalam pekerjaan siang dan malam hingga tidak lagi memiliki waktu untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, menuntut ilmu, atau berkumpul bersama keluarganya. Ia menganggap kesuksesan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Padahal, itu pun merupakan penyimpangan dari jalan yang lurus.
Allah Mengatur Kehidupan Hamba-Nya
Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Mudabbir, Dzat Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk.
Tidak ada satu detik pun kehidupan manusia yang keluar dari pengaturan-Nya. Rezeki, kesehatan, kesempatan, bahkan setiap peristiwa yang kita alami telah berada dalam ilmu dan ketetapan-Nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh memilih jalan hidup berdasarkan hawa nafsunya semata, tetapi berdasarkan syariat Allah.
Allah menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tempat bermalas-malasan dengan alasan ibadah, dan bukan pula tempat tenggelam dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat.
Mencari Rezeki adalah Bagian dari Ibadah
Islam tidak pernah mengajarkan kehidupan kependetaan.
Seorang muslim diperintahkan bekerja dengan tangan sendiri, berdagang, bertani, menjadi pegawai, mengajar, berdakwah, ataupun profesi lainnya selama halal.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah seorang pedagang. Para sahabat juga bekerja.
Umar bin Khattab pernah berkata:
"Sesungguhnya langit tidak menurunkan hujan emas dan perak."
Ungkapan ini mengandung hikmah besar bahwa rezeki harus dijemput dengan ikhtiar yang halal.
Tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, tetapi menggunakan sebab yang telah Allah syariatkan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Orang yang hanya duduk di masjid tanpa usaha, padahal ia masih mampu bekerja dan memiliki tanggungan, telah menyelisihi hikmah syariat.
Bahaya Syahwat yang Bersembunyi di Balik Ibadah
Inilah yang disebut oleh Ibnu Athaillah sebagai syahwat khafiyyah (syahwat tersembunyi).
Syahwat tidak selalu berupa harta, jabatan, atau wanita.
Kadang-kadang syahwat muncul dalam bentuk keinginan menjadi orang yang tampak sangat saleh, ingin dipandang zuhud, atau merasa lebih mulia karena hanya beribadah.
Padahal Allah menghendaki dirinya berada di tengah masyarakat, mencari nafkah halal, mendidik keluarga, dan menebarkan manfaat.
Jika seseorang memaksakan kehendaknya sendiri di atas ketetapan Allah, berarti ia lebih mengikuti keinginannya daripada hikmah Rabb-nya.
Sebaliknya, Tenggelam dalam Dunia Juga Merupakan Penyakit
Di zaman modern muncul fenomena yang dikenal sebagai workaholic.
Orang seperti ini menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja.
Ia bangun memikirkan pekerjaan.
Tidur pun masih memikirkan target.
Ketika libur justru merasa gelisah.
Shalat dilakukan sekadarnya.
Dzikir hampir tidak ada.
Majelis ilmu ditinggalkan.
Keluarga kurang diperhatikan.
Hatinya menjadi keras karena terlalu lama sibuk dengan dunia.
Padahal Allah menciptakan pekerjaan sebagai sarana, bukan tujuan.
Karier hanyalah kendaraan menuju ridha Allah, bukan pengganti Allah dalam hati.
Kesibukan yang membuat seseorang lalai dari Allah adalah bentuk keterpurukan himmah (semangat ruhani).
Keseimbangan Seorang Mukmin
Islam mengajarkan keseimbangan.
Bekerjalah seakan-akan engkau hidup lama.
Beribadahlah seakan-akan engkau akan meninggal esok hari.
Seorang mukmin ideal adalah orang yang:
• Bekerja dengan profesional karena Allah.
• Menjaga shalat di awal waktu.
• Menjadikan dzikir sebagai teman kesibukannya.
• Menafkahi keluarga sebagai ibadah.
• Tidak diperbudak oleh harta.
• Tidak pula meninggalkan kewajiban dunia dengan alasan ibadah.
Inilah jalan pertengahan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Hikmah di Balik Setiap Takdir Allah
Sering kali kita tidak memahami mengapa Allah menempatkan kita pada profesi tertentu, lingkungan tertentu, atau keadaan tertentu.
Namun seorang mukmin yakin bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah.
Mungkin pekerjaan itulah jalan menuju keikhlasan.
Mungkin keluarga itulah ladang kesabaran.
Mungkin kesibukan itulah sarana memperbanyak amal.
Yang terpenting bukan di mana kita berada, tetapi bagaimana hati kita tetap bersama Allah di mana pun kita berada.
Penutup: Jadilah Hamba, Bukan Pengatur Takdir
Hakikat ubudiyah adalah menerima pengaturan Allah dengan hati yang ridha.
Jika Allah memerintahkan kita bekerja, bekerjalah dengan amanah.
Jika Allah memanggil kita untuk shalat, tinggalkan kesibukan dunia dan penuhi panggilan-Nya.
Jangan memaksakan keinginan pribadi atas hikmah Allah. Jangan pula menjadikan dunia sebagai tujuan hingga melupakan akhirat.
Mukmin sejati bukanlah orang yang hanya pandai bekerja, dan bukan pula orang yang hanya tekun beribadah secara lahiriah. Mukmin sejati adalah orang yang mampu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya, sehingga bekerja menjadi ibadah, ibadah melahirkan akhlak, dan seluruh hidupnya menjadi perjalanan menuju ridha Allah.
"Bukan banyaknya pekerjaan yang menjauhkan seorang hamba dari Allah, tetapi hati yang lalai. Dan bukan sedikitnya pekerjaan yang mendekatkannya kepada Allah, tetapi hati yang selalu hadir bersama-Nya."
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal, dunia dan akhirat, bekerja dengan amanah serta beribadah dengan khusyuk, sehingga setiap langkah kehidupan menjadi jalan menuju keridaan-Nya. Aamiin.
Dr Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)