TintaSiyasi.id -- "Setiap syariat tanpa hakikat adalah hampa, dan setiap hakikat tanpa syariat adalah batil." (Izzuddin bin Abdussalam). Ungkapan ini merupakan kaidah penting dalam perjalanan spiritual Islam. Ia menjelaskan bahwa agama tidak cukup hanya dipahami pada aspek lahiriah (syariat) dan juga tidak cukup hanya pada aspek batiniah (hakikat). Keduanya harus berjalan seiring, sebagaimana jasad dan ruh yang saling melengkapi.
Syariat Tanpa Hakikat Adalah Hampa
Syariat adalah seluruh aturan Allah yang mengatur kehidupan manusia, seperti shalat, puasa, zakat, haji, muamalah, akhlak, dan seluruh perintah serta larangan-Nya.
Namun, jika syariat hanya menjadi rutinitas lahiriah tanpa kehadiran hati, maka ia akan kehilangan ruhnya. Shalat dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban, puasa hanya menahan lapar dan dahaga, sedekah hanya menjadi sarana mencari pujian manusia.
Allah berfirman:
"Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya."
(QS. Al-Ma'un: 4-5).
Mereka shalat secara fisik, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Oleh karena itu para ulama tasawuf mengatakan:
"Hakikat adalah ruh bagi syariat."
Tanpa ruh, jasad hanyalah tubuh yang tidak bernyawa.
Hakikat Tanpa Syariat Adalah Batil
Sebaliknya, ada orang yang mengaku telah mencapai hakikat, ma'rifat atau kedekatan dengan Allah, tetapi meremehkan syariat. Mereka merasa tidak perlu lagi shalat, tidak perlu lagi mengikuti hukum Allah karena menganggap dirinya telah sampai kepada Tuhan.
Pandangan seperti ini adalah kesesatan yang nyata. Para nabi, para sahabat, dan para wali yang paling tinggi maqamnya justru merupakan orang-orang yang paling teguh menjalankan syariat.
Tidak ada seorang pun yang lebih mengenal Allah daripada Nabi Muhammad Saw., tetapi beliau tetap shalat hingga kedua kakinya bengkak, tetap berpuasa, berzikir, dan beribadah dengan sempurna.
Hakikat yang benar akan semakin menguatkan seseorang dalam menjalankan syariat. Semakin mengenal Allah, semakin besar rasa takut, cinta, dan penghambaan kepada-Nya.
Tafsir QS Al-Qashash Ayat 88
Allah berfirman:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ
"Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah-Nya (Allah). Milik-Nyalah segala penetapan hukum, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Al-Qashash: 88).
Ayat ini merupakan salah satu fondasi terbesar dalam ilmu tauhid dan tasawuf.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa:
"Kullu syai'in halikun illa wajhah" (Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya) mengandung makna bahwa seluruh makhluk bersifat fana, sementara Allah semata yang Maha Baqa' (Kekal).
Tidak ada kekuasaan yang abadi.
Tidak ada jabatan yang abadi.
Tidak ada kekayaan yang abadi.
Tidak ada kemasyhuran yang abadi.
Bahkan alam semesta seluruhnya akan hancur ketika Allah menghendaki.
Yang kekal hanyalah Allah Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.
Hakikat Fana dalam Pandangan Tasawuf
Para ulama sufi memahami ayat ini sebagai panggilan untuk melepaskan keterikatan hati dari selain Allah. Fana bukan berarti lenyapnya wujud manusia secara fisik, melainkan lenyapnya ego, kesombongan, dan ketergantungan hati kepada makhluk.
Seorang hamba menyadari:
• Harta hanyalah titipan.
• Jabatan hanyalah amanah.
• Keluarga adalah karunia.
• Dunia hanyalah persinggahan.
Ketika kesadaran ini tumbuh, maka hati menjadi merdeka.
Ia beramal bukan karena manusia.
Ia mencintai bukan karena kepentingan.
Ia berjuang bukan karena pujian.
Semua dilakukan karena Allah semata.
Integrasi Syariat dan Hakikat
Syariat mengajarkan kita untuk sujud.
Hakikat mengajarkan kita kepada siapa kita bersujud.
Syariat mengajarkan kita berzikir.
Hakikat mengajarkan siapa yang kita ingat.
Syariat mengajarkan kita berinfak.
Hakikat mengajarkan bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah.
Maka, seorang mukmin sejati adalah orang yang menghimpun keduanya:
• Teguh dalam syariat.
• Dalam dalam hakikat.
• Lurus dalam akidah.
• Indah dalam akhlak.
• Ikhlas dalam ibadah.
Renungan
Setiap kali kita melihat dunia yang megah, ingatlah firman Allah:
"Segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah."
Ketika dipuji manusia, ingatlah bahwa pujian itu akan berlalu. Ketika memiliki harta, ingatlah bahwa semuanya akan ditinggalkan.
Ketika memperoleh kedudukan, ingatlah bahwa semuanya akan berakhir.
Namun, amal yang ikhlas karena Allah akan tetap hidup, bahkan setelah jasad terkubur di dalam tanah.
Oleh karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki syariat lahiriah tanpa membersihkan hati. Dan jangan pula mengejar pengalaman-pengalaman spiritual sambil meninggalkan syariat.
Jadilah hamba yang berjalan dengan dua sayap, yaitu syariat dan hakikat. Sebab syariat tanpa hakikat adalah hampa, dan hakikat tanpa syariat adalah batil. Ketika keduanya bersatu, seorang hamba akan sampai kepada pengenalan yang benar terhadap Allah, Sang Maha Kekal, Yang tentang-Nya Allah berfirman:
"Segala sesuatu pasti binasa kecuali Dia."
Wallahu A'lam bish-Shawab.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit