Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Prabowo Dukung Solusi Dua Negara, Jurnalis: Tidak Selayaknya Masalah Palestina Diserahkan kepada Musuh-Musuh Islam

Kamis, 04 Juni 2026 | 14:11 WIB Last Updated 2026-06-04T07:11:18Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat pidato bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Prancis pada Rabu (28/05/2026) yang kembali menyatakan dukungannya terhadap "solusi dua negara" bagi Palestina dan Israel, Jurnalis Joko Prasetyo menegaskan bahwa tidak selayaknya umat Islam menyerahkan penyelesaian masalah Palestina kepada forum internasional yang didominasi oleh Barat yang nyata-nyata memusuhi Islam.

 

“Tidak selayaknya umat Islam menyerahkan penyelesaian masalah Palestina pada forum internasional yang didominasi oleh Barat yang nyata-nyata memusuhi Islam,” tegasnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (29/05/2026).

 

Joko menyebut, Prancis sebagai salah satu pelopor solusi tersebut. “Pernyataan tersebut sekilas nampak diplomatis dan realistis. Namun, jika dilihat lebih mendalam ada persoalan mendasar yang layak dikritisi,” ujarnya.

 

"Mengapa umat Islam terus menggantungkan penyelesaian Palestina kepada Barat dan forum internasional yang sejak awal justru ikut menopang eksistensi Zionisme?" katanya

 

Menurutnya, "solusi dua negara" bukanlah solusi yang benar-benar menyelesaikan penjajahan, karena pada praktiknya konsep itu justru mengakui eksistensi entitas Zionis di tanah Palestina secara permanen.

 

"Penjajahan tidak dihapus, melainkan dinegosiasikan agar tampak legal dan dapat diterima dunia internasional," tegasnya.

 

"Masalah Palestina bukan sekadar konflik perbatasan atau sengketa wilayah biasa. Ini adalah persoalan penjajahan atas negeri kaum Muslim yang berlangsung puluhan tahun dengan dukungan kekuatan global," bebernya.

 

Lebih lanjut lagi, jurnalis yang biasa disapa Om Joy, menuturkan tentang rekam jejak Prancis yang mendukung eksistensi Israel.

 

“Sejarah mencatat bahwa Prancis menjadi negara pemasok utama persenjataan dan teknologi nuklir  bagi Israel pada masa awal berdirinya negara Zionis. Bahkan, hingga hari ini pun negara Barat, termasuk Prancis, tetap menjaga hubungan diplomatik, ekonomi, dan strategis dengan Israel,” bebernya.

 

"Barat berbicara HAM, tetapi genosida terus terjadi. Barat mengaku membela kemanusiaan, tetapi veto dan perlindungan politik terhadap Zionis tetap berjalan," ungkapnya.

 

Memuji-muji Prancis sebagai salah satu negara pelopor solusi sungguh kontradiksi dengan fakta bahwa Prancis, yang menurutnya, di bawah kepemimpinan Macron telah beberapa kali melahirkan kebijakan yang melecehkan dan mencederai Islam dan kaum Muslim.

 

“Selama kepemimpinannya, Macron juga telah mendukung karikatur penghinaan terhadap nabi Muhammad saw., membuat kebijakan pelarangan hijab, hingga penutupan sejumlah organisasi dan masjid,” ujarnya.

 

Apalagi jika menoleh sejarah panjang kolonialisme Prancis di negeri-negeri Muslim, Om Joy menyatakan, bisa melihat bahwa sikap Barat, termasuk Prancis, tidak akan berubah, mereka tetaplah penjajah.

 

Om Joy juga mengungkapkan keheranannya ketika umat Islam masih berharap kepada penjajah. "Mengapa umat terus berharap kepada pihak yang menjadi bagian dari masalah?" herannya.

 

"Inilah problem politik hari ini. Negeri-negeri Muslim didorong untuk percaya nasib Palestina hanya bisa diselesaikan lewat meja diplomasi internasional, resolusi PBB, dan restu negara-negara besar. Akibatnya, umat kehilangan kepercayaan pada kekuatan politiknya sendiri," imbuhnya.

 

Ia juga mengingatkan kita bahwa akar persoalan terbesar umat adalah tercerai-berainya dunia Islam dalam sekat-sekat nasionalisme.

 

“Hal ini mengakibatkan pandangan umat terhadap Palestina dipersempit menjadi urusan satu bangsa, satu wilayah, atau satu negara kecil yang berhadapan dengan kekuatan global,” sesalnya.

 

Maka, menurutnya, selama umat masih menggantungkan pembebasan Palestina kepada sistem internasional yang dibangun dan dikendalikan oleh kekuatan besar dunia, Palestina kemungkinan akan terus dinegosiasikan. “Bukan benar-benar dibebaskan,” tandasnya.

 

"Palestina membutuhkan persatuan politik umat yang mampu membebaskan negeri-negeri Muslim dari dominasi asing dan menghentikan penjajahan secara hakiki melalui Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah yang berdiri di atas tauhid dan menerapkan Islam secara kaffah," pungkasnya.[] Ni'matul Afiah

Opini

×
Berita Terbaru Update