“Tidak selayaknya umat Islam
menyerahkan penyelesaian masalah Palestina pada forum internasional yang
didominasi oleh Barat yang nyata-nyata memusuhi Islam,” tegasnya kepada TintaSiyasi.ID,
Jumat (29/05/2026).
Joko menyebut, Prancis sebagai
salah satu pelopor solusi tersebut. “Pernyataan tersebut sekilas nampak
diplomatis dan realistis. Namun, jika dilihat lebih mendalam ada persoalan
mendasar yang layak dikritisi,” ujarnya.
"Mengapa umat Islam terus
menggantungkan penyelesaian Palestina kepada Barat dan forum internasional yang
sejak awal justru ikut menopang eksistensi Zionisme?" katanya
Menurutnya, "solusi dua
negara" bukanlah solusi yang benar-benar menyelesaikan penjajahan, karena
pada praktiknya konsep itu justru mengakui eksistensi entitas Zionis di tanah
Palestina secara permanen.
"Penjajahan tidak dihapus,
melainkan dinegosiasikan agar tampak legal dan dapat diterima dunia
internasional," tegasnya.
"Masalah Palestina bukan
sekadar konflik perbatasan atau sengketa wilayah biasa. Ini adalah persoalan
penjajahan atas negeri kaum Muslim yang berlangsung puluhan tahun dengan
dukungan kekuatan global," bebernya.
Lebih lanjut lagi, jurnalis yang
biasa disapa Om Joy, menuturkan tentang rekam jejak Prancis yang mendukung
eksistensi Israel.
“Sejarah mencatat bahwa Prancis
menjadi negara pemasok utama persenjataan dan teknologi nuklir bagi
Israel pada masa awal berdirinya negara Zionis. Bahkan, hingga hari ini pun
negara Barat, termasuk Prancis, tetap menjaga hubungan diplomatik, ekonomi, dan
strategis dengan Israel,” bebernya.
"Barat berbicara HAM, tetapi
genosida terus terjadi. Barat mengaku membela kemanusiaan, tetapi veto dan
perlindungan politik terhadap Zionis tetap berjalan," ungkapnya.
Memuji-muji Prancis sebagai salah
satu negara pelopor solusi sungguh kontradiksi dengan fakta bahwa Prancis, yang
menurutnya, di bawah kepemimpinan Macron telah beberapa kali melahirkan
kebijakan yang melecehkan dan mencederai Islam dan kaum Muslim.
“Selama kepemimpinannya, Macron
juga telah mendukung karikatur penghinaan terhadap nabi Muhammad saw., membuat
kebijakan pelarangan hijab, hingga penutupan sejumlah organisasi dan masjid,”
ujarnya.
Apalagi jika menoleh sejarah
panjang kolonialisme Prancis di negeri-negeri Muslim, Om Joy menyatakan, bisa
melihat bahwa sikap Barat, termasuk Prancis, tidak akan berubah, mereka
tetaplah penjajah.
Om Joy juga mengungkapkan
keheranannya ketika umat Islam masih berharap kepada penjajah. "Mengapa
umat terus berharap kepada pihak yang menjadi bagian dari masalah?" herannya.
"Inilah problem politik hari
ini. Negeri-negeri Muslim didorong untuk percaya nasib Palestina hanya bisa
diselesaikan lewat meja diplomasi internasional, resolusi PBB, dan restu
negara-negara besar. Akibatnya, umat kehilangan kepercayaan pada kekuatan politiknya
sendiri," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan kita bahwa
akar persoalan terbesar umat adalah tercerai-berainya dunia Islam dalam
sekat-sekat nasionalisme.
“Hal ini mengakibatkan pandangan
umat terhadap Palestina dipersempit menjadi urusan satu bangsa, satu wilayah,
atau satu negara kecil yang berhadapan dengan kekuatan global,” sesalnya.
Maka, menurutnya, selama umat
masih menggantungkan pembebasan Palestina kepada sistem internasional yang
dibangun dan dikendalikan oleh kekuatan besar dunia, Palestina kemungkinan akan
terus dinegosiasikan. “Bukan benar-benar dibebaskan,” tandasnya.
"Palestina membutuhkan
persatuan politik umat yang mampu membebaskan negeri-negeri Muslim dari
dominasi asing dan menghentikan penjajahan secara hakiki melalui Khilafah
'ala Minhajin Nubuwwah yang berdiri di atas tauhid dan menerapkan Islam
secara kaffah," pungkasnya.[] Ni'matul Afiah