Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Negeri Viral Tanpa Nalar: Ketika Kebodohan Dipuja, Kapitalisme Menjadikan Rakyat Mudah Dikendalikan

Selasa, 26 Mei 2026 | 14:19 WIB Last Updated 2026-05-26T07:19:54Z

TintaSiyasi.id -- Fenomena tokoh-tokoh absurd yang viral di media sosial bukan sekadar hiburan. Di balik gelak tawa publik, tersimpan krisis serius: rusaknya pola pikir masyarakat akibat sistem sekuler kapitalistik. Sosok yang mengaku bertemu malaikat, menjadi penjaga neraka, atau memiliki karamah palsu justru mendapat panggung luas. Sebagian masyarakat bahkan mempercayainya, sementara sebagian pejabat ikut memberi legitimasi dan fasilitas.

Ini bukan sekadar persoalan individu aneh, tetapi cermin krisis akal dalam masyarakat.

Akar masalahnya adalah sekularisasi yang memisahkan agama dari fungsi akal, serta kapitalisme yang menjadikan popularitas sebagai komoditas. Dalam sistem ini, ukuran bukan lagi benar atau salah, tetapi viral atau tidak. Sensasi diperdagangkan, absurditas menjadi hiburan, dan kebodohan menghasilkan keuntungan.

Akibatnya, masyarakat dibentuk menjadi massa yang mudah dimanipulasi. Budaya “mob mentality” membuat orang kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Sesuatu dianggap benar hanya karena ramai pengikutnya.

Allah SWT berfirman:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (TQS. Al-An’am: 116)

Islam justru membangun peradaban di atas akal dan argumentasi. Ketika Nabi Ibrahim AS menghadapi kaumnya yang menyembah berhala, beliau mengajak mereka berpikir kritis:

“Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (TQS. Al-Anbiya: 52)

Kaumnya menjawab:

“Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (TQS. Al-Anbiya: 53)

Jawaban ini menunjukkan pola pikir taklid tanpa logika. Islam menolak sikap mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Karena itu Al-Qur’an berkali-kali bertanya:

“Afala ta’qilun?” Tidakkah kalian berpikir?
“Afala tatafakkarun?” Tidakkah kalian merenung?

Namun sistem sekuler kapitalistik justru merusak fungsi akal. Pendidikan diarahkan hanya untuk mengejar pekerjaan dan materi, bukan membangun pola pikir benar. Media dipenuhi konten sensasional demi klik dan iklan. Tokoh viral lebih dihargai daripada ulama dan ilmuwan.

Akibatnya masyarakat mudah percaya pada manipulasi dan pseudoagama. Agama dipakai sekadar pelarian instan tanpa pemikiran mendalam. Ketika tertipu disebut “hipnotis”, ketika bangunan roboh dianggap “takdir”, tanpa mengkaji sebab dan kelalaian manusia.

Padahal Islam mengajarkan ikhtiar dan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang Arab Badui yang meninggalkan untanya tanpa diikat:

“Ikatlah untamu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa tawakal tidak boleh mematikan akal dan usaha.

Kapitalisme juga melahirkan industri kebodohan. Orang absurd dipromosikan karena mendatangkan traffic, uang, dan popularitas. Semakin aneh, semakin viral. Akhirnya masyarakat terbiasa mengidolakan kebodohan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan munculnya kebodohan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang lebih berbahaya, negara dalam sistem sekuler kapitalistik sering membiarkan bahkan memfasilitasi fenomena ini selama menguntungkan politik dan menghibur massa. Negara kehilangan fungsi mendidik rakyat dan lebih sibuk menjaga citra.

Padahal dalam Islam, negara wajib menjaga akal rakyat (hifzhul ‘aql). Karena itu Islam mengharamkan segala yang merusak akal seperti khamr, judi, narkoba, dan manipulasi.

Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dari setan, maka jauhilah.” (TQS. Al-Ma’idah: 90)

Islam juga mewajibkan amar makruf nahi mungkar untuk menjaga masyarakat dari kesesatan massal. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, jika tidak mampu maka dengan hati, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Karena itu solusi Islam terhadap krisis akal harus menyeluruh: membangun pendidikan berbasis akidah Islam yang melatih pola pikir kritis, menghentikan budaya mempopulerkan kebodohan, dan menghadirkan negara yang menjaga akal rakyat dari manipulasi dan industri kesesatan.

Islam datang bukan untuk mematikan akal, tetapi membebaskan manusia dari kebodohan, taklid buta, dan manipulasi. Selama masyarakat hidup dalam sistem sekuler kapitalistik yang menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran, maka industri kebodohan akan terus tumbuh.

Sudah saatnya umat kembali menjadikan Islam sebagai fondasi berpikir agar lahir masyarakat yang cerdas, kritis, dan berilmu, bukan masyarakat yang mudah dipermainkan sensasi dan manipulasi.

Wallaahu a’lam bishshawab.

Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd
Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan

Opini

×
Berita Terbaru Update