TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo, yang akrab disapa Om Joy, mengkhawatirkan rencana Bandara Kertajati yang akan dijadikan bengkel pesawat Hercules milik Amerika Serikat, jika hari ini jadi bengkel Hercules, maka besok-besok jadi pangkalan militer AS.
“Hari ini jadi bengkel Hercules, besok-besok
jadi pengkalan militer AS,” ujarnya kepada TintaSiyasi.ID, Kamis (29/05/2026).
“Ini bukan sekadar proyek teknis
biasa. Dan proyek ini sulit dipisahkan dari arah integrasi strategis yang
perlahan memasukkan Indonesia ke orbit pertahanan AS melalui skema kerja sama
MDCP (Major Defense Cooperation Partnership/Kemitraan Kerja Sama
Pertahanan Utama),” ungkapnya.
Ia mengungkapkan dalam wawancara
dengan penulis untuk tabloid Media Umat beberapa waktu lalu, yaitu bersama
Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana menyebut , MDCP sebagai langkah
sistematis AS untuk “mengunci” Indonesia agar kompatibel dengan doktrin perang
Washington.
“Akibatnya, Indonesia berpotensi
dijadikan garis depan (frontline state dalam konflik geopolitik AS
melawan Cina di kawasan Indo-Pasifik.
Semua dibungkus istilah manis: penguatan kapasitas, pelatihan, dan
interoperabilitas. Itulah pintu jebakan ketergantungan (dependency trap),”
ujarnya mengutip analisis Budi Mulyana.
Selain itu, lanjut Om Joy,
penguatan kapasitas membuat alutsista dan rantai pasok militer bergantung pada
vendor AS, termasuk pelatihan membentuk cara pandang perwira agar selaras
dengan kepentingan Washington. “Sedangkan interoperabilitas membuka peluang
sistem pertahanan Indonesia dipantau dan diintegrasikan dengan sistem militer
AS,” lugasnya.
“Kasarnya, ini bukan sekadar
kerja sama. Ini proses masuknya pengaruh strategis asing secara perlahan. Lebih
berbahaya lagi jika akses udara militer AS benar-benar dibuka. Indonesia bisa
berubah menjadi pangkalan operasi (staging around) militer Amerika
sekaligus target serangan balik rival geopolitiknya,” tegas Om Joy.
Islam Menjaga Kedaulatan
Dalam perspektif Islam, Om Joy
menjelaskan bahwa penguasa wajib menjaga kedaulatan umat dan menutup pintu
dominasi asing atas negeri Muslim.
“Penguasa itu wajib menjaga
kedaulatan umat dan menutup pintu dominasi asing atas negeri Muslim. Allah Swt.
berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.’,” bebernya menukil
Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 141.
Om Joy menambahkan, penjelasan
dari pendapat Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah menjelaskan,
salah satu kewajiban utama penguasa adalah menjaga wilayah dan umat dari
ancaman pihak yang memusuhi kaum Muslim.
Dengan demikian, AS, dengan rekam
jejak intervensi dan agresinya terhadap negeri-negeri Muslim, termasuk negara
yang secara nyata memerangi Islam (darul harbi fi’lan) dalam Islam,
penguasa haram membuka jalan dominasi musuh atas negeri Muslim.
“Solusi hakiki bukan sekadar
revisi perjanjian atau ganti elite politik, melainkan perubahan sistem menuju
penerapan Islam kaffah dalam institusi khilafah,” sarannya.
Sebab, lanjutnya, khilafah
bertugas menjaga negeri-negeri Muslim tetap mandiri, menutup pintu hegemoni
asing, serta membangun kekuatan politik, ekonomi, dan militer berdasarkan
syariat Islam.
“Umat ini tidak butuh penguasa
yang pandai membuka pintu bagi militer asing. Umat membutuhkan kepemimpinan
Islam yang berani menjaga kemuliaan dan kedaulatan kaum Muslim,” pungkasnya.[] M.
Siregar