Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: Hari Ini Jadi Bengkel Hercules, Besok-Besok Jadi Pengkalan Militer AS

Rabu, 03 Juni 2026 | 10:14 WIB Last Updated 2026-06-03T03:14:10Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo, yang akrab disapa Om Joy, mengkhawatirkan rencana Bandara Kertajati yang akan dijadikan bengkel pesawat Hercules milik Amerika Serikat, jika hari ini jadi bengkel Hercules, maka besok-besok jadi pangkalan militer AS.

 

“Hari ini jadi bengkel Hercules, besok-besok jadi pengkalan militer AS,” ujarnya kepada TintaSiyasi.ID, Kamis (29/05/2026).

 

“Ini bukan sekadar proyek teknis biasa. Dan proyek ini sulit dipisahkan dari arah integrasi strategis yang perlahan memasukkan Indonesia ke orbit pertahanan AS melalui skema kerja sama MDCP (Major Defense Cooperation Partnership/Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama),” ungkapnya.

 

Ia mengungkapkan dalam wawancara dengan penulis untuk tabloid Media Umat beberapa waktu lalu, yaitu bersama Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana menyebut , MDCP sebagai langkah sistematis AS untuk “mengunci” Indonesia agar kompatibel dengan doktrin perang Washington.

 

“Akibatnya, Indonesia berpotensi dijadikan garis depan (frontline state dalam konflik geopolitik AS melawan Cina di kawasan Indo-Pasifik.  Semua dibungkus istilah manis: penguatan kapasitas, pelatihan, dan interoperabilitas. Itulah pintu jebakan ketergantungan (dependency trap),” ujarnya mengutip analisis Budi Mulyana.

 

Selain itu, lanjut Om Joy, penguatan kapasitas membuat alutsista dan rantai pasok militer bergantung pada vendor AS, termasuk pelatihan membentuk cara pandang perwira agar selaras dengan kepentingan Washington. “Sedangkan interoperabilitas membuka peluang sistem pertahanan Indonesia dipantau dan diintegrasikan dengan sistem militer AS,” lugasnya.

 

“Kasarnya, ini bukan sekadar kerja sama. Ini proses masuknya pengaruh strategis asing secara perlahan. Lebih berbahaya lagi jika akses udara militer AS benar-benar dibuka. Indonesia bisa berubah menjadi pangkalan operasi (staging around) militer Amerika sekaligus target serangan balik rival geopolitiknya,” tegas Om Joy.

 

Islam Menjaga Kedaulatan

 

Dalam perspektif Islam, Om Joy menjelaskan bahwa penguasa wajib menjaga kedaulatan umat dan menutup pintu dominasi asing atas negeri Muslim.

 

“Penguasa itu wajib menjaga kedaulatan umat dan menutup pintu dominasi asing atas negeri Muslim. Allah Swt. berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.’,” bebernya menukil Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 141.

 

Om Joy menambahkan, penjelasan dari pendapat Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah menjelaskan, salah satu kewajiban utama penguasa adalah menjaga wilayah dan umat dari ancaman pihak yang memusuhi kaum Muslim.

 

Dengan demikian, AS, dengan rekam jejak intervensi dan agresinya terhadap negeri-negeri Muslim, termasuk negara yang secara nyata memerangi Islam (darul harbi fi’lan) dalam Islam, penguasa haram membuka jalan dominasi musuh atas negeri Muslim.

 

“Solusi hakiki bukan sekadar revisi perjanjian atau ganti elite politik, melainkan perubahan sistem menuju penerapan Islam kaffah dalam institusi khilafah,” sarannya.

 

Sebab, lanjutnya, khilafah bertugas menjaga negeri-negeri Muslim tetap mandiri, menutup pintu hegemoni asing, serta membangun kekuatan politik, ekonomi, dan militer berdasarkan syariat Islam.

 

“Umat ini tidak butuh penguasa yang pandai membuka pintu bagi militer asing. Umat membutuhkan kepemimpinan Islam yang berani menjaga kemuliaan dan kedaulatan kaum Muslim,” pungkasnya.[] M. Siregar

Opini

×
Berita Terbaru Update