Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Ikut Campur Urusan Allah: Antara Ikhtiar, Tawakal, dan Kemerdekaan Jiwa

Senin, 29 Juni 2026 | 04:27 WIB Last Updated 2026-06-28T21:27:28Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan

Salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Kita ingin mengatur masa depan, memastikan rezeki, menjamin keselamatan, menguasai hati manusia, bahkan menentukan kapan dan bagaimana kebahagiaan harus datang. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan rencana, lahirlah kecemasan, kemarahan, putus asa, dan pemberontakan batin terhadap takdir.
Dalam tradisi tasawuf, para ulama menyebut keadaan ini sebagai bentuk su'ul adab ma'Allah (kurang beradab kepada Allah). Bukan karena manusia berusaha, melainkan karena ia ingin mengambil alih wilayah yang bukan menjadi haknya.

Karena itu, Ibnu Athaillah as-Sakandari mengajarkan sebuah hikmah yang sangat mendalam: "Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan. Apa yang telah diurus oleh selain dirimu untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya."

Kalimat ini bukan seruan untuk bermalas-malasan. Bukan pula ajakan meninggalkan usaha. Hikmah ini adalah deklarasi pembebasan jiwa dari perbudakan kecemasan terhadap sesuatu yang memang tidak berada dalam kekuasaannya.

Ideologi Tauhid: Siapa Pengatur Alam Semesta?

Akar seluruh ajaran Islam adalah tauhid.
Tauhid bukan sekadar mengakui bahwa Allah ada. Bahkan orang-orang musyrik Arab dahulu pun mengakui keberadaan Allah.

Tauhid yang sejati adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur:
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah."

Manusia sering mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari ia bertindak seolah dirinya adalah pengatur utama kehidupan. Ketika rezeki seret, ia panik. Ketika usaha gagal, ia putus asa. Ketika kehilangan sesuatu, ia merasa dunianya runtuh. Mengapa? 

Karena secara tidak sadar ia telah memindahkan pusat ketergantungan dari Allah kepada sebab-sebab dunia. Padahal sebab hanyalah alat. Yang menentukan hasil adalah Allah. Dalam ideologi tauhid Islam, sebab tidak pernah berdiri sendiri. 

Api tidak membakar dengan kekuatannya sendiri. Air tidak menghilangkan dahaga dengan kemampuannya sendiri. Obat tidak menyembuhkan dengan kehendaknya sendiri. Semua bergerak karena izin Allah. Ketika seseorang memahami hal ini, ia mulai terbebas dari penyembahan terhadap sebab-sebab dunia.

Kesalahan Besar: Mengira Rezeki Berasal dari Makhluk
Mayoritas manusia bekerja seolah rezeki berasal dari perusahaan. Sebagian mengira rezeki berasal dari jabatan. Sebagian mengira rezeki berasal dari pelanggan. Sebagian mengira rezeki berasal dari pasar. Padahal semua itu hanyalah perantara. Sumber rezeki tetap Allah. Karena itu para sufi mengatakan: "Jangan melihat tangan yang memberi. Lihatlah Dzat yang menggerakkan tangan itu." 

Jika seorang pegawai mengira gajinya berasal dari bosnya, maka ia akan takut kepada bos melebihi takutnya kepada Allah. Jika seorang pedagang mengira rezekinya berasal dari pembeli, maka ia akan rela menghalalkan segala cara demi mempertahankan pelanggan. Jika seorang pejabat mengira kekuasaannya berasal dari manusia, maka ia akan menggadaikan prinsip demi mempertahankan jabatan. Inilah bentuk syirik yang sangat halus: ketergantungan hati kepada selain Allah.

Tawakal Bukan Pasrah

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap tasawuf identik dengan kemalasan. Padahal para ulama tasawuf justru menekankan kerja keras. Tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal adalah meninggalkan ketergantungan kepada usaha. Ada perbedaan besar antara keduanya. 

Orang malas tidak bekerja karena berharap hasil datang sendiri. Orang bertawakal bekerja keras karena menaati perintah Allah, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya. Orang malas meninggalkan sebab. Orang bertawakal menggunakan sebab. Namun hatinya tidak bergantung kepada sebab. Karena itu, para nabi adalah manusia yang paling bertawakal sekaligus paling aktif berikhtiar. 

Mereka berdagang, bertani, menggembala, berperang, berdakwah, membangun masyarakat, dan memimpin umat. Tasawuf yang benar tidak pernah memusuhi kerja. Tasawuf hanya memusuhi ketergantungan hati kepada kerja.

Mengapa Manusia Selalu Gelisah?

Secara sufistik, kegelisahan lahir karena jiwa ingin menjadi tuhan kecil. Ia ingin mengetahui masa depan. Ia ingin mengendalikan hasil. Ia ingin memastikan seluruh rencana berjalan sesuai kehendaknya. Padahal manusia diciptakan sebagai hamba. 

Tugas hamba adalah taat. Tugas Tuhan adalah mengatur. Ketika hamba ingin mengambil peran Tuhan, lahirlah kegelisahan. Karena ia sedang berusaha melakukan sesuatu yang mustahil. Tidak ada manusia yang mampu mengendalikan seluruh variabel kehidupan. Bahkan satu detak jantung pun berada di luar kendalinya. Maka semakin seseorang ingin mengontrol segala sesuatu, semakin besar kecemasannya. Sebaliknya, semakin ia menyerahkan urusan kepada Allah, semakin damai hatinya.

Lauh Mahfuzh dan Keterbatasan Manusia

Dalam akidah Islam terdapat konsep tentang catatan ketetapan Allah yang sering disebut sebagai Lauh Mahfuzh. Maknanya adalah bahwa ilmu Allah meliputi seluruh masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tidak ada sesuatu yang luput dari pengetahuan-Nya. Sementara manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari realitas. 

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi lima menit lagi. Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui esok hari. Kita tidak tahu rezeki dari pintu mana yang akan datang. Maka betapa anehnya jika manusia yang pengetahuannya sangat terbatas merasa mampu mengatur hidup lebih baik daripada Allah Yang Maha Mengetahui. Dalam pandangan sufi, ketenangan lahir ketika seseorang menerima kenyataan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahuinya.

Rezeki dan Kehormatan Seorang Mukmin
Ketakutan terhadap rezeki sering kali membuat manusia kehilangan kehormatan dirinya. Ia berbohong demi uang. Ia menjilat demi jabatan. Ia mengkhianati prinsip demi keuntungan. Padahal yang berpindah hanyalah harga dirinya, bukan takdir rezekinya. Apa yang telah Allah tetapkan tidak akan tertukar. Dan apa yang bukan menjadi bagian seseorang tidak akan sampai kepadanya.

Pemahaman ini melahirkan keberanian moral. Seseorang tidak lagi mudah dibeli. Tidak mudah diintimidasi. Tidak mudah diperbudak oleh manusia. Karena ia sadar bahwa seluruh makhluk hanyalah alat dalam genggaman Allah. Inilah dimensi ideologis dari tawakal. Tawakal melahirkan kemerdekaan. Orang yang hanya takut kepada Allah tidak akan tunduk kepada tirani manusia.

Jangan Menyembah Masa Depan
Banyak orang hidup bukan untuk hari ini, melainkan untuk masa depan yang belum tentu ada. Mereka mengorbankan ibadah demi karier. Mengorbankan keluarga demi ambisi. Mengorbankan kesehatan demi harta. Mengorbankan ketenangan demi kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. 

Tasawuf mengajarkan keseimbangan. Bekerjalah untuk masa depan. Tetapi jangan menyembah masa depan. Rencanakan hidup. Tetapi jangan mempertuhankan rencana. Sebab masa depan berada dalam genggaman Allah. Yang dimiliki manusia hanyalah saat ini.

Buah Tawakal yang Sejati
Ketika tauhid telah meresap ke dalam hati, akan muncul beberapa keadaan:
Pertama, ketenangan. Hati tidak lagi mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Kedua, keberanian. Karena tidak takut kehilangan sesuatu yang memang bukan miliknya.
Ketiga, keikhlasan. Karena bekerja demi Allah, bukan demi pujian manusia.
Keempat, syukur. Karena melihat setiap pemberian sebagai karunia Allah.
Kelima, ridha. Karena memahami bahwa pilihan Allah selalu lebih luas daripada pemahaman manusia.

Penutup: Menjadi Hamba, Bukan Pengatur
Hakikat tasawuf bukanlah melarikan diri dari dunia. Hakikat tasawuf adalah mengembalikan setiap sesuatu ke tempatnya. Allah sebagai Pengatur. Manusia sebagai hamba. Allah sebagai Penentu. Manusia sebagai pelaksana ikhtiar. Allah sebagai Pemilik hasil. Manusia sebagai penanggung jawab usaha.nSaat kedudukan ini dipahami, hidup menjadi ringan.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan. Kita tetap mencari rezeki, tetapi tidak diperbudak rezeki. Kita tetap membuat rencana, tetapi tidak diperbudak rencana. Kita tetap mencintai dunia, tetapi tidak menjadikannya tuhan. Maka makna terdalam dari hikmah Ibnu Athaillah bukanlah berhenti berusaha, melainkan berhenti menyaingi Allah dalam urusan pengaturan. Sebab ketika seorang hamba rela menjadi hamba, saat itulah ia menemukan kebebasan yang sesungguhnya.

Berusahalah sekuat tenaga. Beribadahlah sepenuh jiwa. Lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Karena tugas manusia adalah mengetuk pintu, sedangkan yang membuka pintu adalah Allah semata.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update