Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ummu Sulaim: Keteguhan Iman Seorang Ibu yang Mengubah Sejarah

Selasa, 05 Mei 2026 | 18:57 WIB Last Updated 2026-05-05T11:57:16Z
TintaSiyasi.id -- Di tengah hiruk pikuk kehidupan Madinah pada masa awal Islam, hiduplah seorang wanita mulia yang namanya masih dikenang hingga saat ini yakni Ummu Sulaim binti Milhan bin Zaid bin Haram bin Jundub Al-Anshariyah (Untuk nama aslinya masih diperselisihkan, ada yang mendefinisikan Sahlah, Ramilah, Ramishah, atau Malikah, Al-Ghumaisha atau Rumaisha). Wanita pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar ini bukan sekadar ibu, tapi juga seorang pejuang iman, pendidik generasi, dan teladan kesabaran yang luar biasa.

Ummu Sulaim, termasuk wanita pertama di Madinah yang menyambut dakwah Nabi Muhammad SAW dengan hati terbuka. Saat banyak orang masih ragu, ia telah lebih dahulu mantap dalam keimanan. Pilihannya untuk memeluk Islam bukan tanpa ujian, namun penuh tantangan. Suaminya saat itu, Malik bin Nadhar, menolak keras keputusannya hingga akhirnya meninggalkan keluarga. Namun, semua itu tidak menggoyahkan keyakinannya.

Di tengah ujian tersebut, Ummu Sulaim tidak hanya menjaga imannya sendiri, tetapi juga menanamkan tauhid dalam hati anaknya, Anas bin Malik. Ia mendidik Anas dengan penuh kesungguhan hingga tumbuh menjadi anak yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu momen paling menggetarkan ketika Ummu Sulaim membawa Anas yang masih kecil sekitar usia 10 tahun kepada Rasulullah SAW. Dengan penuh harap dan keikhlasan, ia menyerahkan putranya untuk mengabdi pada Nabi. Ia tidak meminta balasan dunia, tetapi berharap tumbuh di bawah bimbingan manusia terbaik. 

Dari sini, Anas bin Malik kemudian menjadi sahabat besar dan perawi hadits yang ilmunya mengantarkan umat hingga kini. Pada masa itu, dari 130 penghafal hadits, Anas bin Malik berada di urutan ketiga dengan hafalan 2286 hadits. 

Keteguhan iman Ummu Sulaim kembali terlihat ketika Abu Thalhah melamarnya. Saat itu Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik dan dikenal sebagai orang terpandang serta kaya. Namun Ummu Sulaim menolak lamaran tersebut dengan tegas, seraya mengatakan, seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki musyrik. Ia bahkan menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahan. Betapa tingginya nilai iman di jantung, hingga mengalahkan segala gemerlap dunia.


Ternyata Abu Thalhah pun menyetujui syarat tersebut dan menikahi Ummu Sulaim dan ia pun masuk Islam. Setelah menikah, kehidupan mereka terpenuhi keberkahan. Namun, ujian tetap datang. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah pun mengalaminya ketika putra mereka, Abu 'Umair, wafat saat ayahnya tidak berada di rumah. Ummu Sulaim merawat anaknya hingga akhir, lalu menahan kabar duka itu hingga ia sendiri yang menyampaikannya dengan penuh ketenangan, bukan karena tanpa sedih, tetapi karena kuatnya iman.

Saat suami pulang, ia melayaninya seperti biasa, lalu dengan lembut berkata, “Jika sesuatu yang dipinjam diambil kembali, bukankah harus kita relakan?” Abu Thalhah menyetujuinya, lalu kemudian ia menyampaikan anak mereka telah wafat.

Abu Thalhah pun mengadukan hal ini kepada Nabi Muhammad. Namun Rasulullah SAW justru mendoakan keberkahan bagi keduanya. Dari kesabaran itu, Allah mengganti kehilangan mereka dengan keturunan yang diberkahi. Atas izin Allah SWT melalui doa Rasulullah SAW, akhirnya Ummu Sulaim pun hamil. Setelah melahirkan, sang anak pun diberi nama Abdullah bin Thalhah. Diriwayatkan, Abdullah bin Thalhah ini kelak akan memiliki anak-anak yang saleh dan semuanya hafal Al-Qur'an.

Tak hanya dalam keluarga, Ummu Sulaim juga ikut mengambil bagian dalam perjuangan Islam. Ia ikut serta dalam beberapa peperangan, membantu para mujahid dengan menyediakan air dan merawat yang terluka. 

Dalam peristiwa Perang Hunain, ia bahkan terlihat membawa belati sebagai bentuk kesiapan membela diri dan agama. Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dengan sanad yang shahih, Ummu Sulaim membawa khanjar (semisal pisau) saat Perang Hunain. Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim membawa khanjar.” Rasulullah SAW bertanya, “Untuk apa khanjar itu”? Ummu Sulaim menjawab, “Aku membawa kalau-kalau ada seorang musyrik yang mendekatiku. Akan kuhujamkan ini di perut.”

Itulah sepenggal kisah kehidupan Ummu Sulaim sebagai cermin kekuatan seorang wanita tidak hanya terletak pada kelembutannya, tetapi juga pada keteguhan imannya. Ia adalah bukti seorang ibu dapat melahirkan generasi besar, seorang istri dapat menjadi penopang perjuangan suami, dan seorang Muslimah dapat menjadi bagian penting dari kebangkitan umat.

Ummu Sulaim wafat di Madinah (sekitar 40 hijriyah atau sekitar 650 M), meninggalkan warisan yang tak bernilai yakni iman yang kokoh, kesabaran dalam ujian, dan kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Kisahnya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cahaya yang terus mencapai jalan bagi setiap Muslimah yang ingin meniti jejak kejayaan.[] Referensi berbagai sumber

Oleh: Siti Aisyah, S.Sos. Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Opini

×
Berita Terbaru Update