TintaSiyasi.id -- Banyak manusia mengukur sukses dari apa yang tampak di mata dunia:
* banyaknya harta,
* tingginya jabatan,
* luasnya usaha,
* terkenalnya nama,
* dan megahnya kehidupan.
Padahal tidak sedikit orang yang terlihat sukses di luar, tetapi hancur di dalam. Senyumnya tampak indah, namun hatinya lelah. Rumahnya mewah, tetapi jiwanya gelisah. Popularitasnya tinggi, tetapi hidupnya kosong dari ketenangan.
Karena sejatinya, ukuran sukses bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang apa yang dirasakan dalam hati.
Sukses sejati adalah ketika seseorang mampu merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan makna hidup di tengah perjalanan hidupnya.
Bahagia bukan berarti hidup tanpa ujian.
Bahagia adalah ketika hati tetap memiliki cahaya meski sedang menghadapi kesulitan.
Dalam pandangan spiritual Islam, kebahagiaan sejati lahir dari:
* hati yang dekat kepada Allah,
* jiwa yang penuh syukur,
* hidup yang bermanfaat,
* dan hati yang tidak diperbudak dunia.
Allah ﷻ berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
> (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketenteraman bukan dibeli dengan uang, tetapi dibangun dengan kedekatan kepada Allah.
Betapa banyak orang sederhana tetapi tidur nyenyak penuh syukur.
Dan betapa banyak orang kaya yang sulit tidur karena cemas dan takut kehilangan.
Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya dunia yang kita genggam, tetapi pada sedikitnya beban dunia di dalam hati kita.
Orang yang bahagia:
* mampu menikmati nikmat kecil,
* tidak mudah iri kepada orang lain,
* mampu bersyukur dalam keadaan sempit,
* dan tetap memiliki harapan kepada Allah.
Sedangkan orang yang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain akan sulit merasa cukup, walaupun dunia diberikan kepadanya.
Maka jangan hanya mengejar kaya, tetapi kejarlah hati yang tenang.
Jangan hanya mengejar pujian manusia, tetapi kejarlah ridha Allah.
Jangan hanya membangun karier, tetapi bangun juga jiwa yang damai.
Karena pada akhirnya:
* jabatan akan ditinggalkan,
* harta akan diwariskan,
* popularitas akan dilupakan,
* tetapi ketenangan hati akan menjadi teman perjalanan hidup hingga akhir hayat.
Sukses sejati adalah ketika:
* hati masih mampu bersyukur,
* jiwa masih mampu tersenyum,
* ibadah masih terasa nikmat,
* dan hidup masih memberi manfaat bagi sesama.
Maka rawatlah hati.
Jaga hubungan dengan Allah.
Nikmati hidup dengan syukur dan kesederhanaan.
Sebab manusia paling sukses bukan yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling mampu merasakan bahagia dalam kedekatan kepada Allah ﷻ.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)