"Mengatakan desa tidak pakai
dolar sama saja mengecilkan kecerdasan rakyat dan menyederhanakan persoalan
struktural yang sangat serius. Bahkan lebih berbahaya lagi ketika pejabat
kemudian mengatakan ucapan itu sekadar untuk menghibur rakyat. Dolar menggila,
penguasa malah bercanda," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Selasa
(19/05/2026).
Ia menilai rakyat tidak
membutuhkan hiburan dari penguasa ketika ekonomi sedang terpukul, melainkan
rakyat membutuhkan kejujuran, perlindungan, serta solusi nyata.
"Dalam perspektif Islam, ini
bukan sekadar soal salah bicara. Ini menyentuh masalah amanah kekuasaan dan
cara negara memandang umat,” ujarnya.
“Pemimpin dalam Islam bukan entertainer
politik. Ia adalah ra’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung)
yang wajib berkata benar, menjelaskan keadaan secara jujur, dan mengambil
kebijakan yang melindungi rakyat dari dampak krisis," jelasnya.
Adapun, ia memandang, ucapan
tersebut lahir dari paradigma kapitalisme yang memisahkan elite penguasa dari
realitas penderitaan rakyat. “Dianggapnya rakyat desa hidup di dunia yang
berbeda dan tidak tersentuh gejolak global, padahal ketika dolar menggila,
rakyat desa justru menjadi korban paling awal dan paling telanjang.
"Petani desa membeli pupuk
yang bahan bakunya impor. Nelayan membeli solar yang harganya dipengaruhi pasar
global. Pedagang kecil membeli minyak goreng, kedelai, gula, dan kebutuhan
pokok lain yang sangat terkait kurs dolar. Ongkos transportasi naik. Harga
barang naik. Daya beli turun," bebernya.
"Jadi, meskipun rakyat desa
tidak memegang dolar, hidup mereka tetap “dijajah dolar” karena negeri ini
tunduk pada sistem ekonomi global ribawi," lanjutnya.
Pria yang akrab disapa Om Joy itu
menerangkan bahwasanya di dalam Islam, Rasulullah saw. memberi teladan berbeda.
“Rasulullah saw. tidak meninabobokan umat dengan retorika yang memutus rakyat
dari realitas,” ungkapnya.
"Ketika ada ancaman, Beliau saw.
menjelaskan ancaman itu. Ketika ada kesulitan, Beliau saw. mengajak umat
bersabar sambil menghadirkan solusi nyata. Kepemimpinan Islam dibangun di atas sidiq
(kejujuran), amanah, dan ri’ayah syu’unil ummah (pengurusan urusan
umat)," ungkapnya.
"Negara dalam Islam
semestinya berkata kira-kira seperti ini 'Benar, pelemahan mata uang akan
berdampak kepada rakyat, termasuk di desa. Kami tidak akan membiarkan rakyat
menanggung beban sendiri. Kami berkewajiban menjaga harga kebutuhan pokok, menjamin
distribusi pangan, menghentikan ketergantungan impor, dan melindungi rakyat
dari permainan pasar global'," ucapnya menambahkan.
Menurutnya, bahasa seorang
pemimpin yang benar ialah bahasa tanggung jawab, bukanlah bahasa penghibur
massa. “Seperti halnya Islam juga memberikan solusi sistemis, bukan sekadar
pencitraan komunikasi,” tegasnya.
"Berikut empat poin di
antaranya. Pertama, Islam melalui sistem pemerintahan khilafahnya
memusnahkan sistem ribawi yang menjadikan ekonomi dalam negeri tergantung pada
dolar dan pasar keuangan global," terangnya.
Kedua, Islam melalui
sistem pemerintahan khilafahnya mengelola sumber daya alam secara langsung
untuk kepentingan rakyat terutama untuk membiayai pendidikan dan kesehatan,
sehingga dapat diakses rakyat dengan sangat murah bahkan gratis, bukan
diserahkan kepada oligarki dan korporasi asing. “Dengan begitu, negara memiliki
kekuatan fiskal riil tanpa bergantung pada utang berbasis dolar,” tegasnya.
"Ketiga, Islam
melalui sistem pemerintahan khilafahnya, membangun kedaulatan pangan dan energi
secara nyata, bukan sekadar slogan politik. Tanah produktif dihidupkan,
distribusi diatur negara, mafia pangan dihancurkan, dan kebutuhan pokok dijamin
keterjangkauannya," jelasnya.
Keempat, melalui sistem
pemerintahan khilafahnya, menetapkan mata uang berbasis emas dan perak
(dinar-dirham) yang memiliki nilai intrinsik, bukan uang fiat yang mudah
dihancurkan spekulasi dan permainan pasar global.
"Jadi akar masalahnya bukan
semata ucapan pejabat yang blunder, tetapi kapitalisme dengan sistem
pemerintahan demokrasinya yang memang menjadikan politik sebagai panggung
pencitraan dan rakyat sebagai objek pengelolaan opini," keluhnya.
Dengan demikian, ia menilai
akibatnya ketika krisis datang, yang diurus pertama kali adalah persepsi
publik, bukan penderitaan publik. “Karena itu, ketika dolar menggila sementara
penguasa sibuk bercanda, semakin banyak rakyat mulai sadar, tambal sulam
retorika tidak akan menyelesaikan masalah. Sistem rusak tidak bisa melahirkan
kesejahteraan hakiki,” tandasnya.
"Udah khilafah aja! Sebab
rakyat tidak butuh penghibur istana. Rakyat butuh pemimpin yang takut kepada
Allah, jujur kepada umat, dan menerapkan sistem Islam kaffah dalam seluruh
aspek kehidupan. Allahu Akbar!" tutupnya.[] Taufan