Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ucapan Prabowo Soal Dolar Hanya Menghibur, Jurnalis: Dolar Menggila, Penguasa Malah Bercanda

Sabtu, 23 Mei 2026 | 04:47 WIB Last Updated 2026-05-22T21:47:05Z

TintaSiyasi.id -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa ucapan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut rakyat di desa tidak pakai dolar hanya untuk menghibur, menanggapi pernyataan tersebut Jurnalis Joko Prasetyo menyayangkan penguasa malah bercanda di tengah kondisi dolar yang menggila. 

 

"Mengatakan desa tidak pakai dolar sama saja mengecilkan kecerdasan rakyat dan menyederhanakan persoalan struktural yang sangat serius. Bahkan lebih berbahaya lagi ketika pejabat kemudian mengatakan ucapan itu sekadar untuk menghibur rakyat. Dolar menggila, penguasa malah bercanda," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Selasa (19/05/2026).

 

Ia menilai rakyat tidak membutuhkan hiburan dari penguasa ketika ekonomi sedang terpukul, melainkan rakyat membutuhkan kejujuran, perlindungan, serta solusi nyata.

 

"Dalam perspektif Islam, ini bukan sekadar soal salah bicara. Ini menyentuh masalah amanah kekuasaan dan cara negara memandang umat,” ujarnya.

 

“Pemimpin dalam Islam bukan entertainer politik. Ia adalah ra’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung) yang wajib berkata benar, menjelaskan keadaan secara jujur, dan mengambil kebijakan yang melindungi rakyat dari dampak krisis," jelasnya.

 

Adapun, ia memandang, ucapan tersebut lahir dari paradigma kapitalisme yang memisahkan elite penguasa dari realitas penderitaan rakyat. “Dianggapnya rakyat desa hidup di dunia yang berbeda dan tidak tersentuh gejolak global, padahal ketika dolar menggila, rakyat desa justru menjadi korban paling awal dan paling telanjang.

 

"Petani desa membeli pupuk yang bahan bakunya impor. Nelayan membeli solar yang harganya dipengaruhi pasar global. Pedagang kecil membeli minyak goreng, kedelai, gula, dan kebutuhan pokok lain yang sangat terkait kurs dolar. Ongkos transportasi naik. Harga barang naik. Daya beli turun," bebernya.

 

"Jadi, meskipun rakyat desa tidak memegang dolar, hidup mereka tetap “dijajah dolar” karena negeri ini tunduk pada sistem ekonomi global ribawi," lanjutnya.

 

Pria yang akrab disapa Om Joy itu menerangkan bahwasanya di dalam Islam, Rasulullah saw. memberi teladan berbeda. “Rasulullah saw. tidak meninabobokan umat dengan retorika yang memutus rakyat dari realitas,” ungkapnya.

 

"Ketika ada ancaman, Beliau saw. menjelaskan ancaman itu. Ketika ada kesulitan, Beliau saw. mengajak umat bersabar sambil menghadirkan solusi nyata. Kepemimpinan Islam dibangun di atas sidiq (kejujuran), amanah, dan ri’ayah syu’unil ummah (pengurusan urusan umat)," ungkapnya.

 

"Negara dalam Islam semestinya berkata kira-kira seperti ini 'Benar, pelemahan mata uang akan berdampak kepada rakyat, termasuk di desa. Kami tidak akan membiarkan rakyat menanggung beban sendiri. Kami berkewajiban menjaga harga kebutuhan pokok, menjamin distribusi pangan, menghentikan ketergantungan impor, dan melindungi rakyat dari permainan pasar global'," ucapnya menambahkan.

 

Menurutnya, bahasa seorang pemimpin yang benar ialah bahasa tanggung jawab, bukanlah bahasa penghibur massa. “Seperti halnya Islam juga memberikan solusi sistemis, bukan sekadar pencitraan komunikasi,” tegasnya.

 

"Berikut empat poin di antaranya. Pertama, Islam melalui sistem pemerintahan khilafahnya memusnahkan sistem ribawi yang menjadikan ekonomi dalam negeri tergantung pada dolar dan pasar keuangan global," terangnya.

 

Kedua, Islam melalui sistem pemerintahan khilafahnya mengelola sumber daya alam secara langsung untuk kepentingan rakyat terutama untuk membiayai pendidikan dan kesehatan, sehingga dapat diakses rakyat dengan sangat murah bahkan gratis, bukan diserahkan kepada oligarki dan korporasi asing. “Dengan begitu, negara memiliki kekuatan fiskal riil tanpa bergantung pada utang berbasis dolar,” tegasnya.

 

"Ketiga, Islam melalui sistem pemerintahan khilafahnya, membangun kedaulatan pangan dan energi secara nyata, bukan sekadar slogan politik. Tanah produktif dihidupkan, distribusi diatur negara, mafia pangan dihancurkan, dan kebutuhan pokok dijamin keterjangkauannya," jelasnya.

 

Keempat, melalui sistem pemerintahan khilafahnya, menetapkan mata uang berbasis emas dan perak (dinar-dirham) yang memiliki nilai intrinsik, bukan uang fiat yang mudah dihancurkan spekulasi dan permainan pasar global.

 

"Jadi akar masalahnya bukan semata ucapan pejabat yang blunder, tetapi kapitalisme dengan sistem pemerintahan demokrasinya yang memang menjadikan politik sebagai panggung pencitraan dan rakyat sebagai objek pengelolaan opini," keluhnya.

 

Dengan demikian, ia menilai akibatnya ketika krisis datang, yang diurus pertama kali adalah persepsi publik, bukan penderitaan publik. “Karena itu, ketika dolar menggila sementara penguasa sibuk bercanda, semakin banyak rakyat mulai sadar, tambal sulam retorika tidak akan menyelesaikan masalah. Sistem rusak tidak bisa melahirkan kesejahteraan hakiki,” tandasnya.

 

"Udah khilafah aja! Sebab rakyat tidak butuh penghibur istana. Rakyat butuh pemimpin yang takut kepada Allah, jujur kepada umat, dan menerapkan sistem Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Allahu Akbar!" tutupnya.[] Taufan

 


Opini

×
Berita Terbaru Update