Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak

Rabu, 20 Mei 2026 | 09:47 WIB Last Updated 2026-05-20T02:47:31Z

TintaSiyasi.id -- Memprihatinkan

Tren aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online kembali memakan korban jiwa. Dua anak di Lombok Timur yang masih duduk di bangku TK dan SD dilaporkan meninggal dunia akibat cedera pada bagian leher setelah meniru gerakan ekstrem yang mereka lihat dari konten digital. Aksi tersebut diduga terinspirasi dari permainan online populer seperti Garena Free Fire yang kerap menampilkan adegan penuh tantangan dan aksi berbahaya (Kumparan, 2026).

Peristiwa ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, mulai dari kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang mengimbau orang tua agar lebih ketat mengawasi penggunaan gawai, media sosial, serta tontonan anak-anak (Tribunnews, 2026). Selain itu, kasus ini memperlihatkan bahwa konten digital yang tampak sebagai hiburan dapat berubah menjadi ancaman serius ketika dikonsumsi oleh anak tanpa pendampingan yang memadai (Radar Sampit, 2026).

Rapuhnya Kontrol pada Anak

Kasus tersebut menunjukkan bahwa anak-anak masih memiliki kemampuan berpikir yang belum matang sehingga mudah meniru apa pun yang dianggap menarik tanpa memahami risiko di baliknya. Tayangan game online maupun konten viral sering dipersepsikan anak sebagai sesuatu yang menyenangkan dan aman untuk dicoba.
Psikolog anak menilai bahwa rasa penasaran yang tinggi serta kemampuan kontrol diri yang belum berkembang membuat anak rentan mengikuti tren berbahaya tanpa mempertimbangkan dampaknya (Metro TV News, 2026). Di sisi lain, kurangnya pengawasan orang tua membuat anak memiliki akses luas terhadap berbagai informasi yang belum layak mereka konsumsi.

Banyak anak menggunakan telepon genggam tanpa batas waktu maupun kontrol yang jelas. Tidak hanya itu, lemahnya kontrol lingkungan juga menjadi faktor yang memperbesar risiko. Anak-anak sering bermain sendiri tanpa pendampingan orang dewasa sehingga tindakan berbahaya terlambat dicegah. Kondisi ini diperparah oleh belum efektifnya pengawasan negara terhadap konten digital yang berpotensi membahayakan anak.

Perspektif Islam

Permasalahan ini memerlukan keterlibatan bersama antara keluarga, lingkungan, dan negara. Orang tua perlu meningkatkan pendampingan terhadap aktivitas digital anak dengan membatasi penggunaan gawai, memantau tontonan, serta membangun komunikasi yang hangat agar anak tidak mencari hiburan tanpa arah. Lingkungan sekitar juga harus lebih peduli terhadap aktivitas anak-anak dan tidak membiarkan mereka bermain tanpa pengawasan.

Dalam perspektif Islam, anak yang belum baligh membutuhkan bimbingan penuh karena akalnya belum sempurna sehingga peran orang dewasa sangat penting dalam menjaga dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Negara pun harus hadir lebih tegas dengan memperketat pengawasan terhadap konten berbahaya, memperluas edukasi literasi digital, serta menghadirkan lebih banyak tayangan yang mendidik dan aman bagi tumbuh kembang anak.

Dengan sinergi yang kuat antara keluarga, lingkungan, dan negara, anak-anak dapat tumbuh dalam ekosistem yang sehat, aman, dan mendukung terbentuknya generasi yang berakhlak baik serta terlindungi dari pengaruh negatif dunia digital.

Daftar Pustaka
Kumparan. 2026. “Bocah SD di Lombok Meninggal Usai Tiru Freestyle Game Online, Leher Patah.”
Tribunnews. 2026. “Waspada Tren Freestyle Anak TK-SD Makan Korban, Terinspirasi dari Game FF di HP.”
Radar Sampit. 2026. “Tren Freestyle Makan Korban, Dua Bocah Tewas Diduga Tiru Konten Medsos.”
Metro TV News. 2026. “Konten Viral Kerap Membahayakan Anak, Psikolog Ungkap Penyebabnya.”


Oleh: Gebi Dwi Syafitri, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update