Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sinergi Negara dan Syariat: Satu-satunya Jalan Menuju Pendidikan Beradab

Senin, 04 Mei 2026 | 08:42 WIB Last Updated 2026-05-04T01:43:05Z

TintaSiyasi.id -- Realita Pahit Dunia Pendidikan Saat ini

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dirayakan dengan penuh seremonial, namun di balik kemeriahan itu, wajah pendidikan kita justru semakin buram dan memprihatinkan. Alih-alih melahirkan kaum intelektual yang beradab, sistem pendidikan sekuler-kapitalistik saat ini seolah menjadi pabrik yang memproduksi krisis kepribadian massal—mulai dari maraknya pelecehan seksual di ruang akademik, budaya joki yang menormalisasi kecurangan, hingga jeratan narkoba di kalangan pelajar. Realitas pahit ini menjadi alarm keras bahwa ada yang salah secara fundamental dalam peta jalan pendidikan kita yang kian menjauh dari nilai-nilai ketakwaan.

Fokus utama pendidikan bergeser dari pembentukan karakter menjadi sekadar pencapaian materiil dan formalitas akademik. Akibatnya, lahir gerasi yang mengalami krisis kepribadian akut; pribadi yang cenderung liberal dalam bertindak, sekuler dalam berpikir, dan sangat pragmatis dalam mengambil keputusan. 

Sementara itu kelemahan strategi dunia pendidikan saat ini terjadi pada tiga unsur yaitu, (1) lemahnya lembaga pendidikan yang tercermin dari kacaunya kurikulum, tidak optimalnya peran dan fungsi guru. Aktifitas sekolah jauh dari tatanan Islam, (2) tidak sinerginya pendidikan sekolah dengan peran keluarga terutama orang tua dalam mengontrol, mengarahkan serta mengevaluasi anak (3) keadaan masyarakat dan negara yang tidak menjalankan fungsinya masing-masing sebagaai amar makruf nahi mungkar, Negara hadir hanya sebagai fasilitator dunia pendidikan bahkan negara hadir ikut memperparah kemunduran berpikir generasi saat ini. 

Mengagas Pendidikan Islam 

Asas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar dan mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan diantara semua komponen penyelenggara pendidikan. 

Tujuan pendidikan adalah (1) membentuk kepribadian Islam, (2) menguasai tsagofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai. Pendidikan Islam senantiatas membentuk sebuah small Islamic enviroment dalama interaksinya yang mencangkup dalam peran:

Pertama, pendidikan Sekolah pada dasarnya merupakan sebuah proses yang terorganisasi secara formal. Sinergi antara negara penyediaan pendidikan secara gratis akan membentuk sekolah yang menjalankan kurikulum berbasis aqidah islam, yang seluruh matapelajarannya sejalan dengan syariat Islam. Dimana bahasa arab menjadi pengantar diseluruh jenjang pendidikan. Semua proses ini disediakn gratis oleh negara tanpa mengurangi kualitas pendidikan itu sendiri. 

Kedua, pendidikan Keluarga adalah utama dan pertama dan dilaksanakan sepanjang hayat, karena ia menjadi peletak pondasi kepribadian anak. Keluarga adalah pembinaan bagi anak.

Ketiga, pendidikan ditengah masyarakat juga berbasis sepanjang hayat. Interaksi masyarakat bukan sekedar ungkapan sapaan semata tapi juga memberikan sikap mengontrol pelaksanaan hukum Islam dan mengoreksi tingkah laku penguasa pada masyarakat. Ketaqwaan anggota masyarakat akan dipengaruhi oleh interaksi dengan masyarakat. 

Arsitektur Akidah: Membangun Fondasi Kokoh Generasi Penakluk Peradaban Islam
konstruksi pemikiran yang berakar pada sejarah kegemilangan Islam, di mana kekuatan iman (akidah) menjadi mesin utama penggerak peradaba telah membuktikan bahwa kegemilangan pendidikan Islam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang membangun dunia tanpa melepaskan identitas sebagai hamba Allah. Berikut adalah uraian sejarahnya :

Pertama: Fondasi di Darul Arqam: Arsitektur 
Sejarah kalimat ini bermula di Mekkah, tepatnya di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Di sana, Rasulullah ﷺ bertindak sebagai "arsitek" jiwa. Beliau tidak membangun gedung, melainkan membangun akidah para sahabat. Selama 13 tahun, fokus tunggalnya adalah menanamkan tauhid yang murni. Hasilnya adalah generasi yang tidak takut pada kekuasaan duniawi (seperti Romawi dan Persia) karena akidahnya telah tuntas.

Kedua, Generasi Penakluk: Perwujudan Iman dalam Aksi
Istilah "Generasi Penakluk" merujuk pada para pemuda yang lahir dari rahim pendidikan akidah tersebut. Contoh nyata dalam sejarah, Muhammad al-Fatih: Sejak kecil, akidahnya dibangun oleh gurunya, Syekh Aaq Syamsudin, dengan keyakinan bahwa dialah pemimpin yang dimaksud dalam hadits penaklukan Konstantinopel. Inilah "arsitektur akidah" yang membuat pemuda usia 21 tahun mampu meruntuhkan tembok Bizantium yang legendaris.

Shalahuddin Al-Ayyubi: Sebelum membebaskan Al-Quds, ia terlebih dahulu menyatukan akidah umat Islam yang saat itu terpecah oleh paham-paham menyimpang. Ia sadar bahwa peradaban tidak bisa menang jika fondasi keyakinannya rapuh.

Ketiga: Zaman Keemasan (Golden Age): Akidah sebagai Dasar Iptek
Sejarah mencatat bahwa sains dan teknologi berkembang pesat saat para ilmuwan seperti Al-Khwarizmi atau Ibnu Sina memandang penelitian mereka sebagai bentuk ibadah (manifestasi akidah). Mereka menaklukkan peradaban bukan hanya dengan pedang, tapi dengan tinta dan penemuan, karena mereka yakin bahwa mencari ilmu adalah perintah Sang Pencipta.

Oleh: Putri Rahmi D.E., S.ST.
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update